
Lalu haruskah dia memakai gaun yang indah malam ini agar tidak terlihat memalukan di depan keluarga Adit?
Saat mendengar pertanyaan Anggi, Adit lantas tertawa terbahak-bahak. Dia mengepalkan tangannya di atas meja dan tangan satunya lagi menutup mulutnya. Dia hampir saja tersedak makanannya sendiri jika tidak langsing mengontrol diri. Habisnya Anggi terlalu menggemaskan. Bisa-bisanya dia menanyakan pertanyaan yang aneh seperti itu.
Untuk situasi mereka ini, Adit tidak mungkin membawa Anggi bertemu dengan keluarganya. Dia butuh banyak kesiapan agar tidak menakuti Anggi.
"Apa pertanyaan ku salah, mas?" Tanya Anggi malu.
Adit melambaikan tangannya membantah dan baru berbicara setelah tawanya menghilang.
"Tidak, hanya saja malam ini kita akan makan berdua saja." Kata Adit seraya menyuapkan sesendok bubur besar ke dalam mulutnya.
Anggi langsung merasa lega sekaligus kecewa. Dia senang mereka tidak bertemu sekarang karena dia pun masih belum siap secara mental dan pribadi. Tapi sejujurnya dia juga ingin bertemu dengan keluarga Adit. Dia ingin berkenalan dengan keluarga Adit untuk membuktikan bahwa hubungannya dengan Adit memang serius juga diakui oleh kedua belah pihak keluarga.
"Ah, aku sangat ketakutan. Oh ya, mas. Apa mas Adit haus ingin minum teh atau kopi?" Tanya Anggi mengalihkan topik pembicaraan.
Dia tidak sempat menyiapkan kopi atau teh untuk Adit karena tadi pagi tangan dan pikirannya sibuk digunakan sana-sini.
Adit tanpa pikir panjang menjawab,"Teh saja, seperti biasa. Tanpa gula."
"Baik, mas. Aku akan segera menyiapkan teh di basah untuk mas Adit." Kata Anggi seraya bangun dari duduknya.
"Ada apa, mas?" Tanya Anggi malu.
Lagi-lagi mereka melakukan kontak dekat walaupun tidak sampai sejauh berciuman lagi. Tapi Anggi sungguh tidak bisa menutupi rasa malu dan warna merah terang di wajah cantiknya.
"Ambil ini." Kata Adit seraya menyerahkan kartu gold kepada Anggi.
"Apa ini, mas?" Yang pasti ini bukan kartu ATM kan karena Anggi tidak pernah melihat kartu ATM semewah ini.
Eh, tunggu dulu. Di tengah kartu tertulis dengan jelas bila kartu ini hanya digunakan saat mengaksesnya lift khusus presiden. Dan sejauh yang Anggi tahu, kartu ini telah dipegang oleh beberapa pejabat penting perusahaan grup Demian dan salah satunya adalah Adit sendiri.
"Kamu bisa menggunakan lift tadi agar tidak membuang waktu. Ingat, jika ada yang mencegat mu lagi, langsung saja hubungi aku agar kamu tidak mendapatkan masalah lagi." Kata Adit mengingatkan.
Ekspresinya langsung muram ketika mengetahui Anggi diusir dan dicegat masuk ke dalam kantornya. Dan dia lebih kesal lagi mengetahui bila sekretaris pribadinya lah yang bermain andil dalam masalah ini. Adit akan bodoh mempercayai bila sekertaris nya tidak tahu apa-apa tentang Anggi mengingat dia selalu menekankan agar wanita yang bernama Anggi langsung diberikan akses masuk ke dalam kantornya.
"Terima kasih, mas. Dengan mas Adit di sini tidak akan ada orang yang berani mencari masalah kepadaku lagi." Kata Anggi tersipu malu.
Dia mengambil kartu gold itu dari tangan mas Adit dan langsung melarikan diri tanpa menunggu Adit berbicara lagi. Oh ya Tuhan, betapa gugup hatinya sekarang. Bahkan jantungnya masih berdebar kencang walaupun dia sudah keluar dari ruangan Adit.
Em, hari ini terlalu spektakuler untuknya.