
Davin tersenyum lebar. Wajah tampannya telah lama dibasahi oleh keringat dan rambut hitamnya pun ikut basah karena keringat. Davin terlihat sangat tampan dan agak... menggoda, tentunya.
"Tapi Mommy, Tio masih belum dapat giliran." Keluh Tio cemberut.
Dia sangat iri melihat Kakaknya digendong oleh Daddy. Walaupun sebelumnya sudah mendapatkan giliran, tapi dia masih ingin digendong Daddy.
"Mainnya di tunda dulu, sayang. Memangnya siapa tadi yang bangunin Mommy buat masak? Sekarang setelah Mommy capek-capek masak dan makanannya udah jadi, Tio malah gak mau makan dan mau main dulu. Mommy jadi sedih nih makanan buatan Mommy gak dimakan." Rein berpura-pura menyedihkan di depan anak-anaknya.
Rein mungkin tidak menyadari jika sikap centil dan ekspresi 'sok' menyedihkannya ini telah membuat seseorang merasa gemas ingin menyentuhnya.
"No, Mom. Kalau Tio gak mau makan, biar Aska aja yang habisin semua makanannya." Kata Aska menawarkan diri agar Rein tidak sedih.
Lagipula masakan Mommy sangat enak dan lezat, jadi mana mungkin Aska mau melewatkannya?
Untuk masakan Mommy, dia rela menunda waktu untuk bermain dan kembali lagi setelah kenyang!
"Kak Aska jangan habisin semua makanannya! Aku, aku juga mau kok ikut makan!" Cegah Tio panik.
Rein tersenyum puas. Anak-anaknya memang berhati lembut dan mudah sekali mengalah bila Rein bertingkah sedikit menyedihkan.
"Kamu bilang mau main dulu." Aska menatap heran adiknya.
Tio berkilah,"Enggak, kok. Aku bilang mau makan masakan Mommy dulu."
"Okay, okay, jangan debat dulu. Daripada debat lebih baik Aska dan Tio langsung aja ke meja makan sebelum makanannya jadi dingin."
Aska dan Tio mendengarkan dengan patuh. Mereka secara kompak melarikan diri masuk ke dalam rumah.
"Jangan lupa cuci tangan dan kaki ya sebelum ke meja makan." Teriak Rein lupa mengatakan instruksi ini.
Dari dalam rumah Aska dan Tio berteriak keras,"Okay, Mom."
"Iya, Mommy!"
Setelah kepergian anak-anak, Rein menghampiri Davin yang masih berdiri di bawah cahaya matahari sore. Wajahnya dan rambutnya yang basah oleh keringat tampak indah bermandikan sinar hangat dari matahari sore. Rein terpesona. Wajah putihnya diam-diam menyebarkan rona merah menggoda yang terlihat manis dan cantik pada saat yang bersamaan.
"Aku baik-baik saja." Kata Davin dengan senyum cerah di wajahnya.
Rein balas tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya mengerti sebelum akhirnya membawa langkah kakinya lebih cepat mendekati Davin. Setelah benar-benar mendekat, Rein tanpa ragu melemparkan dirinya ke dalam pelukan hangat Davin. Memeluknya erat untuk berbagi kehangatan yang sudah lama dirindukan hati terdalamnya.
"Senang rasanya melihat kamu akhirnya kembali." Kembali seperti dulu lagi, Davin Demian, kekasihnya.
Davin balas memeluk Rein seerat mungkin. Mengecup puncak kepala Rein beberapa kali, lalu mengecup kedua mata persik nya yang mulai basah, kemudian turun ke pipi dan puncak hidungnya, dan terakhir bibir ranum Rein akhirnya menjadi santapan nya yang paling akhir.
Davin mengecupnya ringan, penuh kelembutan dan kasih sayang tanpa ada campur tangan hasrat sedikitpun. Dia mencintai wanita hebat yang ada di dalam pelukannya ini, rela memperlakukannya dengan penuh kasih dan tulus, rela melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia dan tersenyum, demi Rein Xia, wanita yang telah lama menguasai hatinya, Davin rela mengerahkan seluruh kemampuannya agar tumbuh menjadi laki-laki yang kuat.
Demi Rein, kekasihnya.
"Mom, Dad! Kenapa kalian belum masuk?" Teriakan nyaring Aska segera menarik Rein dari pesona Davin.
Rein sangat malu dan menjaga jaga jarak dari Davin, mata persik nya yang basah diam-diam melirik pintu masuk dan tidak menemukan siapapun di sana. Dia akhirnya bisa bernafas lega.
Rein cemberut,"Mereka tidak mengerti karena kita belum menikah." Kata Rein tidak berbohong.
Anak-anaknya memang belum mengerti dunia orang dewasa tapi mereka mendengar dari orang-orang di sekitarnya jika orang tua mereka belum menikah secara resmi sehingga adegan vulgar seperti tadi tidak seharusnya mereka lihat.
"Oh, kamu tidak sabar ingin menikah dengan ku?" Tanya Davin bercanda, akhir-akhir ini dia suka menggoda Rein karena menurutnya, reaksi Rein terlalu lucu dan manis, tentunya.
"Jadi, kamu tidak mau?" Balas Rein jutek.
Davin buru-buru mengeratkan tangannya di pinggang ramping kekasihnya sebagai tanda penolakan.
"Kamu hanya bisa menjadi milikku." Klaim Davin serius.
"Hem?" Rein malu tapi senang dengan reaksi kekasihnya.
"Sekarang aku sudah sembuh dan kita bisa menyusun rencana pernikahan kita lagi. Menurutku lebih cepat lebih baik, bagaimana jika setelah pesta berlangsung?"
Rein tidak tahu jika akan ada pesta. Pasalnya Davin maupun Adit tidak pernah mengatakan jika mereka akan mengadakan pesta.
"Pesta?"
Davin mencubit puncak hidung Rein sayang,"Kamu akan tahu setelah waktunya tiba." Kata Davin sok misterius.
Pesta adalah pertunjukan terakhir yang dia miliki sebelum memenangkan keluarga kecilnya. Kapan waktunya berlangsung? Davin tidak terburu-buru untuk memulai pesta tersebut.
Dia adalah laki-laki yang sabar dalam hal menangkap mangsanya, tidakkah sifat pemburu seperti itu?
"Dav, kok kamu gak-"
"Mommy, Daddy! Tio lapar!"
Rein terpaksa menelan pertanyaan kembali ke dalam mulutnya karena anak-anak sudah berteriak-teriak di dalam rumah ingin segera makan.
Alhasil Rein menyampingkan pikiran tersebut dan tanpa sadar mulai melupakannya. Karena toh, pesta tidak terlalu memiliki perhatian khusus di dalam hatinya, dan di samping itu, wajar saja Davin mengadakan pesta karena kebiasaan orang kaya selalu seperti ini.
...🌪️🌪️🌪️...
Di sore hari berikutnya, rumah mereka tiba-tiba kedatangan tamu dari rumah utama. Mereka tidak ditahan lagi saat memasuki area vila karena Davin secara khusus memerintahkan penjaga untuk membiarkan siapapun yang berasal dari rumah utama masuk untuk bertemu.
Dan kebetulan sekali. Tepat setelah satu hari Davin dan keluarga kecilnya kembali ke rumah, mereka langsung didatangi beberapa orang dari rumah utama.
"Tuan, mereka sudah ada di sini." Lapor salah satu penjaga.
Davin meletakkan buku bisnisnya di atas meja, tersenyum dingin, dia memiliki rasa arogansi yang telah mendarah daging di dalam dirinya.
"Hem, sangat tidak sabar ternyata. Bawa mereka masuk." Perintah Davin.
Setelah penjaga itu pergi, Davin tidak tinggal lama di ruang tengah. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kursi roda yang telah lama dia biarkan berdebu.
"Lho, kamu mau ngapain bawa kursi roda keluar?" Tanya Rein heran dengan wajah bersih dan menyegarkan setelah mandi.