My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
179



"Baiklah, kamu sekarang resmi bekerja sebagai pengurus Aska dan Tio. Setiap awal bulan aku akan memberikan mu gaji yang sepadan dengan kerja keras mu." Pungkas Adit mulai menjabarkan gaji Anggi selama bekerja.


Tidak hanya mendapatkan gaji tapi Anggi juga bisa mendapatkan beberapa bonus jika dia bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh. Ini adalah kabar yang baik untuk Anggi jadi dia cukup bersemayam dengan pengaturan ini. Di samping itu hal yang paling membuatnya senang adalah dia bisa berada di sisi Adit. Hem, walaupun tidak bisa menjalin hubungan lebih dari pekerjaan tapi Anggi masih senang karena dia bisa melihat Adit.


Terd


Terd


Terd


Ada telpon masuk di ponsel Adit. Dia melihat id penelepon dan pergi ke tempat yang agak jauh untuk menjawabnya.


"Sudah?" Tanya Adit rendah.


"Baiklah, awasi dia dan tetap kabari aku apapun yang dia lakukan di sini." Perintah Adit memiliki aura dominasi yang cukup berbeda.


Setelah itu dia menutup telpon dan menaruhnya kembali ke dalam saku. Jas formal yang tadinya tersampir di sofa kini telah beralih ke tangannya. Dengan santai dia menggunakannya kembali.


Sementara Anggi di samping telah melihat semua prosesnya dan bertanya-tanya apakah Adit akan pergi keluar lagi?


Yah, sebenarnya akan aneh jika dia tinggal di sini bersama kami karena biar bagaimanapun kami adalah orang dewasa yang pasti akan disalahpahami jika dilihat oleh orang lain. Anggi membatin tampak agak lesu.


Namun di depan Adit dia berusaha menjaga sikapnya sesantai mungkin agar Adit tidak menyadari perubahan suasana hatinya.


"Ayo kemasi semua barang-barang kalian." Perintah Adit kepada Anggi.


Anggi tercengang.


Kemana mereka pergi? Apakah dia dan anak-anak akan ikut bersama Adit?


"Apa yang kamu pikirkan, cepat kemasi barang-barang mu dan anak-anak." Suara dingin Adit menginterupsi pikiran Anggi.


Adit tidak senang Anggi menjadi lambat karena situasi mereka saat ini sedang dalam keadaan darurat dan mereka harus memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin agar tidak membuang-buang waktu.


"Oh, iya, Mas." Anggi tersadar.


Malu, dia lalu menundukkan kepalanya dan memasukkan kembali beberapa pakaian kotor anak-anak ke dalam koper. Untungnya, mereka baru saja sampai dan Anggi juga belum sempat bongkar koper karena saat itu dia masih menunggu Rein. Tugas untuk mengumpulkan semua barang-barang tidak sulit dan menghabiskan beberapa menit saja.


Tok


Tok


Tok


Ada ketukan nyaring di luar dari arah pintu. Adit tidak mengatakan apa-apa kepada Anggi dan langsung berjalan menghampiri pintu.


"Tuan, bantuan apa yang Anda butuhkan?" Beberapa pria berjas kini tengah berdiri di depan pintu masuk.


Mereka adalah bawahan Adit, orang-orang yang dia panggil tadi untuk menangani beberapa urusan.


"Masuklah." Kata Adit sambil memimpin jalan masuk ke dalam kamar.


Di kamar Anggi terlihat kaget melihat kedatangan orang-orang berjas hitam dan tidak dikenal ini. Akan tetapi saat melihat betapa akrabnya Adit dan orang-orang itu, Anggi akhirnya bisa lega. Ini adalah urusan Adit dan dia tidak berani bertanya.


"Bawa semua barang-barang ini ke bawah." Tunjuk Adit pada beberapa koper milik Rein, Anggi, dan anak-anak. Ada juga koper yang Rein siapkan untuk Davin.


Khawatir Davin tidak memiliki baju ganti yang cukup, dia buru-buru memasukkan setiap pakaian Davin ke dalam koper.


"Siap, Tuan." Mereka semua secara kompak mulai mengambil koper itu satu persatu dan membawanya keluar.


"Hati-hati saat membawanya. Aku tidak ingin barang-barang Tuan dan Nyonya mengalami kerusakan." Peringat Adit serius.


Lagi, orang-orang berjas itu menyanggupi dengan serius. Membawa setiap koper dengan hati-hati seolah koper-koper itu adalah sedotan penyelamat hidup.


Setelah orang-orang itu tidak terlihat di pintu lagi, Adit kini memindahkan fokusnya pada Anggi dan anak-anak.


"Aku akan membawa Aska dan kamu akan membawa Tio, apakah kamu bisa?" Pasalnya Anggi baru saja sampai di kota B dan belum bisa beristirahat karena mengurus anak-anak.


Adit memiliki kekhawatiran tubuh Anggi tiba-tiba drop di perjalanan ke bawah nanti. Dan karena inilah Adit sengaja membawa Aska yang jauh lebih besar dan berat dari Tio agar Anggi tidak terlalu terbebani.


"Tapi...kemana Mas Adit akan membawa kami pergi?" Anggi memahami dari percakapan singkat mereka jika mereka tidak akan tinggal di hotel ini lagi.


Jadi seharusnya mereka akan pindah ke tempat yang lain, kan?


Mungkinkah tinggal di hotel yang lebih dekat dengan rumah sakit tempat Davin bekerja?


"Tuan Davin memilliki vila musim panas di sini. Jadi untuk sementara waktu kalian akan tinggal di sana. Dan mengenai ucapakan ku sebelumnya," Adit menatap Anggi dengan serius dan suasana berat.


Melihat ini Anggi tanpa sadar menahan nafas dan tidak berani membuat gerakan yang menarik perhatian Adit. Sudah cukup ditatap setajam ini membuat Anggi linglung. Selain daripada itu mungkin dia tidak akan bisa menjaga citranya!


Eh, apakah dia masih memiliki citra setelah dijadikan mainan ranjang oleh Revan?


"Mas Adit?" Dia sangat gugup ya, Tuhan!


"Jangan pernah keluar dari vila atau mencoba jalan-jalan di luar tanpa izin dariku. Ini untuk menghindari kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki kemungkinan menyakiti semua orang-orang Tuan Davin." Sambung Adit setelah sekian lama tidak berbicara.


Anggi menghela nafas panjang. Dia tidak langsung menjadi tenang setelah Adit memuntahkan apakah yang ingin dikatakan tadi. Sekarang dia akhirnya mengerti bagaimana rasanya hidup diantara kalangan orang-orang konglomerat. Rasanya tidak sebahagia yang dia impikan karena faktanya ada beberapa bahaya yang bisa saja mengintai. Jika dia sendiri yang seorang bawahan biasa merasakan krisis dari sedikit bahaya, maka apa kabar Rein yang notabene kekasih Davin?


Apakah dia masih baik-baik saja setelah mengetahui situasi darurat yang mengancam mereka?


"Jangan melamun. Ayo bawa anak-anak pergi agar kamu juga bisa beristirahat." Suara dingin Adit lagi-lagi menginterupsi lamunan Anggi.


Anggi mengangguk cepat dan segera mengambil Tio dengan cepat tapi agak berhati-hati agar tidak membangunkan Tio.


"Ayo pergi." Ajak Adit sambil memimpin jalan.


Sebelum benar-benar keluar dari kamar, Adit sekali lagi mengingatkan Anggi agar lebih berhati-hati di masa depan dan jangan pernah menyapa Dimas bola bertemu dengannya. Daripada menyapa Anggi lebih baik melarikan diri untuk mencari persembunyian dan sebisa mungkin jangan sampai dikenali oleh Dimas.


Karena Adit mengatakannya dua kali, Anggi benar-benar menganggap serius pengingat ini dan berjanji di dalam hatinya agar tidak melanggar pengingat Adit.


Adit tidak perlu check out karena semuanya sudah ditangani oleh bawahannya. Dia hanya perlu membawa Aska dan yang lainnya masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Aska dan Tio tidur di kursi belakang, sementara Adit dan Anggi duduk di kursi depan.


"Tidurlah, tidak apa-apa. Aku akan membangunkan kamu setelah sampai di vila nanti." Adit melihat Anggi terlihat sangat lelah jadi dia memintanya untuk tidur.


Padahal dia juga sama lelahnya dengan Anggi tapi karena dia adalah seorang laki-laki dewasa dan merasa memiliki tanggungjawab besar, sebisa mungkin dia tetap menjaga dirinya tetap fit.


"Aku baik-baik saja, Mas. Aku bisa tidur setelah kita sampai di vila." Anggi menolak sambil mempertahankan kewarasannya yang terserang kantuk.


Karena Anggi mengatakan ini Adit tidak mau memaksanya lagi karena toh ujung-ujungnya Anggi pasti akan tertidur. Karena yah perempuan selalu seperti ini, keras kepala.


Dan benar saja dugaannya. Belum sampai 15 menit setelah dia menolak penawaran Adit, dia tiba-tiba telah masuk ke alam mimpi, dalam artian dia tertidur.


Adit meliriknya singkat, menggelengkan kepalanya merasa heran sebelum kembali fokus ke jalan.


...🌪️🌪️🌪️...


Rein tidur sangat lelap dan baru bangun di sore hari. Tubuhnya jauh lebih menyegarkan setelah tidur sebentar- Hem, lebih tepatnya memiliki durasi yang jauh agak lama daripada biasanya.


Tubuhnya sama sekali tidak sakit tidur terlalu di atas sofa karena mungkin kualitas sofa ini mengikuti kelas kamar yang Davin tempati.


Hah, Davin!


Memikirkan Davin, Rein tiba-tiba teringat tujuannya datang ke sini!


"Davin?!" Panggilnya panik.


"Di sini." Suara lembut Davin segera menenangkan saraf panik Rein.


"Aku pikir semuanya mimpi." Kata Rein malu.


Dia pikir ingatan tentang semalam adalah mimpi karena terlalu merindukan Davin.


"Bukan mimpi, kamu memang sudah ada di sini bersamaku." Sangkal Davin merasa jauh lebih manis.