
"Mas Davin...aku ngantuk..." Rengek Rein dalam mood ingin dimanjakan.
Davin akhirnya tidak memiliki perlawanan lagi. Dia meraih pinggang ramping Rein dan memeluknya erat. Tuhan tahu betapa rindunya dia kepada Rein dan Tuhan juga tahu betapa lelah hatinya menahan diri selama ini agar jangan sampai menyakiti istrinya.
"Sungguh tidak apa-apa?" Tanya Davin sambil meneliti wajah cantik istrinya.
Rein cemberut, menganggukkan kepalanya lemas dengan kepala bersandar di atas pundak suaminya ingin digendong. Melihat keinginan manja istrinya, Davin tanpa menahan diri lagi memeluk Rein seerat nya. Namun ini hanya berlaku beberapa saat saja karena istrinya ingin segera dikirim ke kamar mereka.
Davin lantas mengangkat dalam sekali nafas, menggendong Rein ala pengantin dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka. Begitu Rein menyentuh permukaan kasur lembut dia langsung melingkari leher Davin depan kedua tangannya, menolak untuk melepaskan Davin Davin pergi. Davin juga tidak ingin menjauh. Tapi perut besar Rein membuat semua gerakannya terbatas. Dia tidak bisa menekan perut istrinya karena baby mereka pasti akan bermasalah.
"Okay, aku akan naik lewat sini." Kata Davin menenangkan kekhawatiran istrinya.
Rein enggan tapi masih melepaskan kedua tangannya dari leher Davin. Setelah terbebas, Davin langsung naik ke atas kasur dan berbaring di samping Rein. Begitu suaminya berbaring Rein segera menggeser tubuhnya dengan tidak sabar dan masuk ke dalam pelukan suaminya.
Wangi khas suaminya yang menenangkan bagaikan obat penenang untuk sarafnya yang sempat menegang karena perubahan mood beberapa minggu ini. Rasanya sangat melegakan. Rein akhirnya bisa merasa nyaman dekat dengan suaminya lagi dan bisa tidur dengan nyenyak lagi. Baginya Davin adalah obat mujarab untuk sangat manjur untuk dirinya.
"Mas Davin..." Panggil Rein.
Dia ingin mengobrol dengan suaminya tentang berbagai macam hal tapi suaminya tidak merespon panggilannya.
"Mas Davin jawab aku dong..." Pinta Rein merajuk.
Tapi Davin masih menolak untuk meresponnya. Rein kesal dan mengangkat kepalanya untuk melihat suaminya. Wajah cemberutnya seketika menghilang ketika melihat wajah tertidur lelap Davin yang sangat damai.
Mereka baru saja berbaring beberapa menit di atas kasur dan dia sudah tertidur saja. Rein mengernyit dengan rasa bersalah di dalam hatinya. Sungguh dia menyesali sikapnya yang terlalu menuntut hingga melupakan betapa lelah suaminya selama ini. Untuk urusan kantor, merawat dia di rumah, dan masih menyempatkan diri untuk bermain dengan anak-anak, Davin pasti sangat kelelahan tapi dia enggan mengatakannya.
"Sayang," Gumam Rein memanggil dengan perasaan melankolis dihatinya.
Davin selalu seperti ini. Sangat suka menyembunyikan kelelahannya di depan Rein.
"Kamu pasti capek banget yah.." Kata Rein mulai berbicara dengannya tapi hanya direspon oleh nafas hangat suaminya.
Rein tersenyum kecil. Lembut, dia menyentuh wajah tampan suaminya yang tertidur damai tapi tidak bisa menyembunyikan betapa lelahnya dia hari ini.
"Aku minta maaf, setelah hari ini aku akan berusaha tidak menyusahkan mas Davin..." Bisik Rein berjanji kepada suaminya.
Rein menurunkan tangannya dan kembali bersembunyi ke dalam pelukan hangat suaminya. Sentuhan hangat suaminya membuat rasa kantuk Rein kembali melanda. Rein beberapa kali sempat menguap sebelum akhirnya menyusul sang suami ke alam mimpi.
Rasanya hangat dan membuat hati meleleh. Padahal tidak ada yang luar biasa dari malam ini. Mereka hanya tidur berpelukan tanpa melakukan apa-apa tapi efeknya sudah sangat luar biasa di dalam hati masing-masing. Yah, momen yang membuat mereka berjanji untuk saling menjaga dan saling memahami.
Momen yang sangat berarti untuk mereka berdua.
***
Dimas pulang dan diantarkan langsung oleh Adit sendiri sesuai dengan permintaan dari Rein. Sebelum pulang Dimas sempat singgah di beberapa tempat untuk mencari sesuatu. Namun karena ini sudah larut malam, beberapa apotek yang dia datangi tutup. Namun Dimas tidak putus asa dan terus mencari sampai dia akhirnya menemukan sebuah mini market yang kebetulan menjual apa yang dia butuhkan.
Dimas akhirnya sampai rumah jam 12 lewat beberapa menit. Karena sudah larut malam kebanyakan warga desa sudah beristirahat dan tidur sehingga tidak ada yang menyadari tentang mobil mewah yang datang lagi. Jika Dimas tidak pulang terlalu larut maka orang-orang desa kemungkinan besar akan berkumpul lagi seperti tadi sore.
"Kamu kenapa pulang larut, Nak?" Sapa bapak ketika Dimas masuk ke dalam rumah.
Dimas menyalami tangan bapak setelah melepaskan sepatunya di depan pintu masuk rumah.
"Dimas tadi habis ketemu sama Rein, pak. Jadi pulangnya agak lama karena terlalu asik ngobrol dan main sama anak-anaknya." Jawab Dimas sopan kepada bapaknya.
Bapak dan Ibu dulu sempat menyetujui Rein sebagai calon menantu mereka terlepas dari keadaannya. Mau bagaimana lagi pikir mereka karena Dimas sangat mencintai Rein saat itu dan kukuh ingin membawa Rein pulang ke rumah.
"Rein? Rein mantan kamu itu?" Bapak samar-samar ingat siapa Rein.
Sejak pulang ke desa bapak dan ibu tidak pernah mendengar Dimas menyebut nama Rein apalagi mengungkit-ungkit nama Rein sehingga seiring waktu kesan mereka terhadap Rein meluap dan mengabur.
"Iya, pak. Sekarang Rein sudah menikah dan sedang mengandung anaknya yang ketiga." Kata Dimas mendesah lega.
Sambil mengobrol dengan bapak, dia masuk ke dalam dapur dan mengambil air putih. Dia minum dua gelas air putih langsung karena terlalu haus.
Saat berbicara dengan Dimas, perhatian bapak tiba-tiba tertarik pada kantong plastik besar yang Dimas bawa dari luar.
"Kamu belanja apa, Dim?" Bapak ingin menjangkau kantong plastik tapi Dimas buru-buru mengambilnya.
Gelagat Dimas sangat aneh tapi bapak tidak terlalu memikirkannya.
"Ini, pak, aku beli sesuatu untuk ibu, bapak, dan Ail. Nah, punya Ail nya gak boleh dilihat jadi aku ambil dulu yah." Dimas mengambil sesuatu dari dalam kantong plastik.
Setelah menemukan apa yang dia cari, dia langsung memasukkannya ke dalam saku secepat yang dia bisa agar bapak tidak melihatnya.
"Nah, sisanya aku taruh di kulkas aja ya, pak. Nanti kalau ibu, bapak, atau Ail mau makan bisa langsung diambil di kulkas aja." Kata Dimas bertindak normal di depan bapak.
Dia membeli banyak makanan untuk rumah dan langsung menyusunnya di dalam kulkas. Kebetulan mulai dari ibu sampai bapak sangat menyukai makanan manis. Jadi Dimas sengaja membeli banyak makanan manis untuk mereka.
"Kamu sangat baik ke Ail. Awas, hati-hati lho. Kalau terlalu baik orang-orang nanti salah paham kalau Ail itu istri kamu." Kata bapak bercanda dan hanya dibalas sebuah senyuman ringan oleh Dimas.
"Jangan pikiran apa kata orang pak, selama kita bahagia itu saja sudah cukup." Kata Dimas menyimpan makna tertentu.
Bapak menganggukkan kepalanya cukup setuju dengan pemikiran putranya. Dimas ini, dia selalu menjadi orang yang bijaksana dan mampu bersikap dewasa. Bapak dan ibu bangga kepadanya. Mereka bahagia memiliki Dimas di sisi mereka. Hanya saja Dimas memiliki satu kekurangan. Yaitu dia masih lajang di usianya yang hampir memasuki kepala tiga.
"Kamu benar. Ngomong-ngomong kapan kamu bisa mengakhiri masa lajang mu? Bapak sama ibu ingin punya cucu lho, nak. Lihat saja tetangga kita yang lain. Mereka satu persatu sudah menggendong cucu-cucu mereka." Tanya bapak sudah mulai merindukan cucu.
Melihat teman-temannya menggendong cucu masing-masing ke sawah membuat bapak jadi iri dan mulai merindukan cucu. Sangat besar harapannya Dimas segera menikah dan memberikan mereka seorang cucu yang cantik-cantik juga taman-taman. Dia yakin anak yang lahir dari darah Dimas pasti memiliki gen yang sangat baik.