My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
50. (50)



Hampir 1 bulan berlalu sejak terakhir kali aku bertemu dengan mantan suamiku. Ku pikir dia sudah menghilang ataupun tertangkap karena tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Namun malam ini melihatnya di sini membuatku menyadari bila dia tidak sesederhana itu. Dia masih bisa bergerak bebas dan bahkan datang ke rumah untuk menemui anak-anak menunjukkan bila dia adalah orang yang sangat santai dan meremehkan peringatan dari polisi.


"Mas Adit, kenapa dia bisa datang ke sini?" Tanyaku heran.


Mas Adit sudah mengatakan sebelumnya jika dia sudah meminta bawahannya untuk berjaga-jaga di rumah ku. Harusnya mantan suamiku tidak bisa datang ke sini karena bawahan mas Adit pasti bisa menanganinya. Apalagi mantan suamiku hanya 1 orang dan mudah diselesaikan.


Ekspresi mas Adit terlihat sangat buruk.


"Ini kelalaian anak-anak suruhan ku. Mereka bilang mantan suami mu tiba-tiba mendatangi kedua orang tuamu saat mereka pergi jalan-jalan tadi pagi. Anak-anak suruhan ku tak bisa menghentikannya karena mantan suami mu mengancam akan memberitahu Ibu dan Ayah tentang semua yang terjadi kepadamu. Dia mengancam mereka jadi mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu keputusan dariku. Hah... salahkan aku karena tidak sempat memeriksa ponselku dari tadi sore. Jika tidak, maka masalah ini tidak akan berlarut sampai malam ini."


Ah, masa lalu. Mantan suamiku benar-benar pandai menggunakan kesempatan ini untuk memojokkan posisiku walaupun sebenarnya di sini aku hanyalah korban. Ibu dan Ayah tidak tahu apa-apa tentang kejadian itu, aku juga tidak memiliki keberanian untuk menceritakan apapun kepada mereka. Aku takut kedua orang tua ku akan sedih dan jatuh sakit bila mengetahui masalah menjijikkan itu. Bukan apa-apa, tapi tubuh kedua orang tuaku sudah rentan akan penyakit dan lemah. Sehingga jika mereka dirangsang oleh berita buruk atau suatu kejadian, aku takut tubuh mereka tidak bisa menampung nya dan jatuh sakit.


Aku sungguh tidak pernah mengharapkan hasil ini. Di samping itu aku juga memiliki ketakutan tersendiri di dalam hatiku bahwa aku takut orang tuaku mengetahui sisi kotorku. Aku takut orang tuaku memandang ku dengan ekspresi kasihan ataupun melankolis. Aku tidak menginginkan hasil ini karena itulah aku berusaha mengubur masalah ini jauh di dalam diriku. Sudah sejauh ini dan aku pikir semuanya akan terlupakan secara perlahan. Tapi kedatangan mantan suamiku segera mendorong angan-angan ku sejauh mungkin. Tidak ada solusi untuk masalah ini. Baik Ibu dan Ayah mungkin sudah tahu masalah ini dari mantan suamiku, kalaupun belum maka cepat atau lambat mantan suamiku akan membicarakannya.


"Tidak apa-apa, mas. Ini bukan salah siapapun, ini hanya salah mantan suamiku saja. Dan mengenai masa lalu pada akhirnya akan mengikuti jalan takdir. Sekeras apapun aku mencoba menutupi kejadian itu pada akhirnya Tuhan selalu punya cara sendiri untuk menghidupkannya kembali. Aku mungkin harus menghadapinya secara langsung dan membicarakan semuanya dengan kedua orang tuaku agar aku tidak tertekan lagi memikirkan masalah ini. Meskipun ada konsekuensi buruk yang mungkin akan aku terima dan mungkin karena masalah ini kedua orang tuaku akan memberikan reaksi-"


"Anggi." Panggil mas Adit seraya meremat tanganku.


Aku menatapnya kaget. Nafasku memburu entah sejak kapan dimulai. Panik dan panik, inilah yang dirasakan oleh hatiku sekalipun aku berusaha untuk terlihat tegar dan baik-baik saja. Aku sama sekali tidak bisa membohongi reaksi tubuhku yang ketakutan.


"Mas Adit... aku takut..." Kataku mulai terisak.


Sakit. Hatiku rasanya sakit. Berkali-kali aku mencoba mengubur masa lalu itu, bertindak seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi, dan aku masih sama dengan diriku yang tidak ternodai- namun semua upaya ku sia-sia. Aku tidak bisa menghilangkan masa lalu kelam itu. Aku tidak bisa mengubah masa lalu pahit itu karena aku masih lah wanita yang kotor, wanita yang pernah di jamah oleh laki-laki lain dan diperjualbelikan oleh mantan suamiku sendiri. Aku tidak akan bisa menghilangkan noda ini seumur hidupku.


"Jangan menangis." Tangan mas Adit mengusap pipi basahku, menghapus lelehan air mata yang meluap dari mataku.


Tindakannya begitu lembut. Di dalam matanya yang tajam aku bisa merasakan ada kehangatan dan kasih sayang di dalamnya. Dia... selalu seperti ini. Dia memiliki hati hangat yang belum pernah aku lihat di dalam hidup ini kecuali saat bersama dengan Ayah dan Ibuku. Dia setulus ini...ya Tuhan.


"Aku akan selalu bersamamu dan menemani kamu. Tidak akan kubiarkan dia menyentuh kamu lagi, okay?" Bisiknya menghiburku.


Aku menganggukkan kepala ku mengerti tapi kekhawatiran di dalam hatiku masih belum hilang. Aku jelas sangat takut dengan reaksi kedua orang tuaku nantinya. Mungkinkah mereka akan menatapku jijik seperti orang-orang di luar sana?


"Tapi bagaimana dengan orang tuaku, mas? Apakah mereka masih mau menerima ku sebagai putri mereka?" Tanyaku ragu-ragu.


Dia tersenyum lebar, tangannya kini tidak lagi memegang pipiku tapi berpindah memegang puncak kepala ku. Ku rasakan tangan besar itu mulai mengusap puncak kepala ku, bergerak teratur di atas puncak kepala ku sehingga aku bisa merasakan betapa tulus sentuhan tangannya malam ini.


"Anggi, mereka adalah kedua orang tuamu dan bukan orang lain. Mereka jauh mengenal kamu dibandingkan aku ataupun orang lain. Dan karena mereka mengenal kamu maka mereka juga mengerti kamu. Mereka adalah satu-satunya rumah terbaik di dunia ini untukmu. Di dunia ini mereka adalah orang yang paling tulus dan pengasih untukmu. Jika kamu merasakan sakit maka orang pertama yang akan kesakitan adalah mereka berdua. Jika kamu disakiti oleh orang lain maka orang pertama yang akan marah adalah mereka berdua. Mereka merasakan semua yang kamu rasakan, mengkhawatirkan kamu, mencemaskan kamu, dan bahagia untuk kamu, karena apa Anggi? Karena mereka adalah kedua orang tuamu. Mereka adalah orang tuamu, Anggi. Orang-orang yang paling dekat dengan dirimu di dunia ini. Orang pertama yang selalu ada dan berusaha memenuhi keinginan kamu. Mereka adalah orang yang berjasa besar membesarkan kamu hingga tumbuh menjadi Anggi yang aku kenal. Mereka adalah tempat yang tidak akan pernah mengecewakan kamu. Lantas mengapa kamu harus khawatir mereka tidak bisa menerima kamu kembali di saat mereka sendiri adalah rumah terbaik untukmu di dunia ini? Benar, Anggi. Mereka akan selalu mengulurkan tangan kepadamu, menjadi puncak dan tempat terbaik untuk kamu bersandar. Jadi, jangan takut. Jangan pernah takut dengan reaksi mereka. Daripada mereka menolak kamu, aku lebih percaya jika mereka lebih menolak mantan suami mu. Lagipula tidak ada yang mau bila anaknya disakiti oleh laki-laki lain dan bahkan diperjualbelikan, tidak ada Anggi. Sebab mereka adalah orang tuamu. Maka tenangkan pikiran mu sekarang dan yakinlah, semua orang akan selalu bersamamu. Aku juga berjanji, apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Apa kamu mendengar apa yang aku katakan?" Bisiknya kepadaku.


Mas Adit, semua yang dia katakan, semua yang terucap dari bibirnya, dan setiap kata yang di ungkapkan membuat hatiku yang terasa sesak menjadi lebih baik. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku. Bergerak liar menyebarkan angin musim semi untuk mengusir ketakutan di dalam hatiku.


Ya Tuhan, lihatlah laki-laki yang kucintai ini. Dia begitu hebat, begitu baik, dan begitu hangat. Dia diciptakan dengan sejuta kebaikan di dalam dirinya yang tidak mampu aku bayar satupun. Aku begitu terpesona oleh pesona kebaikan dan sentuhan kehangatan dari dalam dirinya. Tuhan, seringkali aku berpikir bila laki-laki ini terlalu luar biasa untuk diriku. Dia terlalu baik untuk diriku, dan dia terlalu.... terlalu tak terjangkau. Namun meskipun begitu aku masih saja ingin egois ya Tuhan. Aku tidak ingin melepaskannya karena aku ingin memiliki dia sepenuhnya. Aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang bersanding dengannya dalam hidupku ini walaupun aku sejatinya terlalu kotor untuknya.


Aku...aku hanya tidak ingin kehilangan dia dan aku tidak ingin dia dimiliki oleh oleh wanita lain. Oleh karena itu... sandingkan lah aku dengannya ya Tuhan. Jangan Engkau biarkan dia pergi karena hatiku sudah terlalu jatuh untuknya. Aku sungguh tidak bisa membayangkan bila laki-laki ini jatuh kepada pelukan wanita lain.


"Hei, jangan menangis. Semuanya pasti baik-baik saja. Aku juga akan selalu bersamamu." Mas Adit kembali memegang wajahku. Tangan besarnya bergerak ringan menghapus jejak air mata yang meleleh dari dalam mataku.


"Mas Adit.." Panggil ku seraya mengambil tangannya dari pipiku.


Aku menggenggam tangannya seerat mungkin. Dadaku sesak karena terlalu banyak menangis.


"Ada apa?" Tanyaku tampak kebingungan.


Aku berusaha untuk tidak menangis lagi tapi air mataku sungguh tidak mau mendengarkan perintahku. Jadi aku tidak berdaya dan membiarkannya begitu saja.


Aku tersenyum tipis, menggeser tubuhku untuk lebih dekat dengannya dan perlahan meraih pundak nya untuk ku peluk seerat mungkin. Dan aku semakin lega ketika merasakan pelukan balasan dari mas Adit. Dia melingkari pinggang dan punggung ku kemudian memeluknya erat.


Di dalam pelukannya aku kembali dibuat menangis. Aku menangis sebanyak yang aku bisa dan mas Adit kali ini tidak meminta ku berhenti lagi. Mas Adit tidak mengatakan apa-apa namun salah satu tangannya terus menerus mengelus punggungku untuk menyebarkan rasa aman dan penghiburan. Aneh, tindakan kecil ini membuatku berhenti menangis. Air mataku secara ajaib berhenti keluar lagi. Mungkin karena ketenangan dan rasa aman yang mas Adit berikan atau mungkin karena aku lega bisa memeluk orang yang kucintai sekuat yang aku bisa.


Sungguh sangat melegakan.


Tok


Tok


Tok


Pintu kaca mobil mas Adit diketuk dari luar. Aku menggesek wajahku di pakaian basah mas Adit dengan malu- aku langsung shock begitu menyadari tindakanku. Pakaian mas Adit basah karena air mataku dan bodohnya lagi aku mengelap wajahku di sana!


"Ah...aku minta maaf, mas." Kataku panik seraya melepaskan pelukan kami.


Aku langsung mengambil tisu dari dalam tas ku dan menggunakannya untuk mengelap wajahku. Tiba-tiba mas Adit tertawa di sebelahku. Aku tidak tahu apa yang mas Adit tertawa kan tapi mungkin ada hubungannya dengan ku. Eh, apa riasan di wajahku berantakan?!


Ini sangat memalukan!


Bagaimana mungkin riasan ku rusak!


Tok


Tok


Tok


Pintu kaca mobil mas Adit kembali diketuk. Aku menoleh keluar dengan rasa ingin tahu dan melihat mata bersemangat puteraku, Aldo.


Ya Tuhan, karena terlalu asik menangis aku sampai lupa jika kami berdua masih ada di depan rumahku.


"Itu Aldo. Dia sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papanya." Kata mas Adit dengan senyuman aneh di bibirnya.


"Papanya?" Tanyaku bingung.


Bukannya Papa anak-anak ada di luar-


"Aku. Siapa lagi papanya selain daripada aku?" Katanya mengagetkan ku.


Mas Adit terlihat agak cemberut saat mengatakan ini. Aku sontak tertawa. Tampang mas Adit terlalu lucu ya, Tuhan. Apakah dia sedang cemburu? Oh, imut sekali. Tapi aku sungguh bersyukur mas Adit sangat peduli dengan anak-anak. Tidak seperti kasus-kasus di luar sana dimana Ayah tiri tidak menyukai anak-anak pihak- eh, udah ngomongin ayah tiri aja. Duh Anggi, Anggi! Belum juga nikah udah mikirnya jauh-jauh!


"Ayo turun. Anak-anak sudah berdiri di depan mobil." Kata mas Adit.


Aku melihat wajahku di cermin. Aman. Setelah memperbaiki riasan ku, kami segera turun dari mobil dan segera disambut oleh pelukan hangat anak-anak.


"Papa, Mommy!" Teriak anak-anak sambil melemparkan dirinya ke dalam pelukan ku dan mas Adit.


Mas Adit segera menangkap Aldo dan mengangkatnya setinggi mungkin. Aldo langsung berteriak nyaring tiba-tiba diangkat tinggi oleh mas Adit. Dia terlihat ketakutan tapi pada saat yang sama juga sangat menikmati sambutan hangat mas Adit.


"Mam, aku juga mau kayak kak Aldo!" Teriak Aldi kepadaku ingin diangkat tinggi.


Aku menatap kosong tubuh putraku yang tidak lagi dianggap kecil. Sebenarnya aku bisa mengangkatnya tapi tidak bisa setinggi mas Adit. Aku takut ketika aku memaksakan diri untuk melakukannya, Aldi akan terjatuh atau apesnya, kami berdua yang akan terjatuh.


"Mama-"


Dia segera menurunkan Aldo ke tanah dan mengambil alih Aldi. Aldi sangat senang karena diangkat tinggi oleh mas Adit. Dia berteriak sangat heboh yang disusul oleh gelak tawanya yang renyah.


"Aldi dan Aldo gak boleh teriak-teriak, nak. Nanti tetangga kita terganggu dan marah." Kata ku mengingatkan mereka berdua.


Ini sudah pukul 10 malam, tetangga pasti sedang beristirahat sekarang di rumah mereka. Um, suara anak-anak sangat mengganggu tapi aku senang mendengarnya. Bila tetangga marah nanti aku bisa memberikan kompensasi ataupun meminta maaf karena telah mengganggu mereka. Jadi...yah, anggap saja aku tidak ingin berhenti. Aku senang melihat anak-anak ku bahagia dan aku juga senang mendengar suara tawa anak-anak ku jadi tidak masalah rasanya menghadapi kemarahan orang lain.


Menurutku setiap ibu memiliki kasih sayang ini, walaupun yah... sejujurnya aku agak brutal.


"Lebih tinggi lagi, Papa!" Teriak Aldi masih belum bosan melayang.


Sedangkan Aldo berteriak-teriak ingin berganti posisi,"Papa giliran Aldo! Aku juga ingin naik dan terbang!"


Aku mengelus puncak kepala Aldo ikut merasakan bahagia anak-anak.


"Mainnya besok aja, yah. Sekarang kan udah malam, kasian tahu Papa masih capek habis pulang kerja." Kataku membujuk Aldo.


Mas Adit kelelahan dan membujuk istirahat, aku tidak bisa melupakan masalah penting ini dan harus segera membawanya masuk ke dalam.


"Papa?" Suara menjengkelkan itu masuk ke dalam telingaku lagi.


Aku meliriknya ringan tanpa ada sedikitpun sikap ramah.


Dia berjalan beberapa langkah mendekati kami dan berhenti beberapa meter jaraknya dariku setelah mendapatkan tatapan tajam dari mas Adit.


"Anggi, apa kamu lupa? Aku adalah ayah anak-anak dan bukan dia." Katanya membuatku muak.


"Untuk apa mas di sini? Apa mas tidak takut ditangkap oleh polisi?" Tanyaku jengkel.


Dia berkeliaran dimana-mana dan bahkan berani datang ke rumahku, apa dia tidak takut ditangkap polisi? Atau apa dia tidak takut aku atau mas Adit melaporkannya ke polisi?


Dia anehnya tidak marah dengan perkataan ku. Wajahnya yang kusam tersenyum lebar tampak sangat santai.


"Denganmu di sini, kenapa aku harus takut?" Katanya enteng.


Aku sangat marah. Tanganku tanpa sadar terangkat ingin mengambil sesuatu di tanah untuk melemparnya, tapi mas Adit menarik tanganku. Dia menarik tanganku dan membawaku ke sisinya.


"Aldo, Aldi. Masuklah ke dalam dan tidur. Besok kalian sekolah jadi harus bangun pagi. Mengerti?" Kata mas Adit kepada anak-anak.


***


Anak-anak terlihat enggan meninggalkan mereka tapi di bawah ekspresi datar Adit, mereka akhirnya dengan patuh pergi.


Reaksi anak-anak yang patuh di depan Adit membuat Doni tidak senang. Dia kesal karena di sini dia lah ayah biologis anak-anak dan bukan Adit. Maka seharusnya anak-anak lebih mendengarkan perintahnya dibandingkan Adit.


"Aldo dan Aldi, jangan masuk dulu. Ayah masih ingin bermain dengan kalian. Apa kalian tidak merindukan Ayah? Kita sudah lama tidak bertemu dan bermain lagi." Kata Doni kepada mereka berdua.


Aldo dan Aldi melihat Doni rindu tapi mereka tidak berjalan mendekat. Mereka memiliki pemahaman bahwa di rumah ini Adit adalah kepala keluarga dan Papa mereka. Selama ayah menghilang papa selalu ada untuk mereka, mengajari mereka belajar membaca dan berhitung, membelikan mereka banyak hadiah, dan membuat nenek serta kakek sering tertawa. Jika papa tidak ada mereka tidak akan bisa merasakan bagaimana manisnya memiliki seorang Papa. Dan bila Papa tidak ada, maka mamanya akan kesepian. Jadi secara alami mereka lebih mendengarkan Adit daripada Doni.


Mereka tidak mau Adit marah karena, sekalinya Adit marah, mereka tidak akan bisa bermain ataupun menerima hadiah lagi. Namun yang paling penting adalah Adit tidak akan mau menemani mereka lagi.


"Maaf ayah. Papa bilang besok kami harus sekolah dan bangun pagi, jadi kami tidak boleh tidur larut malam." Kata Aldo, anak yang paling dewasa diantara mereka berdua.


Mulut Doni langsung mengejang.


"Papa tahu kalian akan pergi ke sekolah besok. Tapi ayah masih ingin bermain dengan kalian. Kemari lah, apa kalian tidak ingin melihat ayah dan mama kembali bersatu lagi? Jika ayah dan mama kembali bersatu, kalian tidak akan kesepian lagi di rumah." Bujuk Doni kepada anak-anak.


Anak-anak adalah senjata yang paling ampuh untuk menarik Anggi kembali bersamanya. Jika anak-anak bersikeras mereka kembali bersama, maka setidaknya ada peluang untuk Doni merebut kembali hati Anggi. Rencana ini sudah dia pikirkan sejak terakhir kali mereka bertemu jadi dia tidak akan menyia-nyiakannya setelah mendapatkan kesempatan.


Aldi dan Aldo jadi bingung. Dulu Mama dan ayah tinggal bersama, tapi ayah pergi meninggalkan mama sendiri dan jadi mudah menangis. Sekarang Mama tinggal bersama Papa dan tidak pernah menangis lagi. Malah mereka memiliki rumah yang bagus dan banyak mainan yang disukai oleh teman-teman kelas mereka.


Melihat dari pikiran kecil ini Mama seharusnya bahagia bersama Papa dan mereka tidak boleh dipisahkan. Jika tidak, Mama akan sering menangis, dan mereka tidak akan punya mainan lagi.


"Tapi...tapi mama suka nangis kalau sama ayah dulu." Kata Aldi dengan suara kekanak-kanakannya yang khas.


"Iya, Mama jadi suka ketawa kalau sama Papa." Kata Aldo polos.


Mereka menatap Doni dengan bola mata besar mereka, terlihat murni dan polos pada saat yang bersamaan. Jawaban anak-anak praktis membuat Anggi terharu sekaligus malu. Malu karena rahasianya diketahui oleh Adit.


Yang paling mengherankan adalah dia tidak pernah menyangka bila anak-anak akan memperhatikan detail ini pada masa itu. Dia pikir anak-anak hanya tahu tentang bermain dan tidak terlalu perduli dalam urusan orang dewasa. Faktanya anak-anak ternyata sangat memperhatikan dirinya. Salahnya yang terlalu sibuk bekerja mencari uang dan mengabaikan perhatian kedua anaknya.


"Anak-anak selalu jujur." Kata Adit dengan senyuman lebar di wajah tampannya.


Dia sangat puas karena anak-anak tahu mana yang terbaik untuk mereka dan mama mereka. Dan betapa bangganya Adit karena anak-anak memiliki pilihan yang tepat untuk masa depan. Setelah sekian lama bersama anak-anak, mereka akhirnya mengerti bahwa tidak semua kebahagiaan diselesaikan dengan keinginan tapi melainkan melalui sebuah bagaimana kebahagiaan itu terbentuk.


"Sekarang masuk dan tidurlah. Besok pagi ketika kalian berdua bangun, Papa punya hadiah untuk kalian berdua." Kata Adit dalam suasana hati yang baik.


"Hadiah, beneran, Pa?!" Aldo sangat bersemangat.


Adit mengangguk dengan murah hati.


"Tidur dan dapatkan besok pagi. Jika kalian tidak tidur maka maaf saja, hadiah itu tidak akan pernah kalian dapatkan." Kata Adit serius.


"Ye, hadiah! Okay, Pa. Sekarang kami akan tidur. Dah Papa, Mama! Dah ayah juga!" Setelah itulah Aldi dan Aldo berlari masuk ke dalam rumah.


Mereka berebutan masuk ke kamar dan berteriak siapa yang lebih dulu menyentuh kasur.


Suara mereka sangat hidup dan renyah. Mata Anggi tiba-tiba memerah karena terharu.


"Terima kasih." Bisik Anggi lembut ke telinga Adit.


"Hem?" Adit semakin menundukkan kepalanya agar Adit menyentuh telinga nya.


Malu,"Terima kasih karena sudah menjadi Papa yang hebat untuk anak-anak." Ungkapnya tulus.


Anggi mengakuinya dengan jujur bila anak-anak jauh lebih ceria dan berwarna semenjak mengenal Adit. Dibawah pengasuhan Adit, anak-anak tumbuh menjadi anak yang terorganisir dan terkendali. Mereka bermain di disaat waktu bermain dan mereka belajar disaat waktunya belajarnya.


Tanpa Adit, mungkin Anggi akan kesusahan mengatur anak-anak walupun dia adalah Ibu dari Aldi dan Aldo.


"Kami tahu.." Adit tertawa lepas, menarik Anggi ke dalam pelukannya sambil berbisik,"Ini adalah tugas yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Papa." Bisik Adit dengan suara seraknya yang mendominasi.


Jantung Anggi berdegup kencang. Pesona Adit terlalu berbahaya. Mereka hanya seperti ini saja efeknya sudah luar biasa untuk kesehatannya apalagi bila lebih dari ini. Anggi tidak bisa membayangkannya.


"Bagus, huh. Menyogok anak-anak dengan hadiah. Apa kamu pikir anak-anakku semurah itu?!" Kata Doni murka karena diabaikan oleh mereka berdua.


Bersambung...


Bentar lagi tamat, huh!