My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
196



Suara-suara itu bagaikan senandung merdu yang mengalun indah di dalam pendengaran Revan. Hatinya berseru senang, kedua tangannya mengepal karena euforia, dan sudut matanya menyempit membentuk garis senyuman yang tampan. Dalam sekali pandang siapapun yang melihatnya tahu jika Revan saat ini sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Duduk di kursinya menonton pertunjukan, Revan menikmati setiap patah kata yang menyudutkan posisi Davin. Beberapa orang yang sedari dulu membenci Davin menggunakan kesempatan ini untuk mendorong Davin turun dari kursi tahtanya, menyingkirkannya secara halus dibawah panji 'lumpuh' Davin yang tidak terbantahkan. Betapa malangnya.


Padahal Revan hanya mengatakan beberapa kata saja untuk membangkitkan suara-suara yang lain, dan hasilnya, anggota keluarga yang memiliki maksud tertentu memanfaatkan situasi ini untuk menjatuhkan Davin sekaligus membantu Revan untuk beberapa langkah lebih maju menduduki kursi Davin.


Dengan begini, dua atau tiga pulau dapat dia lewati dengan lemparannya.


"Papa," Revan kini beralih membawa fokusnya menatap Kakek Demian.


Begitu Revan memanggil, semua suara-suara praktis menghilang karena mereka semua sangat menghormati Kakek Demian. Selama ada Kakek Demian dan Davin, mereka semua dikekang oleh tali tak kasat mata yang sangat menyebalkan.


"Tolong putuskan masalah ini sesegera mungkin. Ini adalah masalah serius untuk semua keluarga kita. Jika tidak ditangani dengan benar malam ini, aku takut beberapa keluarga yang membenci kita diluar sana akan menertawakan kita karena memiliki kepala keluarga yang cacat." Desak Revan dengan nada yang serius dan ekspresi yang serius pula.


"Benar, Pa. Masalah ini harus segera ditangani malam ini. Menurutku Davin harus mundur dari hak waris karena situasi yang tidak bisa ditolong lagi." Salah satu Paman Davin juga ikut bersuara.


Yang lain juga menyambung,"Davin harus mundur dari posisinya. Dan aku pikir Revan adalah kandidat yang cocok untuk menggantikan Davin sebagai hak waris." Biar bagaimanapun laki-laki payah ini masih bisa mereka bodohi dan akali di masa depan nanti.


Jadi lebih baik menjadikan orang bodoh untuk menduduki kekuasaan daripada membiarkan orang pintar dan cerdas mendudukinya.


"Mengirim Revan? Tidak, aku tidak akan setuju. Daripada mengirim Revan, aku lebih suka membiarkan Davin memimpin keluarga kita." Namun tidak semua orang setuju dengan ide ini karena ada juga beberapa anggota keluarga yang masih memihak Davin dan mendukungnya.


Diam-diam Davin mencatat orang-orang berdiri teguh di sini untuknya.


"Apa yang kamu pikirkan membiarkan orang lumpuh memimpin kita? Mengurus kakinya saja dia tidak bisa apalagi memimpin kita semua! Kamu harus ingat jika Davin yang sekarang bukan lagi Davin yang dulu! Dulu, dia mungkin bisa memimpin kita tapi sekarang situasinya berbeda!" Tolak Paman yang lain dengan suara bernada tinggi.


Kata-katanya tidak sopan dan tidak enak masuk ke dalam pendengaran. Orang ini sudah tidak menganggap Davin serius seperti sebelumnya. Bukannya menghargai, dia malah terkesan meremehkan Davin.


"Jaga bicaramu! Davin memang mengalami kelumpuhan tapi dia jauh lebih baik daripada Revan! Sejak dia menjadi ahli waris Papa, perusahaan dijalankan dengan baik dan bahkan urusan keluarga kita juga terorganisir. Dan kerja kerasnya tidak akan mengalami perubahan besar hanya karena dia duduk di kursi roda. Coba kita lihat kandidat yang kamu pilih, hah. Apa yang dia bisa lakukan selain mempermalukan keluarga kita? Dia tidak pernah masuk ke perusahaan untuk sekedar membantu apalagi memegang kendali kekuasaan! Daripada bekerja dia lebih suka kesana kemari untuk menciptakan skandal dan membuat keluarga kita malu semau-maunya!" Balas yang lain tidak kalah kerasnya.


Disinggung tentang kecerobohannya, Revan diam-diam merutuki Kakak beda Ibu tersebut. Di dalam hatinya dia telah menandai orang ini sebagai parasit yang harus segera dienyahkan ketika dia menggantikan posisi Davin nanti.


"Berubah? Darimana datangnya perubahan itu? Aku masih ingat gosip dua hari yang lalu di salah satu stasiun TV. Mereka membicarakan hubungan Revan dengan salah satu aktris yang sudah menikah baru-baru ini. Mereka berdua tertangkap kamera masuk ke sebuah hotel bintang lima dan tidak pernah keluar lagi. Coba jelaskan, apa ini adalah perubahan yang Ibu maksud?" Salah satu pendukung Davin langsung membungkam Nenek di tempat.


Nenek sangat marah dan langsung menatap tajam putranya. Skandal, skandal, dan skandal! Nenek sudah berkali-kali memberitahunya agar jangan terlibat dengan siapa pun sebelum rencana mereka berhasil dilakukan. Tapi lihat sekarang, putranya masih sangat lihai membuat masalah!


"Kakak, jangan salah paham. Aku dan aktris itu tidak memiliki hubungan apa-apa karena aku juga tahu bila dia sudah bersuami. Aku juga tidak sengaja berpapasan dengannya di depan pintu masuk hotel dan memutuskan untuk masuk bersama karena kami adalah kenalan lama." Elak Revan berbohong.


Untungnya kamera hanya menangkap mereka masuk ke dalam hotel saja jadi tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya karena Revan sudah menghapus semua rekaman cctv hotel.


"Oh ya, orang itu pasti sangat bodoh jika mempercayai apa yang kamu katakan." Cemooh salah satu Paman jelas tidak mempercayai alasan klise Revan.


"Adik mu benar-benar tidak berbohong. Dia sudah berubah dan tidak bermain-main seperti dulu lagi. Adapun skandal baru-baru ini, aku yakin itu adalah akal-akalan aktris itu untuk menaikkan pamornya karena Revan kita berasal dari keluarga terpandang." Nenek buru-buru membantu putranya agar tidak disudut kan lagi.


"Apa yang Mama katakan benar, Kak. Aku sudah benar-benar berubah. Untuk memperbaiki kesalahan, aku diam-diam mendirikan sebuah perusahaan yang berafiliasi dalam dunia hiburan dan fashion. Perusahaan ku ini baru diresmikan satu tahun yang lalu dan sudah meraup banyak keuntungan." Kata Revan mencoba meyakinkan mereka sembari mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan dokumen resmi perusahaannya yang telah berdiri dari satu tahun yang lalu.


Beberapa orang tertarik dan melihatnya dengan rasa ingin tahu sementara yang lain ogah karena meremehkan Revan. Benar saja, setelah melihat beberapa orang masih meremehkan Revan.


"Ini hanyalah perusahaan kecil dan tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan group Demian."


Revan tersenyum lebar,"Semuanya berawal dari kecil dan lambat laun akan menjadi besar. Ini adalah perusahaan yang aku bangun dari jerih payah ku sendiri dan membutuhkan usaha kerja keras. Dibandingkan dengan Davin yang hanya menerima hasil, aku jauh lebih dari mampu memimpin keluarga kita." Ucapnya percaya diri.


Para pendukungnya juga berseru setuju, mendukung apa yang Revan katakan sembari kembali memojokkan Davin yang sedari tadi hanya diam menyimak tanpa niat menyela perdebatan mereka semua.


"Tontonan yang menarik." Bisik Rein dengan nada bosannya.


Davin meremas lembut tangannya dan berkata,"Ini sangat membosankan."