
Anggi mengusap puncak kepala Aska dan Tio yang telah tertidur lelap setelah makan malam. Mereka baru saja keluar dari pesawat tapi masih sangat energik dan bersemangat. Anggi sampai kewalahan menghadapi mereka berdua.
Tapi bersama Aska dan Tio selalu mengingatkan Anggi kepada kedua anak-anaknya. Bertanya-tanya apakah kedua anaknya baik-baik saja di Indonesia.
Mereka sudah lama tidak bertemu, mungkin semenjak Anggi menjadi mainan Revan. Anggi sebelumnya sangat kacau dan hancur sehingga dia tidak memiliki keberanian untuk melihat anak-anaknya.
Dia tidak sanggup bertemu dengan anak-anaknya dalam keadaan kotor seperti ini. Tapi jujur, dia sangat merindukan anak-anaknya. Ingin sekali dia memeluk erat anak-anaknya untuk menenangkan kerinduan dihati.
"Aunty, dimana Mommy?" Aska tiba-tiba bangun dari tidurnya dan mencari keberadaan Rein.
"Mommy sedang menemui Daddy dan sebentar lagi akan pulang." Jawab Anggi lembut seraya membujuk Aska tidur kembali.
Aska dengan mudahnya tidur kembali. Dia dan Tio tidur sangat lelap.
"Ini sudah jam 9 malam," Gumam Anggi saat menatap jam dinding di atas ranjang hotel.
"Mungkin sebentar lagi Rein akan pulang." Anggi padahal sudah mengantuk, badannya pun pegal-pegal karena menempuh perjalanan jauh tanpa henti dari Indonesia.
Tapi karena Rein belum kembali, Anggi memutuskan untuk menunggu kepulangan Rein.
"Pertama-tama aku harus membuang sampah ini dulu agar kamar lebih bersih dan nyaman."
Anggi lalu turun dari tempat tidur. Menarik lengan panjang bajunya dan mulai memungut sampah makanan yang anak-anak buang. Setelah memungut sampah, Anggi beralih membersihkan makanan hotel yang masih belum selesai anak-anak habiskan. Dia menumpuk piring jadi satu dan mendorong kereta makanan hotel keluar dari kamar.
Setelah menempatkan kereta makanan di samping pintu kamar, Anggi hanya perlu menunggu staf hotel membawanya pergi.
"Nah, sekarang sudah selesai." Kata Anggi sambil meregangkan tubuhnya.
Dia akan masuk kembali ke dalam tapi langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat seseorang yang tidak asing untuknya.
"Dimas?" Kaget Anggi meragukan penglihatannya sendiri.
Dimas adalah sahabat baik Rein dan dengar-dengar mereka sempat mengalami perseteruan hingga berimbas pada putus hubungan. Sejak perseteruan itu Dimas tidak pernah datang lagi ke perusahaan. Dia menghilang tanpa kabar dan kejelasan di perusahaan. Teman-teman dan kerabatnya tidak tahu kemana dia pergi karena Dimas tidak pernah mengatakan apapun sebelum menghilang.
Anggi kita itu pasti ada hubungannya dengan Rein dan Davin, dan Anggi juga mengira Dimas kembali ke orangtuanya untuk mengambil alih pekerjaan kedua orang tuanya. Dia awalnya berpikir seperti itu tapi setelah melihatnya di sini Anggi tidak memikirkan alasan lain.
Mengapa Dimas ada di sini dan ada urusan apa Dimas ada di sini?
"Apa aku harus menghampirinya?" Gumam Anggi ragu.
Dimas di depan sana sepertinya tidak menyadari keberadaan Anggi. Dia menutup pintu kamarnya dan pergi membawa langkah kakinya masuk ke dalam lift.
"Dim-"
Anggi sontak menoleh ke belakang dengan panik. Entah sejak kapan Adit sudah berdiri di samping pintu kamar hotelnya.
"Mas...mas Adit." Anggi menyapa dengan gugup.
Adit menyipitkan matanya menilai,"Apa yang sedang kamu lakukan di luar?" Tanya Adit masih dengan nada dinginnya.
Anggi langsung teringat dengan keberadaan Dimas jadi dia langsung memberitahu Adit karena biar bagaimanapun juga, Dimas adalah bawahan Adit di perusahaan jadi dia harus tahu keberadaan Dimas sekarang.
"Mas, tadi aku melihat Dimas keluar dari kamar ini." Katanya menunjuk kamar yang bersebelahan langsung dengan lift.
"Aku sempat memanggilnya tapi dia tidak mendengar ku dan langsung masuk ke dalam lift." Sambung Anggi lagi.
"Dimas?" Kening Adit mengkerut dalam tampak memikirkan sesuatu.
"Iya, Mas. Aku yakin orang itu adalah Dimas. Jika Mas tidak percaya, kita bisa menunggunya kembali lagi ke sini untuk menyapanya." Anggi sangat yakin dengan apa yang dia lihat tadi.
Dia tidak mungkin salah lihat karena dari tinggi maupun wajah, orang itu jelas-jelas Dimas. Tidak diragukan lagi.
"Tidak perlu." Tolak Adit tanpa berpikir panjang."Kita dan dia tidak memiliki urusan apapun jadi jika kamu bertemu dengannya di masa depan, berusahalah untuk menghindarinya atau jangan menyapanya. Ini adalah perintah dari tuan Davin." Jika menyangkut Davin, maka semuanya akan terdengar sangat serius untuk Anggi.
"Oh, aku mengerti. Di masa depan nanti aku akan berusaha menghindarinya." Kata Anggi berjanji.
"Lalu," Anggi melihat ke belakang Adit tapi tidak menemukan sosok Rein.
"Dimana Rein?"
"Rein tidak akan pulang. Dia menginap di rumah sakit malam ini."
Anggi langsung mengerti. Rein sangat terguncang kemarin dan pikirannya sangat kacau memikirkan Davin, jadi wajar saja Rein tidak mau menjauh dari Davin begitu sampai di sini.
Anggi pun jika berada di posisi itu juga akan melakukan hal yang sama.
"Apa tuan Davin baik-baik saja?" Tanya Anggi merasa sangat canggung. Sedari tadi dia selalu mencari topik untuk mencairkan suasana tapi Adit selalu membalasnya dengan datar.
Sangat menyebalkan.
"Masalah ini tidak bisa dibicarakan di sini. Masuklah, aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu."
Anggi mengangguk cepat. Dia langsung masuk ke dalam kamar hotel dengan mengekori Adit. Di dalam hatinya dia merasa aneh karena Adit juga memegang kunci kamar hotelnya.