
Revan mendengus tidak senang menahan ketidakpuasan dihatinya. Namun karena status mereka ditingkat yang tidak sama, dia dengan amat sangat terpaksa mengukir sebuah senyuman yang terlihat sangat memuakkan di depan Davin maupun Rein.
Davin tidak balas tersenyum, ia menatap datar seolah-olah matanya tidak bisa melihat kemuraman di dalam senyuman palsu Revan. Dia tidak ingin lengah untuk yang kedua kalinya karena kamuflase dari Revan. Pamannya ini memang payah, dia tidak memiliki semangat tinggi dalam bekerja tapi menginginkan hasil yang besar. Siapa yang menyangka jika kesan 'payah' nya tersebut ternyata memiliki tujuan tertentu kepada Davin. Di antara semua Paman maupun Bibinya yang berpotensi menciptakan masalah untuk dirinya, Davin tidak pernah mengira bila orang yang paling berdedikasi adalah Revan. Si anak haram yang payah.
"Aku pikir apa yang Ayah bilang itu bohong jika kamu tinggal di sini. Tapi ternyata dia mengatakan yang sebenarnya, hahaha.. bukankah ini sangat mengejutkan." Dia tertawa kering seorang diri, membuat beberapa orang meliriknya aneh.
Bahkan Davin sendiri tidak susah-susah membuang waktunya untuk mendengarkan semua omong kosong Revan.
"Aku dengar kekasih Paman yang baru telah mengganggu kekasihku. Betapa beraninya, apakah Paman tidak memberitahunya sopan santun saat berbicara dengan orang yang lebih tinggi?" Kata Davin tanpa melihat bagaimana wajah Chiko saat ini.
Chiko sedari awal kedatangan Davin tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Mulutnya seolah terkunci rapat dan tenggorokannya terasa kering seakan-akan telah mengalami dehidrasi parah.
Revan melirik Chiko tidak senang,"Dia bukanlah kekasihku." Dengan kata lain dia mengakui Chiko sebagai mainannya.
Chiko jelas terluka namun ia memendamnya dalam diam. Akan tetapi rasa bencinya kepada Rein kian melangit. Dia tidak bisa menerima bila Davin yang berkelas harus berakhir dengan orang biasa. Walaupun Rein cantik dan menawan tapi Chiko tidak bisa menerima kenyataan itu karena Rein adalah orang miskin.
"Aku tidak perduli masalah hubungan Paman dengannya karena yang aku perduli kan adalah kekasihku. Tentu saja, Paman harus tahu bahwa aku tidak suka bila kekasihku disakiti atau bahkan disentuh oleh orang lain, bagiku mereka sedang mencari masalah kepadaku." Dia lalu melirik kekasihnya yang kini tengah menatapnya dengan tatapan lembut penuh akan kasih sayang.
Hidup ini tidak akan pernah menjadi biasa-biasa saja selama ia memiliki orang ini di dalam hidupnya.
"Apa yang dilakukan laki-laki ini kepadamu?" Tanyanya lembut.
Rein tidak melepaskan kesempatan. Dia ingin membuktikan bahwa keberadaannya sangat penting di dalam hati Davin.
"Dia bilang kamu masih memiliki tunangan." Kata Rein dengan nada manja.
"Dia mengatakan yang sebenarnya, bukankah kamu adalah tunangan ku?" Tanya Davin depan kasih sayang yang tidak bisa disembunyikan dari matanya.
Rein tersipu malu,"Tapi dia tidak percaya. En, dia juga mengatakan bila aku adalah wanita penggoda, penggoda ulung!"
"Penggoda?" Ucap Davin seraya membawa atensinya menatap wajah pucat Chiko."Bukankah itu terbalik?" Tanyanya kepada Chiko.
Chiko sangat ketakutan. Dia beringsut mendekati Revan ingin mencari perlindungan tapi sayang Revan saat ini bertindak sok jijik kepadanya dan enggan mengakui bahwa mereka saling mengenal.
"Dav, apa acaranya masih lama?" Rein tidak ingin tinggal di sini karena pesta perjamuan ini lebih cocok disebut sebagai pesta politik daripada perjamuan menyenangkan.
Davin mengusap puncak kepala kekasihnya sayang.
"Ayo, pulang. Aku sudah menyelesaikan urusanku di sini." Lalu, dia menatap Revan dengan ekspresi datarnya."Paman, kami harus pulang. Jaga diri Paman baik-baik di sini." Katanya sambil mengangguk.
Davin lalu membawa Rein pergi tanpa menunggu jawaban Revan.
Mereka langsung pulang ke rumah karena pesta perjamuan terasa cukup membosankan untuk Rein. Dia suka kuenya tapi dia kehilangan selera saat Chiko datang mengganggunya.
Tapi apapun itu, dia senang Davin akhirnya menegaskan hubungan mereka di depan Revan dan Chiko.
Bersambung...
Saya kehilangan mood🍃, jadi hanya bisa update segini