My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
38. Perdebatan



Rein memaksakan diri untuk membuat garis senyuman. Dia lalu dengan enggan mulai membersihkan ruangan Davin.


"Bagus jika kamu menyadari posisimu. Sekarang mulailah bekerja." Ucap Davin dengan senyumannya yang menyebalkan.


Rein memaksakan diri untuk membuat garis senyuman. Dia lalu dengan enggan mulai menggerakkan kaki dan tangannya untuk membersihkan ruangan Davin.


Berbeda dengan meja kerjanya, ruang kantor Davin jauh lebih rapi seperti belum pernah disentuh sebelumnya. Rein tidak heran karena lantai 11 dulunya bukan kantor CEO. Dulu kantor CEO ada di lantai yang paling tinggi, lantai 27. CEO yang menjabat kemarin tidak jauh berbeda dengan CEO CEO perusahaan lain. Mereka lebih suka membangun singgasana di tempat yang paling tinggi, sangat jarang CEO yang mau membangun singgasana di lantai yang cukup rendah.


"Jangan lupa bersihkan sudut-sudut meja itu juga." Davin ternyata masih mengawasi dari meja kerjanya.


Rein mendelik dalam diam, masih berusaha menahan diri agar tidak meledak. Jika Davin bukan atasannya dia tidak akan ragu mengeluarkan semua kata-kata menjengkelkan yang biasanya dia lemparkan ke telinga Dimas. Sayang seribu sayang, Davin adalah bos besar tempatnya bekerja. Dan yang lebih disayangkan lagi, Rein harus melapangkan dada selapang-lapangnya agar bisa bertahan menghadapi setiap sikap menjengkelkan Davin.


Sepanjang waktu berlalu, Rein bergerak ke sana kemari untuk membersihkan meja, sofa, rak-rak dokumen, nakas, dan tempat-tempat mencolok lainnya.


Dia membersihkannya dengan cepat, tanpa berbicara ataupun mengeluh.


"Pak, aku sudah selesai. Apa aku boleh pergi sekarang?" Rein bertanya datar.


Davin menarik perhatiannya dari dokumen di atas meja. Dia menatap Rein dengan rasa nostalgia yang selalu Rein dapatkan dulu setiap kali menemani Davin bekerja di kantor. Davin dulu seperti ini, ketika sedang sibuk bekerja dia akan melewati waktu tanpa disadari. Jika Rein tidak mengingatkan maka Davin akan semakin tenggelam dalam pekerjaannya. Padahal dulu mereka tidak kekurangan apapun tapi kenapa Davin sangat bekerja keras?


"Oh, kamu sudah selesai." Dia merenggangkan badannya yang kaku karena terlalu lama duduk.


Kacamata kerja yang tersemat di pangkal hidungnya sekali lagi dia lepaskan. Membuat aura serius Davin beralih menjadi Davin yang malas dan acuh tak acuh.


Sekali lagi..aku terjebak dalam masa lalu yang menyedihkan. Batin Rein miris.


Ironisnya, dia masih memikirkan laki-laki sampah ini setelah dikhianati dan dicampakkan dengan kejam. Seharusnya dia membenci laki-laki ini, benci sampai ke tulang-tulang tapi dia tidak bisa. Dia sungguh tidak bisa karena hatinya sudah lama terikat kepadanya.


Bukankah dia sangat bodoh?


"Sekarang sudah jam 4 sore." Davin melihat waktu di jam tangan Rolex keluaran terbarunya yang mahal.


"Benar, Pak. Ini sudah sore." Jadi bisakah aku pergi sekarang!


Sayang kata-kata ini hanya bisa dia katakan di dalam hati saja. Tekad untuk bertahan hidup sangat tinggi, okay!


"Ya, kamu bisa pergi sekarang. Tapi ingat tugasmu besok. Kamu harus membawakan ku kopi tepat waktu tanpa perlu ku minta."


Davin akhirnya melepaskan Rein pergi. Melihat ekspresi cemberut Rein selama beberapa jam ini membuat Davin merasa terhibur. Ekspresi itu..sudah lama sekali tidak pernah ia lihat. Dia suka menjahili Rein hari ini tapi dia tidak ingin terlalu melewati batas. Rein mudah lelah, meskipun tidak pernah diungkapkan tapi Davin bisa melihatnya dari wajah Rein.


Setidaknya untuk hari ini cukup sampai di sini saja.


Rein tampak sangat enggan mengiyakan.


Setelah itu Rein keluar dari ruang kantor Davin. Dia awalnya ingin beristirahat sebentar di dalam pantry sambil mengobrol sebentar dengan Bu Dinda. Tapi itu hanyalah sekedar rencana karena beberapa detik kemudian ada telepon masuk ke dalam ponselnya.


Itu adalah telepon dari pengasuh Tio di rumah penitipan anak. Rein sempat menitipkan nomor ponselnya agar pengasuh bisa menghubunginya jika terjadi sesuatu kepada Tio.


"Hallo, selamat sore?" Rein segera menjawab dengan sopan.


Ini pasti buruk, pikir Rein.


"Ya, aku adalah Rein Xia selaku orang tua dari Tio Demian." Rein merendahkan suaranya ketika menyebut nama lengkap Tio. Takut-takut jika ada yang mendengar atau yang lebih parah Davin bisa mendengar ucapannya.


"Oh untunglah. Apa Anda bisa segera ke rumah penitipan anak?"


Rein mengeratkan genggamannya,"Bisa..aku bisa segera ke sana. Tapi..apa terjadi sesuatu dengan Tio di sana sehingga aku harus datang ke sana?"


Rein masih bekerja, dia tidak bisa langsung memutuskan pergi jika bukan karena masalah yang serius.


"Begini..Apa Anda ingat dengan masalah yang saya bicarakan beberapa hari yang lalu? Anak-anak itu kembali mengganggu Tio dan kini orang tua mereka pun ikut campur. Jadi..kami tidak punya pilihan selain memanggil Anda datang ke sekolah." Wanita itu menjelaskan dengan ragu dan dengan nada hati-hati.


Biasanya orang tua akan marah jika dihubungi dan menyalahkan semua kesalahan kepada mereka. Karena itulah pengasuh ini takut Rein akan mencercanya sama seperti orang tua yang lain.


"Aku mengerti." Rein meremat tangannya menahan sakit hati.


Dia marah tapi tidak tahu marah kepada siapa. Ini sangat menyakitkan.


Wanita itu sangat lega dengan respon ramah Rein.


"Aku akan segera ke sana."


Setelah itu mereka memutuskan sambungan telepon.


Rein buru-buru pergi ke Mbak Anggi untuk meminta izin pulang lebih dulu. Biasanya Mbak Anggi akan langsung memberikan izin tapi hari ini dia mempersulit Rein karena masih marah dengan masalah di auditorium tadi siang.


Bukannya dia tega tapi setiap kali melihat kemarahan Davin tadi pagi, hatinya sakit dan lagi-lagi kesalahan itu harus dia timpakan kepada Rein.


"Mbak Anggi please, anak gue lagi butuh bantuan di rumah penitipan anak. Dia pasti diganggu lagi sama anak-anak orang kaya itu." Rein baru pertama kali ini memohon kepada orang.


Mbak Anggi tetap tidak mengizinkan Rein pulang.


"Enggak bisa, Rein. Peraturan adalah peraturan, gue gak bisa izinin lo pergi sekalipun anak lo mengalami kecelakaan."


"Kok lo ngomongnya gitu sih, Mbak!" Marah Rein tidak suka mendengar kata-kata Mbak Anggi.


Dia tidak mengizinkan? Okay, tapi jangan bawa-bawa yang berbau hal buruk seperti mengatakan jika Tio mengalami kecelakaan. Rein adalah seorang Ibu dan seorang Ibu tidak akan pernah ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada anaknya apalagi jika mendengar seseorang mengandai-andaikan.


Rein tidak suka, dan dia tidak akan segan memutuskan hubungan pertemanannya dengan siapapun yang berani membicarakan hal buruk mengenai anaknya.


"Emang gue ngomong apa, hah? Kan gue udah bilang peraturan adalah peraturan, gue gak bisa langgar dan ngizinin lo pergi. Lagian lo juga kerja setengah hari tapi udah mau pulang aja. Gak malu apa lo sama temen-temen yang lain." Mbak Anggi kian membuat Rein marah.


Hei, situasinya saat ini sedang tidak benar! Anaknya butuh bantuannya sekarang tapi kenapa Mbak Anggi masih saja belum mengerti? Bukankah dia juga seorang Ibu?


Bersambung..