My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
119. Nikahi Aku Dulu!



Tapi yang sangat mencengangkan adalah Rein menganggukkan kepalanya malu-malu, kedua matanya bersinar terang karena sebuah harapan yang tidak bisa disembunyikan.


"Apakah boleh?" Tanya Rein dengan suara mencicit.


Davin tersenyum lebar,"Tentu sayang, kamu boleh melihat dan menyentuhnya sesuka hati!"


Rein, kamu adalah penggoda ulung! Batin Davin bersemangat.


Tanpa membuang waktu Davin langsung membuka bajunya di depan Rein. Dia tidak ingin Rein menarik kata-katanya kembali sebelum ia bisa menunjukkan betapa gagahnya ia saat ini!


Setelah membuka bajunya, Davin tanpa berpikir panjang membuang baju itu ke sembarang tempat. Sorot mata tajamnya tidak pernah berpaling dari Rein, menatap Rein dalam tanpa membiarkannya kesempatan untuk berpaling.


Rein terpikat oleh kedalaman mata Davin. Dirinya seolah-olah ditarik oleh sesuatu yang sangat tidak bisa ia tolak uluran tangannya.


"Rein," Panggil Davin seraya mengusap wajah merah Rein.


Rein otomatis menutup matanya, memejamkan matanya merasakan betapa lembut sentuhan Davin di wajahnya.


"Aku sudah tidak menggunakan baju jadi kamu bebas melihat," Dia menyentuh kelopak mata Rein yang sedang bergetar ringan sebelum terangkat bertemu pandang dengan senyuman tampan Davin.


"Dan menyentuhnya." Lanjutnya sambil membawa tangan Rein menyentuh otot-otot kuat di perutnya.


Tangan Rein bergetar ringan ketika menyentuh otot Davin, ia menurunkan matanya menatap takjub otot-otot Davin yang terbentuk indah. Sedangkan Davin sendiri tidak pernah memalingkan matanya dari wajah Rein. Ia menatap Rein sambil menahan gairah yang meluap-luap setiap kali melihat ekspresi terperangah Rein menyentuh tubuhnya.


"Rein," Davin meneguk ludahnya kasar.


"Apa kita boleh melanjutkan kembali aktivitas kita sebelumnya?" Davin bertanya dengan harapan besar yang tidak bisa disembunyikan dari tatapan maupun cara bicaranya.


Rein tertegun, ia spontan mengangkat kepalanya menatap Davin.


"Kita-"


Cklack


Pintu kamar Davin tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Mereka berdua sangat terkejut dan secara kompak menatap ke arah sang pelaku yang telah lancang merusak momen indah mereka.


"Mom~" Suara mengantuk Aska terdengar yang disusul oleh rengekan manja Tio.


"Daddy...hoam, kenapa Mommy dan Daddy tidak ada di kamal?"


Aska dan Tio tiba-tiba terbangun ketika merasakan Rein sudah tidak ada di pelukan mereka. Aska dan Tio panik mencari Rein, mereka berdua keluar dari kamar Rein dan tanpa ragu mencari Rein ke dalam kamar Davin.


Aska dan Tio secara alami masuk ke dalam kamar Davin, mereka tanpa rasa bersalah naik ke atas ranjang dan memeluk Rein untuk mencari kenyamanan. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari bila Davin- Daddy yang mereka berdua banggakan diam-diam menyimpan dendam terhadap mereka berdua.


"Mom, kenapa Daddy tidak menggunakan baju?" Tanya Aska mengantuk berat, kesadarannya perlahan terkikis ingin masuk kembali ke dalam dunia mimpi.


Rein tersenyum geli, kedua tangannya mengusap puncak kepala Aska dan Tio sayang,"Daddy kamu lagi kepanasan makanya gak mau pakek baju." Jawab Rein dengan mudahnya menciptakan kebohongan.


Aska hanya berhem'ria sebelum benar-benar jatuh tertidur, sedangkan Tio sudah lama masuk ke dalam dunia mimpi yang tidak berujung, meninggalkan Rein dan Davin yang terjebak situasi konyol.


"Rein?" Panggil Davin dengan nada mengeluh.


Rein berdecak heran di dalam hatinya karena sikap Davin tidak ada bedanya dengan anak kecil.


Padahal dia pikir malam ini mereka bisa melewati malam yang sangat menggairahkan, tapi siapa yang tahu jika dua bocah nakal itu tiba-tiba masuk dan mengganggu rencananya.


"Bukankah sebelumnya aku pernah mengajakmu menikah?" Tanya Davin seperti orang yang teraniaya.


Rein menjawab tanpa membuka matanya,"Saat itu aku masih belum memaafkannya jadi itu tidak bisa disebut sebagai lamaran."


Davin memiliki harapan,"Bagaimana dengan sekarang? Maukah kamu menikah denganku?"


Rein tersenyum geli,"Bahkan meskipun aku telah memaafkan mu, kita tidak bisa langsung menikah. Berikan aku cukup waktu untuk menilai apakah kita pantas menikah atau tidak."


Davin menjadi frustasi. Ia memeluk betis Rein tidak terima.


"Tapi aku ingin menikah denganmu, Rein!"


Rein mengangkat betisnya tanpa belas kasih sehingga membuat Davin hampir saja terjatuh- dia melakukannya bukan karena marah dan Davin juga tidak tersinggung.


"Bersikaplah baik, kamu masih memiliki tunangan model yang dijodohkan oleh Kakek mu. Segera bereskan model itu agar aku bisa membuat keputusan." Rein memberikan syarat tanpa perlu berpikir panjang.


Ia tidak ingin mendengar rumor tentang Davin dan model itu lagi, jika ingin hidup bahagia, ia harus memperjelas hubungannya dengan Davin!


"Kamu tidak berbohong'kan? Bila aku menyelesaikan masalah wanita itu maka kita akan segera menikah?" Davin bertanya dengan semangat berapi-api.


Karena wanita itu bukanlah masalah besar untuk Davin, dia bisa memutuskan hubungan pertunangan mereka tanpa perlu mempertimbangkan pendapat keluarga besar. Toh, dia sekarang tidak selemah dulu lagi.


Rein tersenyum geli untuk yang kesekian kalinya,"Hem, aku tidak akan berbohong."


"Bagus, pegang kata-kata mu, Rein! Jika hari itu datang kamu tidak boleh menarik kata-kata mu!" Ucap Davin serius sarat akan nada ancaman.


Rein merinding ketika mendengar ancaman halus Davin. Ugh, laki-laki ini masih lah sangat kejam!


Rein memilih tidak menjawab. Ia berpura-pura telah masuk ke alam mimpi untuk mengelabui Davin. Dan beruntungnya, Davin tidak berbicara lagi setelah itu. Ia merasakan gerakan ringan di atas ranjang, Rein pikir Davin pasti kini tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Namun perkiraannya salah ketika merasakan kecupan ringan di atas keningnya.


"Selamat tidur duniaku, mimpi indah." Bisiknya yang disusul oleh pelukan hangat.


Davin merentangkan tangannya, menarik mereka bertiga ke dalam pelukannya yang nyaman. Rasanya begitu hangat dan luar biasa, Rein tanpa sadar tersenyum manis karenanya.


"Mimpi indah juga duniaku." Balas Rein yang lagi-lagi dihadiahi kecupan lembut oleh Davin.


"Dav, berhenti. Aku ingin tidur." Protes Rein tidak serius.


Tapi Davin tidak mendengar, ia sekali lagi mengecup kening Rein.


"Baik, aku akan menarik kata-kata ku-"


"Kamu berani?" Potong Davin mengancam.


Rein tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berpura-pura jatuh tertidur, mengabaikan Davin yang kini tengah membentuk garis senyuman lebar di bibirnya.


"Aku ini laki-laki posesif, Rein, jadi jangan mencoba bermain-main denganku." Bisiknya lembut, sarat akan kasih sayang.