
Rein mengikuti dengan patuh di belakangnya. Dia tidak bertanya akan ada acara apa di auditorium nanti karena itu bukanlah urusannya. Rein hanya pekerja kasar yang tidak terlalu diperhitungkan keberadaannya di sini.
Mereka berdua menggunakan lift untuk naik ke lantai 7. Kebetulan auditorium perusahaan ini berada di lantai 7, agak berbeda dengan gedung-gedung di luar sana.
"Usahakan untuk tidak membuang-buang waktu di sini karena kita tidak punya waktu untuk bersantai-santai." Peringat laki-laki itu kepada Rein.
"Mengerti, Pak."
Hari ini mereka tiba-tiba mendapatkan kabar akan ada acara di sini. Kabar ini datang terlalu dadakan sehingga mereka tertangkap tidak siap dan menjadi kelabakan.
Mereka tidak bisa protes dan mau tidak mau mengerahkan hampir semua pekerja pembersih untuk menyiapkan semua keperluan acara secepat mungkin.
"Rein!" Begitu masuk ke dalam auditorium, Rein dipanggil oleh Mbak Anggi yang sedang membersihkan meja dan kursi bersama rekan-rekan kerja yang lain.
"Lo juga di sini, Mbak."
Rein mengambil lap bersih yang ada di atas meja untuk mengikuti jejak Mbak Anggi.
"Ini gak penting, Rein! Lo tahu enggak seharian ini bos Davin kerjaannya marah-marah mulu di dalam kantor."
Rein tidak terkejut.
"Oh ya, bos marah-marah karena ada masalah apa, Mbak?" Dia bertanya basa-basi.
"Gue gak tahu dia marah karena apa tapi yang pasti setiap karyawan yang datang mengirim laporan keluar dengan wajah pucat!" Cerita Mbak Anggi bergidik.
Dia masih ingat kejadian tadi pagi ketika dia mengantarkan kopi ke ruangan Davin. Saat itu ada 4 atau 5 orang yang sedang mengantarkan laporan kepada Davin untuk dimintai tandatangan. Seharusnya laporan mereka bisa diluluskan oleh Davin akan tetapi ketika melihat Mbak Anggi masuk dengan secangkir kopi di atas nampan, kemarahannya menjadi tidak masuk akal.
Dia mengoreksi setiap laporan dengan detail dan mempermasalahkan kekurangan satu huruf di dalam laporan masing-masing. Laporan yang seharusnya selesai Davin minta perbaiki lagi dengan yang lebih sempurna.
"Mereka dimarah habis-habisan hanya karena kekurangan satu huruf! Bos Davin bilang mereka terlalu bodoh atau ceroboh lah sampai-sampai kesalahan satu huruf saja tidak disadari! Ck..ck..bos Davin kalau marah mukanya nyeremin walaupun yah..masih ganteng."
Dia sudah tahu. Rein memang sudah tahu betapa arogan laki-laki tampan itu sejak dia pertama kali menjalin kasih.
Hah..
Masa lalu.
"Habis itu dia minta gue keluar dari ruangannya. Dia juga bilang kalau di masa depan nanti gue gak boleh buatin atau anterin kopi ke ruangannya. Padahal salah gue apa coba?" Mbak Anggi masih melanjutkan ceritanya tanpa menyadari ekspresi wajah Rein yang sudah mulai bosan.
"Eh, bukankah itu bos Davin?" Suara rekan-rekan kerja mereka mengalihkan perhatian Rein.
Dia mengangkat kepalanya, melihat Davin bersama petinggi perusahaan yang lain berbicara di depan pintu masuk auditorium.
"Tidak penting." Gumam Rein kembali menurunkan kepalanya.
Dia mengelap permukaan meja dengan serius sampai tidak menyadari suara-suara disekelilingnya menjadi senyap digantikan oleh kebisuan.
Perlahan dari jauh suara langkah seseorang berjalan mendekati Rein yang masih fokus mengelap permukaan meja. Suara itu sangat dekat sehingga fokus Rein menjadi terganggu. Lalu dia mengernyit heran ketika tidak mendengar suara langkah kaki itu lagi.
"Rein.." Panggil Mbak Anggi dengan suara mencicit.
"Hem-" Rein menjawab malas seraya mengangkat kepalanya menatap-wajah dingin Davin kini sedang menatapnya bosan.
"Aku ingin kopi."
Bersambung..
Jadi udah keliatan dong kalau si Davin ini masih galak-galak meong sama si Rein. Padahal sih...kalian bisa nilai sendiri, ehe🍃