
Ail masuk ke dalam kamar mandi dengan dua tespek merk berbeda di tangannya. Saat membuka kotak tespek dia tiba-tiba menyadari lupa mengambil wadah untuk menampung air urinenya.
Menghela nafas berat, dia meletakkan tespek itu dan keluar untuk mengambil wadah. Namun saat membuka pintu kamar mandi dia dikagetkan dengan keberadaan Dimas di depan pintu kamar mandi entah sejak kapan.
Ail terpaku di tempat, kaki kanannya yang telah mengambil langkah ke luar perlahan ditarik kembali ke dalam kamar mandi.
"Apa kamu membutuhkan...gelas?" Dimas menawarkan sebuah gelas putih tangan kanannya.
Ail melihat gelas itu, sedetik kemudian dia mengangguk ringan. Mengulurkan tangan kanan untuk mengambil gelas itu dari tangan Dimas.
"Terima kasih, Paman." Semangat Ail agak rendah.
Dimas mengangguk ringan, bertindak normal dengan ekspresi kalem di wajahnya.
Tapi saat Ail akan menutup pintu kamar mandi, Dimas buru-buru mengingatkannya.
"15 menit!"
"Ya?"
Dimas menjelaskan,"Kamu harus mendiamkannya selama 15 menit dan tidak boleh kurang. Setelah 15 menit kamu boleh mengangkatnya."
Mendengar penjelasan Dimas, dia tahu Dimas sedang membicarakan tespek itu dan menganggukkan kepalanya dengan patuh. Kepercayaan dirinya dihadapan Dimas kini mulai telah berkurang banyak karena perkara tespek ini. Sebab tespek ini mengingatkan dirinya kembali identitasnya selama ini.
"Ya, tentu."
Setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan wadah di tangannya.
20 menit kemudian Ail keluar dari kamar mandi tanpa meninggalkan jejak apapun. Gelasnya telah dia cuci bersih dan kotak tespek nya telah dia hancurkan ke dalam air hingga menjadi bubur.
Dia keluar dengan tubuh yang yang segar dan bersih tapi wajahnya yang lesu.
Ketika masuk ke dalam kamar dia kembali bertemu dengan Dimas- yang telah bersih dan rapi.
"Bagaimana?" Dimas bertanya rendah.
Dia sangat santai dan kalem tapi jantungnya berdegup kencang karena panik. Takut dan cemas pada saat yang bersamaan. Tapi apapun hasilnya dia telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Ail sendirian.
"Satu garis." Kata Ail lemas.
"Satu garis merah." Kedua mata Ail mulai basah.
"Satu garis?" Dimas bertanya kosong.
Ail mengangguk lemah, menunjukkan dua tespek satu garis di tangan kanannya kepada Dimas. Meskipun dia tidak tahu artinya apa tapi jika dilihat dari reaksi Dimas, takutnya ini adalah pertanda yang buruk.
"Satu garis..." Dimas menatap gambar satu garis merah di atas tespek tersebut.
Dug
Dug
Dug
Satu menit telah berlalu, dua menit telah terlewati, dan tiga menit kemudian Ail dikejutkan oleh sebuah pelukan hangat nan kuat dari Dimas.
Dia dipeluk erat oleh kedua tangan Dimas. Nafasnya yang hangat dan memburu menerpa kulit leher Ail, meninggalkan jejak mati rasa pada kulit lehernya yang sensitif. Entah apa yang memicu Dimas memeluknya tapi yang pasti pelukan ini memberikan Ail kesempatan untuk merasakan nafas hangat dan detak jantung menggebu-gebu Dimas yang sangat membuat candu.
"Paman?" Panggil Ail gelisah.
Dimas masih memeluknya erat tanpa ada tanda-tanda untuk melepaskannya.
"Selamat Ail, kamu tidak hamil. Kamu tidak hamil!" Seru Dimas tepat di depan telinga Ail.
Ail tercengang, beberapa waktu kemudian bibir ranumnya membentuk sebuah senyuman langka yang sangat manis. Dia sangat lega karena ketakutannya ternyata tidak terjadi.
"Aku tidak hamil?" Tapi meskipun begitu dia masih menangis.
Dimas menganggukkan kepalanya yakin.
"Kamu tidak hamil. Satu garis, kedua tespek itu sama-sama satu garis. Kamu tidak hamil Ail, kamu tidak hamil anak mereka!" Tegas Dimas meyakinkan Ail.
Kedua mata Ail terpejam menahan rasa lega tapi tidak bisa mengenyahkan pikiran rendah dirinya.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya."