
"Maksud kamu apa ngomong begitu?" Tanyaku tidak mengerti sekaligus tidak senang.
Aku bukan wanita yang bodoh dan tidak bisa melihat kejengkelan di mata mereka berdua. Tapi pertanyaannya kenapa mereka bisa merasa kesal kepadaku?
Aku kan enggak kenal mereka dan mereka pun tidak mengenaliku, jadi aku yakin kami tidak pernah saling menyinggung sebelumnya.
"Mbak masih belum mengerti juga atau pura-pura enggak mengerti?" Wanita yang lain menimpali ku dengan ekspresi mengejek di wajahnya.
Aku semakin tidak mengerti dengan sikap mereka berdua yang tidak profesional dan terkesan meremehkan tamu. Padahal kan mereka hanya pelayan di tempat ini dan tugas mereka hanya melayani tamu yang membutuhkan informasi. Tapi sikap mereka sangat belagu seolah-olah perusahaan ini adalah milik nenek mereka.
"Lho, kalian kok aneh banget sih. Jelas-jelas kalian yang tiba-tiba ngomong enggak jelas sama aku tapi kalian malah nuduh aku pura-pura enggak ngerti. Apakah sikap kalian ini pantas sebagai seseorang yang harusnya mengayomi para tamu?" Tanya ku tak tahan lagi.
Karena menyerang ku maka aku harus menyerang balik mereka. Mas Adit sudah menekankan sebelumnya bila dia membenci orang yang lemah dan aku harus menjadi orang yang kuat agar mas Adit dapat memandangku dengan sebuah apresiasi di matanya.
"Enggak usah bawa-bawa pekerjaan kami di sini. Mbak bukan tamu jadi kami tidak perlu bersikap sopan kepada mbak. Lagipula wanita yang mengaku punya janji dengan pak Adit bukan cuma mbak aja, jadi modus murahan ini tidak akan bisa menipu kami." Wanita itu membalas ku dengan nada meremehkan.
"Benar, memangnya mbak siapa bisa buat janji dengan pak Adit. Secara, mbak tiba-tiba datang dan ngaku-ngaku telah membuat janji dengan pak Adit seolah kalian memiliki hubungan khusus. Daripada merusak pemandangan perusahaan kami, mbak lebih baik pergi saja dari sini agar tamu-tamu penting kami tidak terganggu." Dia mengusirku dari sini.
Aku tidak bisa menerima penghinaan ini karena aku adalah identitas nyonya Rein. Jika aku dipermalukan maka itu sama saja nyonya Rein dan mansion Demian telah dipermalukan. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.
"Kalian bertanya siapa aku?" Aku tersenyum dingin, mengambil sesuatu dari dalam dompet ku dan melemparkannya langsung ke atas meja.
Mereka melihat kartu namaku dengan ogah-ogahan tapi beberapa detik kemudian wajah mereka langsung menjadi pucat pasi. Mereka melihatnya dengan tangan gemetar, dan menatapku dengan takut-takut.
"Ini.." Mereka berdua saling memandang dengan ekspresi panik di wajah.
Ah, melihat reaksi mereka aku tiba-tiba merasakan kepuasan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ternyata begini rasanya berada di posisi yang jauh lebih tinggi dari orang-orang yang meremehkan ku?
Hah. Aku yakin setelah ini mereka tidak akan bisa tenang.
"Nyonya-"
"Maaf, aku bukan nyonya kalian, lagipula aku bukan tamu kalian sehingga aku tidak pantas mendapatkan rasa hormat dari kalian." Potong ku tidak ingin mendengar kata-kata apapun lagi dari mereka.