
Memulai semuanya dari awal lagi aku tahu bahwa hati terdalam ku juga menginginkan ini. Aku ingin kembali hidup damai dengan Davin seperti rumah hangat dan sederhana 5 tahun yang lalu. Aku memang menginginkan masa-masa itu namun...namun sekarang situasinya berbeda. Davin pasti akan mendapatkan masalah apabila mereka bersama lagi dan aku tidak ingin Davin menderita.
"Rein, ayo mulai semuanya dari awal lagi." Ajak Davin kepadaku dengan kelembutan yang sama.
Aku mengepalkan kedua tangannya menahan sesak.
"Aku takut, Davin." Kataku mengakuinya.
Kurasakan sebuah usapan lembut di wajahku. Kedua tangan besar Davin mengusap lelehan air mata yang lagi-lagi tidak bisa ku bendung di depannya. Tidak ada rasa malu ataupun memalukan yang kurasakan, yang ada justru sebuah rasa ketidakmampuan yang akhir-akhir ini membelenggu hatiku setelah mengetahui kebenarannya.
Aku ingin namun situasi mereka berdua tidak mendukung untuk melangkah bersama lagi.
"Apa yang kamu takutkan?" Bisiknya heran.
Aku menundukkan kepalaku berpaling darinya, namun tangan kuatnya menahan kepalaku agar tetap berhadapan dengannya. Menatap mata tajamnya secara langsung di bawah kelamnya malam.
Ya Tuhan, ingin sekali ku sentuh wajahnya untuk menghilangkan dahaga di hatiku yang telah menggunung selama bertahun-tahun ini.
"Apa yang kamu takutkan, Rein?" Dia mendesak ku lagi untuk segera menjawab pertanyaannya.
Aku menggigit bibir bawahku menahan sakit.
"Aku telah tahu semuanya, Davin, dan aku juga tahu kamu telah mengetahui ini melalui Adit. 5 tahun yang lalu kita dipisahkan karena kekuasaan keluarga mu dan sekarang ceritanya juga tidak akan berbeda. Bila dulu aku dan kamu tidak bisa berbuat apa-apa maka sekarang pun tidak ada bedanya, kita masih tidak bisa berhadapan dengan kekuasaan-"
"Rein, dengarkan aku." Davin menekan bahuku agar mendengarkannya tapi aku keras kepala dan tubuh mau mematuhinya.
Sebab apa yang aku rasakan ini nyata dan apa yang aku takutkan ini nyata.
"Dan sekarang ada Tio diantara kita, Davin! Aku gak mau dia menjadi korban! Aku gak mau-"
"Maka dengarkanlah aku, Rein!" Dia menangkup wajahku dengan kedua tangan besarnya.
Kami sangat dekat sekarang, nafas hangatnya yang berbau daun mint menerpa kulit wajahku. Sorot matanya berbanding terbalik dengan kegelisahan yang aku rasakan karena nyatanya Davin sangat tenang, dia begitu tenang menghadapi ketakutan ku.
Dia lagi-lagi mengusap wajah ku dengan telapak tangan besarnya, menghapus setiap air mata yang tidak bisa ku bendung lagi. Apa yang harus aku lakukan? Hati kecil ku berbisik.
Setiap kali aku mendapatkan perhatian lembut ini hatiku dibuat goyah segoyah-goyahnya. Aku ingin meraihnya, menggenggam kembali telapak tangan besar nan hangat itu tapi rasa sakit dari tahun-tahun sulit itu seolah menjadi alarm perlindungan di dalam kepalaku bahwa rasa sakit yang sama atau mungkin lebih sakit lagi telah menunggu kami berdua di ujung sana.
"Aku tidak selemah 5 tahun yang lalu, Rein. Saat ini aku jauh lebih kuat dari yang kamu bayangkan. Aku adalah Davin Demian, pewaris tunggal keluarga Demian. Aku adalah seorang pewaris tunggal dan telah memiliki kedudukan penting untuk keluarga Demian, aku merasa lebih mampu dari sebelumnya, oleh karena itu aku datang melindungi mu dan Tio. Karena aku sudah lebih dari kuat maka aku datang ingin membawa kalian berdua kembali. Aku bisa bersaing dengan Kakek dengan kepala terangkat, aku mampu memperjuangkan kebahagiaan kita lagi."
Davin berbicara dengan tegas tanpa ada nada keangkuhan. Dia telah memiliki posisi yang tinggi, aku tahu. Dia telah menjadi pewaris tunggal keluarganya, dia adalah satu-satunya orang yang berhak menduduki posisi tinggi keluarganya dan aku juga tahu. Hanya saja...aku tidak tahu apakah ia mampu atau tidak melewati semuanya?
Aku takut penderitaan menyakitkan itu terulang kembali kepada kami.
"Aku sangat mencintaimu, Rein." Tidak, jangan lagi Davin!
Itu adalah satu-satunya kata yang tidak ingin aku dengar dari dirimu sekalipun aku tahu euforia kebahagiaan akan memenuhi hatiku.
Aku tidak bisa terus di sini. Aku ingin beranjak pergi akan tetapi tangan kuat Davin kini beralih memelukku kuat. Pelukannya begitu hangat di malam yang dingin ini.
"Aku ingin pulang, Davin." Bisik ku ingin melarikan diri.
Untuk hidupku entah mengapa aku selalu merasa bila Tuhan tidak adil. Dia pertemukan aku dengan Davin, merasakan indahnya kebahagiaan tapi itu tidak bertahan lama karena Dia juga pisahkan aku dengan Davin. Dia pisahkan aku dengan Davin melalui cara yang sangat menyakitkan, tanpa tahu kebenaran apapun Dia menjatuhkan ku pada situasi terpojok dimana satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah membenci Davin. Membenci satu-satunya pria yang aku cintai di dunia.
Ya Tuhan, betapa kejam Engkau.
"Tidak bisa, kamu takut gelap dan aku juga tidak mengizinkan mu pergi." Suara sendu Davin kembali menarik ku dari lamunan panjang tahun-tahun menyakitkan.
Salahkah kami memulai semuanya dari awal lagi?
Tapi jika tidak, rasanya masih tetap akan menyakitkan dan aku juga tidak tahu bila Davin mampu melakukannya- semua ini tidak bisa terjadi untuk yang kedua kalinya!
"Davin," Panggil sambil melepaskan kedua tangan Davin dari perutku.
"Tidak, Rein." Dia menolak tegas tanpa menunggu aku melanjutkan perkataan ku.