
Ibu, Tina dan Widia pergi mencari Anggi. Di tengah jalan mereka tiba-tiba melihat kedua orang tua Anggi sedang asik tertawa bersama Paman dan Bibi Anggi. Mereka bercengkrama dengan bebas di dalam restoran mewah, memakai pakaian bagus dan dilayani dengan baik oleh para pelayan di restoran tersebut.
Ibu menatap mereka dengan tatapan masam. Hatinya jelas cemburu melihat interaksi dua keluarga harmonis itu. Padahal menurutnya tempat itu harus menjadi miliknya karena dia adalah keluarga. Hubungan mereka tidak akan pernah putus sampai kapan pun.
"Kakak sangat keterlaluan. Mereka lebih baik memuaskan keluarga melarat itu daripada kita yang memiliki hubungan lebih dekat. Ibu tidak habis pikir apa yang keluarga melarat itu lakukan sehingga membuat kakak memperlakukan mereka dengan baik." Gumam Ibu menatap cemburu Paman dan Bibi Anggi.
Dia masih mengingatnya dengan baik ketika keluarga melarat itu datang ke rumah Anggi. Pakaian mereka sangat murah dan tipis, warnanya telah banyak memudar karena telah digunakan selama bertahun-tahun. Penampilan mereka menyedihkan dan lebih cocok disandingkan dengan para pedagang kaki lima di jalan lampu mereka.
Jujur, Ibu memandang mereka dengan rendah tanpa ada rasa hormat sedikitpun karena terhubung hubungan keluarga dari pihak Ibu Anggi.
"Apa kita perlu mengapa mereka, Bu?" Tanya Tina berharap.
Dia ingin masuk ke dalam restoran, duduk dan makan makanan mewah yang tidak mampu mereka jangkau sebelumnya. Dia juga ingin mengambil foto dan mempamerkan nya ke teman-teman untuk menunjukkan bahwa levelnya sekarang jauh lebih tinggi dari mereka.
"Jangan pergi. Kita pasti akan langsung diusir bila mereka melihat kita." Kata Ibu masih menyimpan dendam di dalam hatinya.
"Ah, sayang sekali. Padahal aku mau masuk ke dalam sana dan mengambil beberapa foto." Kaya Tina agak menyayangkan kesempatan ini harus mereka lewatkan begitu saja.
Widia di samping juga memiliki ambisi yang sama, tapi dia bisa mengendalikan dirinya sendiri. Apalagi dia juga tahu ketakutan dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Ibunya.
"Bu, aku dengar-dengar setelah malam itu Paman dan Bibi mengizinkan keluarga Bibi tinggal di rumah kak Anggi. Mereka sekarang menetap di sana dan memiliki hubungan yang baik." Kata Widia ragu-ragu.
Ibu semakin masam saat putrinya mengingatkan kembali titik rasa ketidakadilan di dalam hatinya. Dia merasa tidak adil karena kedua orang tua Anggi memperlakukannya dengan dingin dan bahkan sampai mengusirnya, sedangkan keluarga melarat itu diberlakukan dengan baik dan diberikan tempat tinggal yang sangat baik. Tidak hanya mendapatkan tempat tinggal tapi mereka juga berpakaian bagus, makan makanan yang lezat dan mahal setiap hari. Jelas saja kehidupan mereka jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Ibu sangat marah sekaligus cemburu, bertanya mengapa tempat itu tidak bisa dimiliki oleh keluarganya.
"Biarkan saja mereka tertawa bahagia saat ini. Biarkan mereka berpuas diri lebih dulu sebelum mereka kehilangan apa yang mereka miliki hari ini. Ibu yakin mereka akan datang kembali ke kita untuk mengemis seperti dulu." Kata Ibu penuh kebencian.
"Maksud, Ibu?"