My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
70. 70 (2)



"Apa yang mbak Anggi bicarakan? Ini semua adalah garis takdir yang Tuhan garis kan kepada kita. Aku dan mas Davin hanya menjadi perantara saja di dalam hubungan kalian, selebihnya Tuhan yang mengatur semuanya. Tapi mbak Anggi, terlepas dari semua yang kita lalui mbak Anggi harus memahami satu hal bahwa hubungan mbak Anggi dan mas Adit pasti mendapat restu Tuhan. Tuhan meridhoi hubungan mbak Anggi dan mas Adit, menyatukan kalian dengan skenario yang tidak disangka-sangka, bukankah hasilnya begitu indah dan memukau mbak? Sebab skenario fantastis ini juga pernah ku rasakan, mbak. Tuhan selalu punya cara untuk menyatukan dua hati yang sedang merindu dengan tulus. Dan untuk semua rahmat Tuhan tersebut, sampai dengan detik aku tidak pernah berhenti bersyukur. Bersyukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan ku dan mas Davin, bahkan memberikan kami hadiah yang sangat luar biasa. Tuhan hadirkan Tio dan Aska di dalam kehidupan kami untuk mewarnai keraguan yang sempat melilit hati kami. Lalu untuk hari-hari selanjutnya aku tidak bisa menebak hadiah apa yang akan Tuhan berikan kepada kami lagi... mungkin...akan ada anak lagi di dalam kehidupan kami atau mungkin semua rencana atau karir mas Davin semakin gemilang. Aku tidak tahu dan aku tidak berani menebak, hanya berani berharap sembari bersyukur untuk semua yang Tuhan limpahkan."


Aku bisa merasakan apa yang nyonya Rein katakan. Syukur adalah kata yang paling tepat untuk mewakili betapa bahagianya hati ini ketika mendapati bahwa Tuhan nyatanya selalu mendengarkan apa yang kita katakan. Harapan yang awalnya diragukan dan dianggap mata dalam cara yang sangat tidak terpikirkan tiba-tiba muncul atau terkabulkan. Posisi ini tidak hanya dilalui oleh nyonya Rein tapi aku juga. Aku...masih belum bisa mempercayainya bila sekarang aku di sini. Di sebuah vila mewah yang dibangun di atas pulau pribadi untuk melaksanakan upacara pernikahan ku. Dan malam ini aku sedang berada di dalam kamar mewah berserta gaun pernikahan ku yang megah. Sungguh sangat sulit mempercayainya. Bahkan lebih sulit lagi meyakinkan diri sendiri agar mempercayai apa yang aku lihat sekarang.


Tapi semuanya memang nyata. Ini bukan mimpi.


Aku akan menikah dengan mas Adit. Ini adalah bukti yang akan selalu mengenang di dalam hatiku, tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku.


"Nyonya...aku juga merasakannya. Aku malah sering berpikir bila ini hanyalah mimpi." Kataku malu.


Dia tersenyum lembut, wajahnya begitu cantik dan menawan di bawah sinar bulan yang redup.


"Manis, bukan?" Tanyanya padaku.


"Sangat manis." Balasku berbisik.


Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat ini.


"Tentu saja. Ini adalah buah dari kesabaran mas Anggi menghadapi semua cobaan yang Tuhan berikan. Ini adalah buah yang sangat sulit orang-orang dapatkan karena tidak semua orang memilki hati yang lapang jadi mbak Anggi termasuk orang yang sangat beruntung bisa mendapatkannya." Katanya tiba-tiba segera mengingatkan ku pada perjalanan hidup ku selama bertahun-tahun hingga sampai ke titik ini.


Terutama tahun-tahun ketika aku mendapatkan pengkhianatan dan tragedi menyakitkan dimana aku mulai merasa sangat kotor, itu adalah waktu yang terberat yang ku hadapi dalam hidup ini. Masa dimana kisah ku dan mas Adit mulai terjalin.


"Yah, ini adalah buah manis dari tahun-tahun sulit yang pernah aku lewati dalam hidup ini." Kataku sambil mengalihkan perhatian ku menatapnya.


Dia tersenyum lembut. Mengungkapkan suasana lega dan nyaman yang entah kenapa memiliki efek sihir di dalam hatiku. Berbicara dengan nyonya Rein dapat menekan hatiku yang gugup untuk acara esok. Besok, hem, adalah lembaran baru di dalam hidupku.