
Rein masuk ke dalam ruangan kantor Davin. Ketika masuk dan melihat situasi wajah datarnya goyah selama beberapa detik. Mulutnya sempat terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi kata-kata yang ingin dia ucapkan terpaksa ditelan kembali.
"Pak, apa Anda membutuhkan sesuatu?" Pada akhirnya dia hanya bisa mengeluarkan kata-kata ini.
Davin sore ini menggunakan kacamata kerjanya lagi. Aura yang ia bawa pun juga berubah, tampak seksi dan serius. Ini adalah aura berbeda yang seringkali orang-orang bicarakan mengenai laki-laki. Mereka terlihat akan sangat menawan bila sudah sibuk bekerja.
Rein memang tidak bisa menampik bahwa dia terpesona melihat betapa menawannya Davin sekarang. Dia lebih dewasa dari 5 tahun yang lalu.
"Apa kamu buta?" Davin menyingkirkan tangannya dari kening dan beralih menggunakannya sebagai tumpuan kepalanya.
Rein gatal ingin mengumpat. Tapi dia masih bisa menahan diri.
"Pak, emosi Anda sepertinya sedang tidak baik. Aku sarankan Anda untuk pergi ke rumah sakit daripada harus melempar-lempar barang seperti ini lagi. Kebiasaan ini tidak baik untuk kesehatan Anda." Sindir Rein sambil duduk jongkok di lantai untuk mengumpulkan berkas-berkas penting- yang sudah dua kali menjadi korban kekerasan Davin.
Davin tersenyum aneh, kilatan rasa lelah yang ia buat-buat tadi sudah lama ia singkirkan. Saat ini ia adalah Davin dengan rasa arogansi yang menjengkelkan, sombong dan berkuasa.
"Entahlah, jika seseorang itu tidak membuat masalah untukku lagi, maka mungkin emosiku bisa lebih terjaga." Davin meladeni Rein dengan santai.
Rein mengernyit, seseorang?
Mungkinkah yang Davin maksud adalah kekasih modelnya yang berada entah dimana? Oh, Rein seharusnya tidak perlu ikut campur dalam urusan percintaan laki-laki tidak berperasaan ini tapi hatinya tidak bisa melepaskan topik pilihan ini.
"Kenapa harus repot-repot, cukup bawa seseorang itu pulang dan ikat dia di sisi Anda, maka masalah emosi Anda bisa diselesaikan. Bukankah begitu, Pak Davin?" Ucap Rein sambil mengangkat kepalanya, menatap langsung wajah angkuh Davin yang kini sedang menatapnya pula.
Wajah tampan sedingin es itu terlihat menawan dengan kacamata kerja di wajahnya. Ah, jika ini mereka yang dulu mungkin Rein tidak akan ragu melemparkan dirinya ke dalam pelukan hangat Davin. Namun, hubungan saat itu adalah sebuah kepalsuan, Rein adalah lelucon yang paling menghibur untuk Davin tahun-tahun itu.
Sakitnya. Batin Rein memalingkan wajahnya, mulai fokus mengumpulkan berkas-berkas yang berserakan.
"Membawanya pulang dan mengikatnya tetap di sisiku, apakah ini sudah saatnya?" Gumamnya dengan pikiran yang tidak bisa ditebak.
Rein mendengus tidak perduli. Daripada menimpali Davin, dia memilih merapatkan mulutnya sambil bergerak cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Biar bagaimanapun juga 'seseorang' itu tidak ada hubungannya dengan dia. Jadi lebih baik diam daripada mengatakan kata-kata yang tidak berguna. Di samping itu ia harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini dan segera kembali karena Tio sendirian menunggunya di bawah.
"Dimas Putra." Ucap Davin membuat gerakan tangan Rein mandek.
Ini hanya beberapa detik saja karena Rein segera mengembalikan wajah datarnya yang acuh tak acuh.
"Aku dengar kamu sekarang tinggal dengannya di sebuah apartemen paling bobrok di kota ini." Ucap Davin dengan nada menghina.
Rein tidak perduli, dia tidak tahu untuk apa Davin membahas masalah ini, tapi sebagai sahabat yang setia dia tidak mungkin membiarkan Dimas dihina oleh orang lain, apalagi orang itu adalah Davin, si laki-laki tidak berperasaan.
"Apa ini penting untuk Anda?" Tanya Rein tanpa melihat wajah tampan Davin yang angkuh.
"Hem, bagaimana mungkin?" Kata Davin mencela,"Jadi menurutmu, semua tentang kamu penting untuk dibicarakan?"
Rein memejamkan matanya bersabar.
"Tentu tidak, Pak. Bagaimana mungkin aku punya pemikiran selancang itu. Akan tetapi satu hal yang menarik perhatian ku, bila ini tidak penting untuk Anda, lalu kenapa Anda mengungkit masalah ini?" Tanya Rein tidak mengerti, dia benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan oleh laki-laki angkuh ini.
"Hah..." Davin menghela nafas panjang, merasa bosan.
Dia kini bersandar malas di kursi kebesarannya dengan kedua mata tajam yang terus menerus memperhatikan Rein. Di depannya Rein menunduk dengan patuh mengumpulkan semua berkas-berkas yang telah ia kacau kan beberapa waktu yang lalu.
Rein, tubuhnya jauh lebih kurus daripada 5 tahun yang lalu dan kulitnya pun terlihat kusam, seperti tidak pernah dirawat dengan baik. Lalu telapak tangannya...itu lebih kasar dari tangan wanita seharusnya. Mungkin, dia telah melalui tahun-tahun yang sulit setelah mereka berpisah atau mungkin dia tidak lagi memikirkan hidupnya setelah mereka berpisah.
Sekali lagi ini hanyalah sebuah kemungkinan dan Davin masih belum bisa memastikannya.
"Aku hanya kasian kepadamu, Rein. Setelah berpisah denganku sepertinya kamu sangat putus asa sampai-sampai tidak keberatan tidur dengan laki-laki mana saja. Katakan, seberapa murah mereka membayar mu?" Tanya Davin acuh tak acuh, tidak ada nada rasa bersalah sedikitpun di dalamnya.