
3 jam kemudian Davin telah puas bekerja- ah, lebih tepatnya Davin telah puas bermain dengan putranya di kantor.
Tidak ada lagi yang bisa dikerjakan di kantor karena semua pekerjaannya telah diselesaikan oleh Adit dan Tio juga sudah mulai mengantuk. Ia belum tidur siang sehingga menjelang sore ia telah kehilangan energi.
"Ingin pergi ke supermarket?" Tawar Davin sambil menunggu Rein membereskan semua kekacauan yang ia dan putranya ciptakan.
Rein menolak tanpa pikir panjang karena bahan-bahan makanan di rumah Davin masih banyak dan takutnya akan terbuang sia-sia jika mereka membeli yang baru lagi.
"Di rumah masih banyak bahan makanan."
Davin tidak menawarkan lagi. Ia membawa putranya yang sudah mengantuk ke dalam gendongannya, menepuk punggung Tio lembut sambil berjalan mondar-mandir di sekitar kantor.
Dia sudah seperti seorang Bapak-bapak berpengalaman saja.
30 menit kemudian mereka akhirnya keluar dari kantor. Masuk ke dalam lift presiden di bawah pengawasan senyum palsu penuh kecemburuan Lisa.
Selama ini Lisa sangat khawatir memikirkan apa yang sedang Rein lakukan di dalam kantor Davin. Dia khawatir wanita 'malam' itu melakukan sesuatu yang buruk kepada Davin.
Akan tetapi sekuat apapun Lisa berpikir ia tidak bisa menemukan apa-apa kecuali perasaan khawatir yang semakin meningkat saja. Bahkan pekerjaan yang ada di layar komputernya seringkali ia abaikan, padahal Adit memerintahkannya untuk segera menyelesaikannya hari ini juga.
"Oh Tuhan, aku bisa gila jika terus memikirkannya!"
Teriaknya frustasi seraya memaksakan kepalanya untuk fokus pada pekerjaan yang sudah lama tertunda di selesaikan.
Sementara itu di dalam lift presiden. Davin dan Rein tidak pernah berbicara, bahkan di saat keluar dari lift pun mereka masih saja diam membisu.
Rein dengan patuh mengikuti di belakang Davin. Bertindak ia hanyalah orang asing untuk Davin di depan banyak pasang mata karyawan.
Menunduk, Rein tidak memiliki minat mengangkat kepalanya karena tidak ingin bertemu pandang dengan-
"Rein!"
Deg
"Rein, liat gue!" Suara ini memanggilnya lagi.
Canggung, Rein mengangkat kepalanya perlahan. Melihat ke arah sumber suara yang tidak terlalu jauh darinya.
Benar, ini adalah Dimas. Orang yang sudah beberapa hari ini dia hindari.
Tidak, tidak. Rein tidak bermaksud menjauhi Dimas dan melupakan semua kebaikannya, Rein sama sekali tidak bermaksud melakukannya.
Hanya saja... Rein tahu Dimas sangat membenci Davin dan dia juga tahu bahwa Dimas pasti sangat marah mengetahui bila ia tinggal bersama Davin.
Untuk itu, Rein tidak berani bertemu Dimas untuk saat ini. Waktu ini masih belum tepat untuk berbicara dengan Dimas.
Ia ingin menghampiri Rein tapi karena alasan tertentu ia menahan langkahnya.
Rein mengepalkan tangannya ragu.
"Apa yang sedang kamu lihat? Fokus pada langkahmu jika tidak ingin mempermalukan diri sendiri seperti sebelumnya." Suara Davin dingin.
Tidak hanya suaranya, namun ekspresinya pun tidak kalah dinginnya. Rein seperti melihat Davin dari waktu-waktu sebelumnya. Ketika sikap angkuh dan arogan lebih mendominasi.
Rein kembali menundukkan kepalanya, mengabaikan teriakan Dimas yang terus memanggilnya dengan panik.
Dia menghela nafas panjang,"Maaf, Dimas. Mungkin tidak sekarang." Bisiknya meminta maaf.
"Masuk." Perintah Davin sambil membuka pintu mobil untuk Rein.
Rein ingin marah seperti biasanya tapi ia segera menelan kemarahannya ketika melihat wajah dingin Davin.
Davin sepertinya sedang marah, tapi apa alasannya?
Bukankah sebelumnya dia masih tertawa dengan Tio bahkan meskipun menjengkelkan, tapi itu jauh lebih baik daripada sikap dinginnya saat ini.
Di dalam mobil suasana terasa tidak benar. Dari awal masuk sampai mereka duduk, Davin terus saja memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
Rein terganggu, jujur. Atau mungkin lebih tepatnya dia menjadi salah tingkah diperhatikan seperti ini oleh Davin.
"Jauhi, Dimas." Suara Davin masih dingin.
Rein spontan menolak,"Aku tidak bisa, dia adalah sahabatku."
Davin tidak suka mengulangi kata-katanya,"Aku tidak perduli Rein, aku hanya ingin kamu mulai dari sekarang menjauhi laki-laki brengs*k itu."
Rein emosi,"Brengs*k?"
Tiba-tiba kata ini terdengar lucu di dalam pendengaran Rein.
"Davin, bukankah kamu tahu sendiri siapa yang lebih brengs*k di sini?" Tanya Rein dengan nada mencemooh.
Ah, rasanya sungguh tidak nyaman. Davin mengakui bahwa hatinya cukup sesak ketika mendengar pertanyaan mencemooh ini keluar dari mulut orang yang dia cintai.
Hah...
"Rein, aku serius. Jauhi Dimas mulai dari sekarang jika kamu masih ingin Tio tinggal bersamamu!"
Bersambung...