My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
216



Rein teringat bila Davin pernah mengatakan kepadanya bahwa dia sangat takut kehilangannya. Dan Adit juga pernah mengatakan bila Davin berubah menjadi orang yang sangat kejam dan berhati dingin semenjak berpisah dengan Rein. Seolah dia bukan lagi Davin Demian yang orang-orang kenal.


Untuk Davin sendiri bayangan Rein sungguh besar sehingga dia tidak mampu kehilangannya.


"Dav, jangan sedih. Lihat, aku sekarang ada di sini dan telah resmi menjadi milikmu. Aku tidak akan pergi kemana-mana tanpa kamu."


Rein mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah tampan suaminya, mengusap lelehan air mata yang menjadi saksi bisu betapa besar perjuangan suaminya selama ini.


"Aku tahu...aku tahu..." Davin menyentuh tangan Rein di wajahnya.


Memegang tangan itu selembut mungkin dan mengecupnya ringan. Kecupan Davin sungguh sangat ringan, bagaikan sentuhan capung. Seolah-olah sentuhannya itu takut menyakiti kulit lembut Rein.


"Karena itulah aku bersumpah tidak akan pernah melepaskan kamu dari hidupku dan kamu...kamu tidak diizinkan untuk menyesalinya, sayang." Bisik Davin serius dengan nada mendominasi.


"Aku ini..." Davin mulai menundukkan kepalanya lebih dekat dengan wajah menawan kekasihnya.


"Sangat egois." Lanjut Davin seraya mengecup kedua mata persik Rein dengan perasaan candu.


Rein secara alami menutup matanya. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang kekasih untuk memanjakan diri.


"Aku tahu, Mas...tapi aku tetap menyukaimu."


Davin beralih mengecup puncak hidung kekasihnya,"Dan aku juga orang yang sangat pencemburu jadi jangan coba-coba dekat dengan pria lain bahkan walaupun kamu tidak menyukainya..." Ancam Davin dengan nada protektifnya yang khas.


Rein semakin terpesona dibuatnya.


"Aku menyukainya.." Karena Rein sendiri bukanlah orang yang suka didekati laki-laki lain.


"Dan aku juga laki-laki yang sangat posesif Rein..." Kata Davin mengakui dirinya seraya mengecup kedua pipi Rein yang telah merona terang.


Rein tersenyum. Menikmati sentuhan hangat suaminya yang telah membuat dirinya candu.


"Selama itu kamu, Mas. Aku akan selalu menyukainya."


Davin sangat puas mendengarnya. Keinginan biologisnya yang sempat tertahan akhirnya kembali bergejolak ingin segera menaklukkan Rein malam ini.


"Rein?" Panggil Davin serak seraya mengelus lembut pipi istrinya.


Rein perlahan membuka matanya dan bertemu dengan tatapan berapi-api suaminya. Untuk sesaat, tubuhnya langsung kehilangan tenaga ditatap secara langsung dengan tatapan membara suaminya. Untungnya dia ada di atas kasur saat ini, jika tidak, mungkin dia sudah jatuh merosot di atas lantai.


"Dav.." Panggil Rein lembut.


Ibu jari Davin mengelus lembut bibir ranum nan merah kekasihnya. Agak kenyal dan lembut, Davin bisa membayangkan betapa manisnya bibir Rein.


"Aku sudah tidak kuat lagi, sayang..."


Rein tersenyum penuh makna. Kakinya yang lemah laku bergerak naik ke atas kaki suaminya dan mendudukinya dengan agresif. Setelah itu dia membawa tangan Davin yang bebas untuk melingkari pinggang rampingnya sebagai bentuk 'penyerahan' dirinya.


"Lakukanlah, suamiku, dan jangan menahan diri. Sebab mulai malam ini dan malam seterusnya, aku adalah milikmu, Davin Demian." Rein sangat berani malam ini, kesan pemalu nya yang menggoda segera menguap.


Davin tercengang, dia tidak pernah melihat Rein seagresif ini dalam hidupnya. Karena biasanya selama ini Davin lah yang selalu mengambil inisiatif kepada Rein. Entah setelah menikah atau belum, Davin adalah orang yang mengambil inisiatif.