My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
101. 28 Menit



Kecewa, Rein tidak pernah kembali ke kamar penginapannya dengan Davin. Pikirannya saat ini kacau, kecewa karena sang sahabat dan juga tidak tahu harus bagaimana dengan Davin bila bertemu nantinya. Kebenaran sudah ia dapatkan, semua luka-luka di masa lalu nyatanya tidak membutuhkan alasan banyak. Alasannya sangat singkat, sepele, dan yang lebih penting lagi semua dari akar permasalahan ini adalah Dimas, laki-laki yang telah menjelma menjadi malaikat untuknya, menyediakan bahu terkuat sebagai tempat untuk Rein bersandar.


Ironisnya, selama tahun-tahun itu ia berpikir jika Dimas adalah laki-laki yang baik dan bukan pengecut. Selama tahun-tahun itu ia berpikir Dimas adalah laki-laki yang tulus dan bukan laki-laki sok baik padahal munafik.


Ia pikir Davin sebersih itu.


Tapi apa yang ia temukan sekarang?


Laki-laki yang selalu ia kagumi dengan sepenuh hati ini nyatanya orang yang telah menghancurkan hidupnya bertahun-tahun yang lalu. Memaksanya dan Davin untuk berpisah- tidak, jangan salah paham. Sekalipun Davin tidak bermaksud memutuskannya tahun itu, namun bukan berarti Rein bisa memaafkannya. Ia tidak bisa, tidak, mungkin lebih tepatnya ia belum bisa karena Rein tidak suka cara yang Davin lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.


Rein masih belum bisa.


"Rein, ini sudah pukul 8 malam. Bos bilang kamu harus kembali dan ikut makan malam bersama yang lain." Adit yang selalu setia berdiri di samping tanpa niat mengeluarkan suara akhirnya bersuara juga.


Bila tidak didesak oleh bosnya untuk membawa Rein kembali, maka Adit tidak akan pernah membuka mulutnya.


Rein menoleh,"Aku belum lapar." Katanya tidak berbohong.


Dia tidak berselera makan apapun saat ini.


"Kamu boleh pergi dan temui bos manja mu itu, katakan padanya untuk tidak menggangguku selama beberapa waktu. Aku butuh waktu untuk mendinginkan kepalaku."


Adit diam tidak merespon namun tangannya dengan cepat mengirim pesan kepada Davin. Beberapa detik kemudian Davin membalas cepat. Adit seketika bernafas lega ketika melihat pesan balasan Davin. Takutnya, Davin akan mengancam Rein seperti waktu-waktu sebelumnya. Karena suasana hati Rein saat ini benar-benar buruk. Ia tidak bisa terlalu diberikan rangsangan emosi atau kalau tidak, Rein akan sangat muak.


"Bos bilang kamu bisa menenangkan dirimu di sini tapi hanya 30 menit saja. Setelah 30 menit, kamu harus segera kembali ke kamar penginapan dan makan makanan yang sudah disiapkan di sana. Jika dalam waktu 30 menit kamu tidak kembali, maka bukan aku yang akan mencari mu melainkan bos sendiri yang akan turun tangan."


Rein mendengus, ia memalingkan wajahnya menatap dedaunan di tanah. Merapatkan kedua kakinya sembari memuntahkan kata-kata bernada jengkel.


Adit di samping menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


"Rein, seharusnya kamu lebih tahu kenapa dan untuk apa dia melakukan ini kepadamu."


Rein tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah sendu dari balik bayang-bayang sinar lampu jalanan yang tidak temaram.


"Pergilah, aku butuh waktu untuk berpikir." Usir Rein tidak ingin lagi berbicara dengan Adit.


Adit meliriknya, beberapa detik kemudian ia menghela nafas panjang sambil membawa langkahnya mundur ke belakang.


"28 menit lagi, sisa waktumu di sini 28 menit lagi sebelum kembali ke kamar penginapan." Pesan Adit sebelum pergi.


Suara berat langkah kaki Adit perlahan-lahan menjadi ringan, ringan dan ringan hingga akhirnya ia tidak mendengar suaranya lagi. Adit tidak berbohong, ia benar-benar memberikan waktu dan ruang untuk Rein berpikir.


"Aku tahu," Bisik Rein sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku tahu, tanpa kamu mengatakannya pun aku tahu." Ia berbicara seolah-olah masih ada Adit di sini.


"Tapi aku tidak suka caranya, aku tidak suka rasa sakit yang ia tinggalkan untuk ku meskipun aku tahu ia pun mungkin juga merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan."


Mereka sama-sama terluka, tapi ini tidak adil untuk Rein.


Mereka sama-sama melewati tahun-tahun suram tanpa kehangatan, tapi ini masih tidak adil untuk Rein.


Apapun yang Davin lakukan di masa lalu membuat Rein benar-benar merasa tidak adil.