
"Tapi Pa, Sera cinta sama Adit." Sera mengaku kepada Papanya sambil menangis pilu.
Ia memang tidak memiliki hubungan yang pasti dengan Adit, ia sadar dan sangat sadar diri malah. Namun perasaannya dalam setelah ia jaga dan tenun dengan hati-hati selama bertahun-tahun ini mengatakan bahwa hanya dirinya lah yang layak mendapatkan Adit. Sebab dia hadir bertahun-tahun dari yang lain, mengenal Adit lebih dulu, menyukainya lebih dulu, dan bahkan sepupunya memiliki hubungan persahabatan dengannya. Lantas dimana kurang dirinya? Dimana ketidaknormalan dari semua ini?
Bukankah dengan semua itu saja sudah cukup membuktikan bahwa dia layak dan memang layak untuk Adit?
"Hah, cinta? Makan cinta mu itu!" Kata Papa kesal kepada putri satu-satunya.
"Papa pikir kamu pintar dan cerdas. Nyatanya sekolah tinggi-tinggi tidak berarti kamu memiliki kecerdasan yang tinggi. Apa kamu pikir perasaan cinta yang kamu miliki ini dapat memiliki segala yang kamu inginkan? Hanya karena kamu mencintai Adit, kamu mengklaim bahwa Adit adalah milikmu. Hah, tidak mengherankan. Tidak mengherankan Adit lebih memilih wanita itu daripada dirimu. Wanita itu memang janda dan memiliki dua anak, berasal dari keluarga miskin tanpa dukungan, tapi meskipun begitu dia adalah orang yang cerdas. Jika tidak, untuk apa Davin dan Rein mempercayakannya menjadi kepala pelayan di mansion Demian? Jika tidak, bagaimana mungkin Rein memberikannya identitas kepercayaan? Sungguh tidak bisa dipercaya bila selama ini aku malah mendukung opini gila kalian. Aku pikir kalian adalah orang yang dapat aku percaya mengingat kalian berdua adalah istri dan anakku. Tapi ternyata aku salah. Kalian adalah keluargaku tapi malah mendorongku hancur. Untungnya Adit lebih dulu menghentikan ku, menunjukkan ku sebuah bukti kebenaran bahwa aku dan keluarga yang telah ku bina dengan susah payah akan mengalami kehancuran fatal. Huh, sangat memalukan! Aku tidak bisa mempercayai semua ini!" Kata Papa kembali murka.
Jika diingat-ingat dengan baik, dia selalu mempercayai istri dan putrinya ini tanpa pamrih sebab mereka adalah permata penting di dalam hatinya. Dan logikanya tidak ada keluarga yang mau saling menjatuhkan, terlebih lagi hubungan mereka sangat dekat dan harmonis sampai-sampai bisa digambarkan tidak ada rahasia diantara mereka semua. Tapi melihatnya sekarang. Dia terlalu memanjakan istri dan anaknya sampai-sampai memberikan kepercayaan buta.
"Maafin Sera...Pa, tapi aku..aku mencintai kak Adit." Sera menangis sesenggukan di dalam pelukan Mama.
Mama merasa sakit hati melihat putrinya kesakitan seperti ini tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa karena keluarganya sekarang telah mendapatkan masalah besar. Dia tidak mampu menanggung masalah ini dan bertemu lagi dengan keluarga Demian yang lain. Bisa dipastikan bila anggota keluarga Demian yang lain kini pasti sedang menertawakan kemalangan nya.
Ketika mendengar kata-kata ini, Mama dan Sera langsung merasakan sebuah firasat buruk. Ada tebakan samar di dalam hati mereka berdua.
"Iya, Pa. Tapi...tapi aku masih belum berencana pergi tahun ini." Kata Sera gugup.
Dia bahkan lupa untuk melanjutkan tangisannya karena semua pikiran dan fokusnya sekarang sudah diambil alih oleh Papa.
Papa mengangguk pelan.
"Tapi Papa pikir sebaiknya kamu melanjutkan sekolah tahun ini saja karena kebetulan teman Papa yang ada di negara A tadi malam menelpon. Dia bilang kamu bisa pergi sekolah ke sana karena dia memiliki jalur khusus tanpa melakukan pendaftaran dan seleksi yang berbelit-belit. Papa pikir kamu masih muda dan sangat mencintai karir mu sekarang jadi kenapa tidak pergi melanjutkan sekolah saja agar karir mu di masa depan kelak semakin gemilang." Tepatnya Papa berbohong. Sepulang dari mal tadi sore dia segera membuka file yang dikirimkan oleh Adit dan setelah itu membaca email dari Davin.
Kedua pukulan telak ini segera membuat Papa marah, bingung, sedih, dan hancur. Dia sangat marah tapi tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya karena dia benci kekerasan fisik. Akhirnya setelah berpikir lama dia segera menelpon temannya di negara, mengirim sejumlah uang agar putrinya bisa masuk ke sebuah universitas ternama di negara A. Maka jadilah Sera akan bersekolah di sana terlepas dari penolakannya.
"Sera... Sera enggak mau, Pa..." Suara Sera menolak.