My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
231. 3



Rein tidak bisa terlalu lama dekat dengan suaminya meskipun dia berusaha memaksakan dirinya untuk tetap dekat karena kondisi dan situasinya sekarang. Resiko yang dia ambil pun tidak main-main. Karena dekat dengan Davin, dia berakhir jatuh sakit dan harus dipapah masuk ke dalam rumah oleh Anggi dan pembantu yang lainnya.


Dengan berat hati Davin membiarkan istrinya pergi dibawa masuk ke dalam rumah oleh para pelayan. Dia tidak berdaya mendekati istrinya karena dia juga khawatir istrinya akan jatuh sakit bila dia memaksakan diri untuk dekat seperti tadi.


Davin menghela nafas panjang. Menenangkan suasana hatinya yang sedang bergelombang tanpa melakukan apa-apa kecuali berdiri di tempat mengirup udara sore.


Sementara itu Adit, orang yang memiliki rasa keberadaan kurang itu sekarang sudah berdiri tidak jauh dari Davin. Dia berdiri tanpa suara karena dia mengerti bagaimana suasana hati Davin saat ini.


"Hah, lain aku tidak akan mengizinkan Rein hamil lagi." Gumam Davin mendendam.


Tapi Adit tahu ini hanya emosi sesaat Davin saja. Sejauh menyangkut anak, Davin selalu memasrahkan semuanya kepada Tuhan.


"Ayo pergi." Kata Davin berbalik 180 derajat menuju arah parkiran.


"Siapa, bos." Kata Adit siaga.


Davin mengusap wajahnya tidak senang saat pikirannya kembali keinginan istrinya. Setiap gambaran wajah Dimas yang songong dan menyebalkan tampak sangat hidup di dalam kepalanya.


"Apa kamu tahu dimana laki-laki ini sekarang tinggal?" Tanya Davin suram, kembali ke mood aslinya ketika sedang tidak bersama istri dan anak-anaknya.


"Dia sekarang tinggal di sebuah perkampungan bersama kedua orangtuanya dan seorang anak jalanan yang dia temukan saat berada di kota D beberapa waktu lalu." Kata Adit melapor.


Adit telah menugaskan seseorang untuk terus mengawasi kehidupan Dimas agar tidak menciptakan masalah lagi kepada bosnya.


"Merawat anak jalanan, huh?" Nada Davin mencibir. "Aku harap dia benar-benar menyesali semua kesalahannya di masa lalu."


Davin dan Adit lalu berkendara dengan mobil menuju ke sebuah perkampungan pinggir kota. Tempat itu tidak jauh dan tidak pula dekat untuk Davin karena masih berada di kota yang sama dengan Davin.


"Kita sekarang memasuki perkampungan, bos." Kata Adit melapor.


"Hem." Respon Davin singkat tapi matanya telah menjelajah ke arah luar jendela. Tidak seperti di kota yang rawat macet dan padat penduduk, perkampungan ini sangat asri dan sejuk. Mereka yang telah bosan terjebak di dalam hiruk pikuk kota pasti akan langsung nyaman berada di sini.


"Sangat nyaman. Lain kali aku akan datang depan Rein dan anak-anak ku." Gumam Davin bertekad.


Tapi ketika memikirkan Dimas tinggal di kampung ini, Davin segera menghilangkan idenya untuk membawa keluarga kecilnya di sini.


"Bos hati-hati, jalannya agak berlubang." Lapor Adit agar tidak mengejutkan Davin.


Davin hanya diam dan tidak memberikan komentar apa-apa. Dia merasa bosan melihat ke arah sawah dan menggeser sudut pandangnya ke tempat lain.


Dia langsung terkejut karena baru menyadari bahwa ada banyak orang yang sedang memandangi mobilnya. Davin tidak tahu apakah itu karena mereka sangat tertinggal atau memang karena mereka jarang melihat mobil mewah, tapi yang pasti mereka menatap mobil Davin dengan rasa ingin tahu yang tinggi juga cemburu.


"Hem." Davin menyipitkan matanya ragu ketika melihat sosok tinggi Dimas sedang berjalan dengan seorang anak kecil yang sangat kurus.


Dimas tidak tahu hiruk pikuk di belakang dan membawa anak itu melewati jalan pintas, lalu menghilang dari pandangan Davin.


"Apa aku salah lihat?" Gumam Davin tidak yakin.


Dimas melirik bosnya dari kaca,"Ada apa, bos?"


Davin menggelengkan kepalanya tidak terlalu perduli,"Bukan apa-apa." Jawab Davin singkat seraya menarik pandangannya dari tempat terakhir sosok Dimas menghilang.