
"Dokter Adit sudah menjelaskan semuanya kepadaku."
Aku pikir dia sudah terbang ke alam mimpi tapi ternyata aku salah karena faktanya dia masih sadar. Aku bergerak mengangkat kepalaku ingin menatap wajahnya tapi segera tangan besarnya menekan kepalaku di dadanya.
"Dengarkan dia, Rein, jangan gegabah karena lawan kita bukanlah orang biasa." Aku tertegun, tubuhku merosot lemah jatuh ke dalam pelukannya. Takut, itulah yang aku rasakan.
Kedua tanganku memeluk Davin erat tidak mau melepaskannya. Sungguh munafik diriku bila mengatakan jika aku tidak takut.
Bila Davin, orang yang suka berlaku sewenang-wenang saja mengakuinya maka bagaimana dengan diriku yang tidak memiliki apa-apa?
Tidak Tuhan, tolong jangan biarkan Davin dikalahkan oleh mereka untuk yang kedua kalinya. Aku tidak mau berpisah dengan dirinya lagi. Aku tidak mau menghadapi dunia ini tanpa dirinya lagi. Aku mungkin tidak akan sekuat tahun-tahun itu, Tuhan.
"Cukup biarkan aku menghadapi mereka, karena aku adalah lawan yang sepadan untuk mereka. Sedangkan kamu Rein, patuh lah di sisi anak-anak. Jangan melakukan apapun kecuali diam di rumah dan menemani anak-anak. Tugasmu hanya itu dan jangan pernah ikut campur di dalam masalah ini." Katanya seraya mengusap puncak kepalaku.
Setiap katanya tegas dan memiliki pendirian yang teguh. Aku tahu dia melakukan semua itu karena ingin melindungi ku dan anak-anak kami.
"Davin," Aku memaksakan diri mengangkat kepalaku dan menatap wajah lelahnya.
"Ada apa, sayang?" Dia bertanya lembut dengan sorot mata yang lembut pula.
Laki-laki tampan dan arogan ini adalah laki-laki sok kuat yang telah mengorbankan punggung kokohnya untuk melindungi ku. Bertahun-tahun dia menanggung semua penghinaan sendirian tanpa niat memberitahuku. Dia sok kuat, bersikap sok kuat, dan bertindak sok kuat, padahal faktanya dia kesakitan. Dia juga merasakan sakit dan dia rapuh, dia sama seperti manusia pada umumnya. Merasakan lelah dan sakit untuk beban berat yang sangat sulit ditanggung.
Ya Tuhan, betapa aku sangat mencintai laki-laki ini. Dia pernah berbuat salah kepadaku tapi itu semua dilakukan untuk melindungi orang-orang yang dia cintai.
Aku... sungguh sangat mencintainya.
"Jangan bersedih, Davin." Kataku menghiburnya.
"Jika kamu tidak bisa menanggung semuanya maka bawa aku juga ikut bersamamu. Kita tanggung semua beban ini bersama-sama agar sakitnya tidak terlalu menyakitkan." Kataku bernegosiasi.
Aku tidak bisa apa-apa dan aku juga tidak melakukan apa-apa untuk membantunya, tapi aku masih ingin membantunya. Aku tidak ingin membiarkannya merasakan sakit sendirian.
Memintaku untuk mengelus wajahnya melalui sorot matanya. Aku tidak berdaya dibuatnya, jari-jari tanganku secara otomatis mengelus wajah tampannya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
Sepertinya dia tidak pernah mengurus dirinya selama berada di negara A.
"Aku akan mengatakannya secara jelas di sini bahwa aku tidak pernah sendirian. Sepanjang hidupku Tuhan akan selalu menemani langkah ku. Dia tidak akan pernah meninggalkanku karena Dia tidak akan pernah meninggalkan ataupun mengecewakan hamba yang berserah diri dan berdoa kepada-Nya."
Davin benar, pertemuan kami adalah salah satu bukti bahwa Tuhan meridhoi hubungan kami.
Tapi,"Aku tidak tahu jika kamu adalah orang yang sangat religius sebelumnya. Namun, apakah kamu tidak malu kepada Tuhan karena telah membawaku hidup bersamamu tanpa ikatan yang sah secara hukum dan agama?"
Dia tertawa rendah, tangan besarnya melingkari pinggang dan punggung lagi, menekannya erat di dalam pelukan hangatnya.
"Jangan asal berbicara, Rein. Bukankah kamu melihatnya sendiri jika aku selalu mendirikan sholat 5 waktu dan menunaikan kewajiban ku yang lain sebagai hamba. Aku memang bukanlah hamba yang baik dan aku mengakui bahwa aku bergelimangan dosa. Tapi meskipun begitu aku selalu berusaha untuk memperbaiki diri dan membawa langkah ku di jalan-Nya. Salah satu langkah yang sedang aku perjuangkan adalah untuk menghalalkan kamu agar kamu dapat menyandang gelar Nyonya Demian secara sah di mata hukum dan agama. Tapi kamu memberikan syarat sehingga perjuanganku untuk menghalalkan mu menemui titik hambatan-"
"Jadi kamu menyalahkan, ku?" Potongku berpura-pura marah.
Dia tertawa lagi.
"Tidak, aku yang salah. Di dunia ini wanita selalu benar dan laki-laki selalu salah."
Aku tersenyum puas. Bukan karena pengakuan Davin- em, yah sebenarnya karena ini juga tapi poin pentingnya adalah karena Davin bisa tertawa kembali.
Aku senang mendengarnya tertawa dan tidak memiliki wajah murung seperti sebelumnya.
"Rein, terima kasih." Bisiknya lembut. "Tapi aku sungguh tidak ingin melibatkan mu dalam masalah ini."
Kami akhirnya kembali ke topik pembicaraan pertama. Aku tidak mengatakan apa-apa untuk memprotes keputusan Davin karena aku tahu jika ini demi kebaikan kami bersama. Jika aku ikut takutnya Davin akan terhambat karena ku.
"Dokter Adit adalah sepupuku dan dia adalah salah satu korban dari kekejaman para rubah tua itu, Rein."