My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
210



Pagi-pagi keesokan harinya Anggi membangunkan Rein dari tidurnya. Membawa Rein untuk mandi dan setelah itu menyeretnya ke ruang rias untuk mulai merias dirinya. Dia menggunakan pakaian pengantin berwarna putih dengan campuran warna biru samar di dalamnya. Tampilannya tidak mewah tapi memiliki rasa keanggunan yang menyenangkan mata orang-orang yang melihatnya.


Setelah membantu Rein memakai pakaian pengantinnya, Anggi juga mengawasi Rein di samping saat penata rias mulai merias Rein. Riasan yang dikenakan pun tidak mencolok tapi terlihat sangat menarik di wajah cantik Rein.


Orang-orang di luar sana pasti tidak tahan berkedip ketik melihat tampilan Rein hari ini, pikir Anggi.


Selama proses Rein dirias, Anggi selalu berada di sampingnya. Melihat dengan hati-hati setiap langkah yang dikerjakan penata rias. Di dalam hatinya yang terdalam, dia juga mengharapkan momentum indah ini terjadi di dalam hidupnya. Sama seperti Rein, dia berharap suatu hari nanti dia bisa berada di posisi Rein, duduk manis di depan cermin tanpa melakukan apa-apa dengan pakaian pengantin yang indah.


"Apa yang sedang aku pikirkan?" Gumam Anggi tidak berdaya.


Karena kasus suaminya, dia telah resmi menjadi seorang janda dengan dua anak di dalam hidupnya. Semuanya baik-baik saja kecuali urusan hatinya. Dia tidak kekurangan uang karena dia bekerja sebagai asisten pribadi Rein dan kehidupan anak-anaknya juga sangat baik karena dia bisa memenuhi semua kebutuhan mereka. Benar, semuanya baik-baik saja.


Tapi hatinya.


Butuh waktu lama Anggi menyadari perasaannya kepada Adit dan butuh waktu lama pula Anggi menekan perasaannya kepada Adit.


Adit adalah laki-laki yang baik, terlalu baik malah dan berasal dari keluarga terhormat. Setiap kali hatinya memikirkan Adit, dia merasa hati ini akan terjebak dilema dan kesedihan karena dia... posisinya saat ini sangat tidak cocok.


Pertama, dia adalah seorang janda dengan dua anak dan Adit adalah laki-laki lajang yang pasti disukai banyak wanita yang jauh lebih baik darinya. Kedua, selain janda, Anggi juga berasal dari keluarga miskin sedangkan Adit berasal dari keluarga terhormat. Dan ketiga, Anggi memang menyimpan rasa kepada Adit tapi belum tentu juga Adit menyukainya karena Adit tidak pernah memberikannya perhatian lebih.


"Mbak, Mbak Anggi?"


"Eh iya, Nyonya?" Anggi buru-buru mendekati Rein.


"Mbak Anggi lagu banyak pikiran yah? Aku perhatiin dari pagi Mbak Anggi suka banget ngelamun." Rein jadi prihatin.


Anggi menggelengkan kepalanya membantah,"Aku hanya merindukan orang tuaku, Nyonya. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka." Bohong Anggi terdengar masuk akal.


Lagipula siapa pun pasti akan merindukan keluarganya jika berada di tempat yang jauh, terutama jika berbicara mengenai orang tua. Rein tidak punya orang tua jadi dia tidak bisa merasakan apa yang Anggi rasakan. Dia hanya memiliki Davin dan anak-anak sebagai keluarganya sendiri.


"Hem, kalau begitu Mbak Anggi bisa mengambil libur dulu biar bisa bertemu dengan kedua orang tua Mbak Anggi." Rein dengan murah hati menawarkan hari libur.


Tapi Anggi langsung menolak karena dia tahu betul mengapa dia seperti ini. Setelah berbicara sebentar dengan Rein, dia lalu izin keluar dari ruangan tata rias untuk melihat suasana di luar.


Di luar, Anggi tidak bisa berhenti takjub melihat dekorasi indah dan manis yang akan menjadi saksi bisu pernikahan Rein. Para tamu yang mulai berdatangan juga memiliki reaksi yang sama seperti dirinya. Mereka tidak henti-hentinya mengangkat ponsel mereka untuk mengambil foto atau gambar dan mengunggahnya di media sosial masing-masing sebagai bentuk ajang pamer.


Pernikahan Rein dan Davin sudah santer disebut-sebut dimana-mana. Cerita manis perjalanan kisah cinta mereka entah siapa yang membocorkannya karena sekarang bukan lagi menjadi sebuah rahasia. Ada yang menyayangkan ada pula yang terharu karena pada akhirnya Rein dan Davin berakhirnya terikat pernikahan.


"Gimana, manis kan, Kak Adit?" Suara lembut Sera segera menarik perhatian Anggi.


Anggi termenung melihat mereka berdua. Khususnya saat matanya menatap Sera. Hari ini Sera menggunakan gaun putih bersih dengan renda-renda tipis menjuntai di sisi lehernya terlihat sangat cantik dan feminim. Dengan gaun ini Sera terlihat jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Mungkin karena gejolak cinta orang-orang menilainya sebagai wanita yang sedang jatuh cinta.


Lalu Anggi menarik perhatiannya dan beralih menatap gaunnya sendiri. Dia juga menggunakan gaun putih bersih tapi tidak secantik yang dimiliki Sera. Gaun ini juga disesuaikan dengan posisinya di rumah ini dan usianya yang sudah tidak lajang lagi. Tidak buruk, bahkan sangat baik. Namun dibandingkan dengan Sera, dia merasa jauh lebih jelek.


"Aku tidak tahu." Jawab Adit memiliki keinginan untuk memuntahkan makanan di mulutnya.


Ini terlalu manis, bahkan sangat manis!


"Bagaimana jika kamu bertanya kepada..." Adit tanpa sadar mengangkat kepalanya dan tidak sengaja melihat Anggi kini tengah berdiri linglung di lantai dua terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Anggi." Sebut Adit belum menyadarinya.


Sera mengernyit,"Kenapa aku harus bertanya kepada Anggi?"


Lagipula Anggi sangat sibuk mengurus Rein hari ini dan tidak memiliki cukup waktu untuk berleha-leha. Ngomong-ngomong, Sera akhirnya tahu pernah melihat Anggi dimana. Tepatnya dia melihat Anggi dan Revan datang ke sebuah hotel untuk bermalam setelah menghadiri pesta dari seorang artis ternama. Setelah mengingat kembali hari itu, sikap Sera kepada Anggi langsung berubah total. Tindakannya yang acuh tak acuh dan tidak seramah dulu mengatakan jika dia tidak menyukai Anggi. Karena menurut Sera, Anggi adalah wanita yang tidak benar. Dia telah bermain-main dengan Revan dan tidak menutup kemungkinan akan bermain-main dengan laki-laki lain. Jadi dia sangat tidak senang saat mengetahui Anggi bekerja sebagai asisten pribadi Rein. Karena jika Anggi bekerja di sana maka peluangnya untuk bertemu dengan Adit akan sangat besar. Sera cemburu dan memiliki ketakutan tersendiri jika Adit akan termakan rayuan Anggi. Pikirkan saja baik-baik, jika Revan bisa ditaklukkan dengan mudah olehnya maka Adit juga bisa bernasib sama dengan Revan.


Huh, memikirkannya saja membuat Sera mual.


Sementara Sera terjebak dalam perasaan krisis nya, Adit akhirnya sadar dari pikirannya dan segera memutar otaknya.


"Anggi biasa membuat kue untuk Aska dan Tio jika Nyonya tidak ada di rumah. Jadi bertanya kepadanya jauh lebih membantu daripada bertanya kepadaku." Ujar Adit masuk akal.


Apa yang dia katakan memang ada benarnya. Selama ini jika Rein tidak ada di rumah maka Anggi lah yang akan mengambil tugasnya membuatkan anak-anak kue. Meskipun kue yang dibuat Anggi sangat berbeda dengan kue buatan Rein, tapi rasanya masih enak dan disukai anak-anak jadi bila ada kesempatan Anggi akan meluangkan waktu untuk membuatkan anak-anak kue.


Tapi Sera tidak setuju. Selain takut Adit terlalu dekat dengan Anggi, dia juga agak jijik berdekatan dengan Anggi. Menurutnya Anggi sudah kotor karena tubuhnya telah di jamah lebih dari satu pria yang sangat menjijikkan.


"Aku pikir dia saat ini sedang sibuk mengurus Kak Rein di atas. Daripada mengganggu pekerjaannya, lebih baik kita bertanya kepada orang lain saja." Tolak Sera secara tidak langsung.


Dia masih belum menyadari keberadaan Anggi di lantai dua.


"Anggi tidak sibuk. Dia memiliki waktu untuk memuaskan rasa penasaran mu terhadap semua makanan ini." Kata Adit sambil menatap ngeri berbagai macam makanan manis di atas meja perjamuan.


Ugh, sejujurnya dia lebih suka makan buatan kue Anggi karena manisnya pas dan tidak membuat mual.


"Tidak apa-apa, Kak Adit. Kita bisa mencari orang lain saja-"