My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
61. Aku, Kamu Keberatan?



"Ayah, pulang?" Tanya Tio lagi dengan suara khas anak kecil yang lembut dan kedua mata yang berbinar terang.


Tio meraih tangan Davin di atas kepalanya, menyentuhnya hati-hati seolah sedang mengkonfirmasi jika laki-laki dewasa yang berdiri di depannya saat ini adalah Davin, Ayahnya.


"Nak," Davin merasakan sensasi hangat nan manis ketika tangan mungil itu meraih tangannya.


Dia duduk berlutut, menyesuaikan tingginya dengan Tio tanpa khawatir pakaian mahalnya menjadi kotor. Saat ini di dalam pikirannya adalah dia benar-benar memiliki seorang anak dan kini sedang berdiri di depan memanggilnya sebagai Ayah dengan kedua tangan mungil menjangkau tangan besarnya.


"Apa kamu tahu aku adalah Daddy-mu?" Ada nada harapan di dalam suaranya.


Bahkan ia tidak sadar kini telah menggenggam erat tangan-tangan mungil itu tidak mau melepaskannya.


Tio tersenyum sangat lebar dengan aura manis di sekelilingnya.


"Mommy bilang Ayah adalah Ayah Tio." Davin tiba-tiba merasakan sakit bercampur perasaan melegakan.


Lega karena Rein masih berbaik hati mengenalkan Tio bahwa ia adalah Ayahnya.


Dan ia juga merasakan sakit karena setelah semua yang ia lakukan kepadanya, Rein masih punya hati nurani untuk tidak menyembunyikan fakta dari Tio bahwa ia adalah Ayahnya. Padahal 5 tahun yang ia lalui dengan Tio pasti menyakitkan, ia tahu ada lebih banyak hal buruk yang akan membuatnya jatuh menangis berkali-kali.


Namun, Davin sungguh tidak bisa melakukan apa-apa saat itu karena ia pun tidak jauh berbeda dari Rein. Ia juga menderita, sangat menderita.


"Ayah kenapa menangis?"


Ada usapan ringan di wajahnya. Davin terkejut, sontak saja ia menyentuh pipinya dan memang ada cairan hangat di sana, tapi hanya sedikit... sedikit saja.


"Pak," Adit menawarkan tissue kering.


Davin menolak. Dia adalah laki-laki dan tidak pantas menggunakan benda tipis nan transparan itu di wajahnya.


"Apalagi yang Mommy katakan kepada kamu tentang Daddy?" Tanya Davin lagi dengan suara lembut.


Tio memiringkan kepalanya terlihat sedang berpikir. Saat ini ia terlihat sangat lucu dan menggemaskan, Davin tidak tahan untuk tidak menyentuh pipi gembil nya yang lembut.


"Oh... Mommy bilang Ayah kelja di tempat yang jauuuh..jadi Tio enggak bisa ketemu sama Ayah." Cerita Tio jujur.


Rein tidak pernah mengatakan jika Davin meninggalkan mereka atau membuang mereka, setiap kali Tio bertanya ia akan selalu menjawab bila Davin ada di tempat yang jauh untuk mencari uang. Dan polosnya, Tio kecil selalu mempercayai semua yang ia katakan tanpa ragu sedikitpun. Inilah sifat anak kecil yang Rein syukuri ada di dalam diri Tio. Putranya memang cerdas tapi ia masihlah anak kecil yang belum mengenal dunia.


Mendengar ini senyuman lebar Davin langsung menghilang digantikan dengan wajah suram.


Sedangkan Adit, orang yang sedari tadi berdiri di samping melihat interaksi manis mereka sontak mengangkat tangan untuk menutup mulutnya. Dia ingin tertawa tapi berusaha menahannya agar tidak membuat Davin tersinggung.


Davin mendelik tidak senang, memaksa Adit untuk menurunkan tangannya dan bersikap formal lagi.


"Ekhem, aku minta maaf, Pak." Adit kembali ke sikap formalnya.


Davin tidak mengatakan apa-apa, dia kembali menurunkan kepalanya dan fokus pada putranya tercinta.


"Uncle Dimas itu siapa, Tio?" Tanya Davin dengan suara yang ia paksakan tetap berada di dalam nada lembut.


Tio dengan polosnya menjawab,"Uncle Dimas adalah uncle Dimas, Ayah."


Davin jelas tidak puas dengan jawaban putranya. Namun, meskipun begitu ia sempat mengoreksi panggilan Tio kepadanya.


"Tio, jangan panggil Ayah, okay? Mulai dari sekarang panggil Daddy dan jangan Ayah lagi."


"Hem," Tio tidak mengerti, dia bertanya,"Kenapa Tio halus manggil Ayah dengan sebutan Daddy?"


Davin menjawab dengan sabar,"Karena panggilan 'Ayah' tidak keren. Daddy lebih suka Tio panggil Daddy karena panggilan ini lebih keren." Jawab Davin lebih suka dipanggil Daddy.


"Hem, kenapa panggilan Daddy lebih kelen dali panggilan Ayah?" Tio masih belum mengerti.


Davin tercengang, dia tiba-tiba merasa kewalahan menghadapi setiap pertanyaan polos putranya. Sejenak, ia bisa membayangkan betapa sabarnya Rein menghadapi setiap pertanyaan anak mereka. Dan ia juga bertanya-tanya, apakah saat itu Rein juga akan merasa gemas dihadapkan dengan semua pertanyaan polos putra mereka?


Davin ingin tahu.


"Siapa yang sudah berani-beraninya mengganggu putraku!"


Momen manis itu segera menguap ketika suara angkuh seorang wanita mengganggu momen menyenangkan Davin dan Tio.


Davin berdiri dari duduknya, menatap wanita sok kaya itu dengan tatapan angkuh dan penuh arogansi,"Aku, apakah kamu keberatan?"