My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
9. (9)



"Aku tahu kamu bukan wanita yang bodoh. Bagaimanapun, tuan dan nyonya mempercayakan kamu berada di sisi mereka." Puji Adit tiba-tiba.


Anggi menggigit bibirnya malu. Dia tidak mengatakan apa-apa sebagai tanggapan tapi Adit tahu jika Anggi pasti malu mendengar pujiannya. Sebab Adit termasuk laki-laki yang jarang memberikan pujian kepada orang lain. Jadi sekalinya berbicara, orang yang dipuji akan merasa melayang saking malunya.


Sayang sekali Adit tidak bisa melihat reaksinya. Mungkin rasanya akan lebih menyenangkan melihat rona merah itu mengembang di pipi gembil Anggi yang mulus.


"Kak Adit!"


Tepat saat mereka akan mencapai vila, suara manis dan nyaring Sera memanggil dari kejauhan. Sera sedang keluar ke pantai bersama teman-temannya untuk menikmati pemandangan indah pantai di malam hari. Sebelumnya dia sempat mengajak Adit ikut bersamanya untuk berkumpul tapi Adit menolak dengan alasan ingin beristirahat.


Sera pikir dia benar-benar istirahat tapi siapa sangka orang yang dia pikir sedang tidur ternyata sedang menggendong seorang wanita di punggungnya. Dilihat dari arah mereka datang, Sera akan sangat bodoh jika tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi.


Terbakar amarah dan cemburu, dia lantas berlari mendekati mereka berdua bersiap untuk mengintrogasi. Tapi semua kata-katanya seolah tertelan saat melihat dengan jelas jika orang yang digendong Adit dipunggung adalah Anggi, wanita kotor yang telah lama menjadi ancaman untuk Sera.


"Kak Adit habis darimana?" Tanya Sera lemah.


Dia melirik Anggi kesal sebelum memfokuskan perhatiannya kepada Adit.


"Aku dan Anggi baru saja berjalan-jalan di pantai." Akui Adit tidak menutupinya.


Sera kian marah dengan kejujuran Adit. Tapi dia berusaha menahan kemarahannya agar tidak merusak image di depan Adit. Sebenarnya dia memang gadis yang lembut tapi sangat sensitif bila melihat Anggi, apalagi jika Anggi berada di dekat orang yang dia sukai, rasanya sangat menyesakkan dada.


Sera cemberut,"Waktu aku ajak tadi, kak Adit katanya mau istirahat tapi kok malah pergi jalan-jalan sama mbak Anggi?" Keluh Sera.


Sebagai seorang wanita, Anggi tentu bisa merasakan ketidaksukaan Sera kepadanya. Mungkin itu cemburu, dan Anggi bisa mengerti ini. Karena itulah dia memberikan kode kepada Adit agar menurunkannya, tapi Adit seolah tuli tidak mendengarkan kodenya. Dia tetap menahannya di punggung.


"Tadinya aku memang ingin beristirahat. Tapi aku berubah pikiran saat melihat banyak orang di pantai. Jadi aku kembali turun ke bawah dan bertemu dengan Anggi. Maka aku mengajaknya ikut bersamaku untuk jalan-jalan." Kata Adit tanpa merubah wajahnya.


Datar dan dingin, sama seperti biasa dan Sera juga tidak terkejut karena dia sudah biasa dengan kekauan Adit sejak bertahun-tahun yang lalu.


Sera langsung mempercayainya karena logikanya Adit mana mungkin membuat janji dengan Anggi, si janda genit.


"Kak Adit harusnya ajak aku dong, kak. Aku kan juga dibawah."


Adit menggelengkan kepalanya,"Aku tidak tahu dimana kamu jadi aku langsung pergi dengan Anggi."


Sera cemberut. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi Adit lebih dulu berbicara, mencegahnya mengatakan kata-kata selanjutnya.


"Maaf, Sera. Aku harus kembali ke vila. Anggi sakit dan aku juga ingin beristirahat. Selamat malam."


Sera kecewa, dia mengepalkan kedua tangannya tidak rela.


"Ah... Selamat malam, kak." Ucapnya enggan.


Kecewa, hatinya terluka melihat kepergian Adit dan Anggi yang semakin jauh dari pandangannya. Apapun alasannya asalkan itu Anggi, dia tidak bisa menghilangkan keresahan di dalam hatinya. Dia menginginkan Adit dan berharap Adit akan menjadi miliknya. Ini bukanlah sekedar mimpi karena Davin adalah sepupunya. Bila Davin mau, dia dan Adit bisa bersama. Hanya saja keberadaan Anggi terlalu mengganggunya, entah kenapa.


Mungkin karena insiden Revan atau karena dia sekarang berstatus janda, entahlah, Sera tidak tahu alasan mana yang tepat. Tapi yang pasti Adit hanya bisa bersanding dengannya.


Sera tersenyum tipis,"Kebetulan aja dia tadi ketemu sama kak Adit. Kalau enggak, mungkin tadi dia jualannya sama aku." Kata Sera dengan nada masam.


Sahabat Sera mengangkat alisnya aneh, mengangkat bahunya tidak perduli, dia lalu mengajak Sera kembali ke tempat berkumpul tadi tapi Sera menolak. Dia beralasan agak lelah dan ingin beristirahat di dalam kamarnya. Sahabatnya tidak marah dan membiarkannya pergi kembali ke kamarnya.


Sebab mereka masih punya banyak waktu untuk berkumpul lagi di masa depan.


🌪️🌪️🌪️


Setelah kembali dari pantai, Anggi langsung masuk ke dalam kamarnya. Mandi untuk membersihkan diri dan segera membaringkan diri di atas kasur untuk tidur. Sebelum tidur, dia memakai jas Adit lagi dan memeluk bantal guling seolah-olah sedang memeluk seseorang yang membuatnya menarik senyuman malam ini.


"Aku sangat bahagia, terima kasih Tuhan untuk kesempatan hari ini." Bisik Anggi diliputi perasaan bahagia.


Bahkan dalam tidurnya pun dia masih bisa tersenyum, seolah-olah pengalaman indah yang dia lewati malam ini terulang kembali di dunia mimpi.


Anggi dan yang lainnya menghabiskan waktu selama seminggu penuh di pulau pribadi Davin. Dan kembali pulang ke mansion tanpa penundaan apapun. Untuk pernikahan luar biasa ini semua orang berharap Davin dan Rein bisa pergi berbulan madu ke luar negeri selama beberapa hari tapi Rein menolak dengan alasan sudah puas berbulan madu di pulau pribadi Davin. Pernyataan ini awalnya ditentang dengan keras oleh Davin, ini sangat lucu untuk orang-orang di mansion Demian karena saat itu sikap Davin sangat kekanak-kanakan. Tapi entah apa yang dilakukan Rein kepada Davin, pagi-pagi keesokan harinya Davin dengan senyuman sumringah mengatakan jika mereka sudah cukup berbulan madu dan tidak ingin berpergian lagi.


Suasana lucu ini tidak bertahan lama karena diwaktu- waktu berikutnya semua orang menjadi lebih sibuk. Adit kembali ke rutinitas hariannya, melakukan segala macam pekerjaan yang ditugaskan Davin sedangkan Anggi sendiri sibuk mengatur jadwal segala macam pertemuan kaum sosialita yang ingin menjalin koneksi dengan Rein.


Beberapa pertemuan mungkin akan dihadiri Rein, tapi sebagian besar Rein tolak karena dia tidak suka bersosialisasi dengan orang-orang kaya itu.


Lalu setelah sekian lama kesibukan, hari yang terbebas dari kesibukan pun akhirnya tiba. Karena tidak punya tugas khusus, Anggi berencana untuk cuti sehari pulang ke rumah bertemu dengan anak-anaknya.


"Mbak Anggi, bawa ini untuk anak-anak." Rein mengeluarkan beberapa paper bag isi mainan kepada Anggi.


"Nyonya Rein, ini semua tidak perlu-"


Tapi kata-katanya segera dipotong oleh Rein.


"Anak-anak mbak Anggi adalah keponakan ku jadi tolong kirimkan hadiah ini kepada kedua keponakan ku. Aku akan kesal jika mbak Anggi menolaknya lagi."


Anggi tidak berdaya, dia lalu menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.


"Baiklah, terima kasih, nyonya. Anakku pasti senang mendapatkan hadiah ini."


Setelah mengatur beberapa pelayan untuk melayani Rein selama dia pergi, Anggi kemudian membawa hadiah itu pergi ke sekolah anak-anaknya.


Hadiah yang Rein berikan sangat mahal dan berasal dari perusahaan mainan edisi terbatas, Anggi bisa membayangkan betapa bahagianya kedua anak itu nanti ketika melihat hadiah ini.


"Hampir jam 12 siang, anak-anak sebentar lagi pulang." Gumam Anggi sambil melihat waktu di ponselnya.


Dia lalu turun dari mobil setelah meminta supir untuk menunggu anak-anaknya keluar sebentar lagi.


Anggi wanita yang cantik dengan pakaian dan perhiasan bermerek di tubuhnya. Penampilannya yang mencolok ini lantas menarik perhatian banyak orang tapi dengan santai diabaikan oleh Anggi. Dia sudah terbiasa disorot oleh banyak orang jadi dia tidak canggung saat menghadapi mereka.


"Lho, kak Anggi?!"