
"Jadi, kenapa Davin?" Tanyanya tidak mengerti.
"Setelah memintaku pergi dan menghilang kenapa kamu tiba-tiba kembali? Kenapa kamu kembali dan terus menerus menjeratku? Bukankah.... bukankah sebelumnya kamu pernah mengatakan jika kita tidak ada hubungannya dengan masa lalu?"
Davin memejamkan matanya, beberapa detik kemudian ia kembali membuka matanya setelah menata kembali ekspresi di wajahnya.
"Tuhan mempertemukan kita kembali karena Tio adalah putraku, Rein. Dia adalah darah Demian, dia akan menjadi pewaris Demian selanjutnya."
"Pewaris keluargamu?" Rein kian tidak mengerti.
Wajah basahnya tampak kebingungan dan linglung.
"Bukankah kami sudah memiliki tunangan? Kenapa kamu tidak memintanya melahirkan seorang anak untuk kamu jadikan sebagai pewaris keluargamu! Kenapa harus mengambil kebahagiaan ku, Davin? Kenapa harus merebut kembali satu-satunya alasan ku bertahan hidup di dunia ini? Apakah hari itu masih tidak cukup?"
Davin hanya diam membisu tidak berniat menjawab.
"Apakah menghancurkan ku sekali saja tidak cukup, Davin?" Rein memukul-mukul dada bidang Davin untuk melampiaskan kemarahannya, tapi...ini sangat lemah karena tenaganya sudah hampir habis.
Dia sangat lemas dan tidak mempunyai banyak tenaga saat ini.
"Tidakkah semua ini cukup, hiks..." Tanya Rein kesakitan.
"Tolong, jangan ambil Tio dariku. Tolong jangan ambil satu-satunya sumber kebahagiaan ku di dunia ini...aku mohon.." Mohon Rein terdengar sangat menyedihkan.
Davin masih diam membisu, entah apa yang ia pikirkan saat ini karena sedari tadi matanya tidak bisa lepas dari puncak kepala Rein. Dengan jarak sedekat ini, ia bisa menghirup wangi milik Rein yang telah lama tidak ia hirup. Dengan jarak sedekat ini ia bisa mendengar semua suara frustasi dan kesakitan Rein. Dan dari jarak sedekat ini, Davin bisa menjangkau tubuh Rein dengan sangat mudah dan memeluknya.
Kedua tangannya terangkat ingin menyentuh, namun ia menariknya kembali entah karena alasan apa. Kedua matanya lalu tertutup, beberapa detik kemudian ia membukanya lagi sambil mengatakan,
"Maaf, Rein. Aku tidak bisa melakukannya. Tio adalah putraku, darah daging ku. Tio harus tinggal dan hidup bersama ku agar dia bisa merasakan kehidupan yang nyaman."
Gerakan tangan Rein mandek, perlahan dia menurunkan kedua tangannya tidak lagi memukul dada Davin.
Wajah basahnya terangkat, menatap Davin dengan kesedihan yang tidak bisa disembunyikan.
"Aku tidak mau, aku tidak bisa melakukannya. Tio adalah putraku, Davin! Dia akan hidup nyaman hanya jika hidup bersamaku!" Tolak Rein keras kepala.
Davin menghela nafas panjang,"Benarkah?" Menatap Rein serius,"Lalu, bisakah kamu menjelaskan kenapa Tio tidak punya teman bermain di sekolah? Kenapa dia dijauhi oleh teman-temannya? Dan kenapa selama ini kamu hanya diam saja melihatnya menderita?"
"Itu...aku..." Rein mundur beberapa langkah ke belakang bingung menjawab apa.
Ini benar-benar karena dia terlalu miskin, jadi dia tidak bisa membela anaknya dari anak orang-orang kaya itu.
Dia sangat miskin.
"Aku tidak pernah diam-"
"Tapi kamu tidak mampu melawan mereka semua, bukan?" Potong Davin membuat Rein langsung bungkam.
Dia sungguh tidak mampu.
Sebenarnya Davin tahu jika Rein pasti berusaha keras melindungi Tio, namun semua usahanya tidak akan cukup melihat orang-orang yang mencari masalah kepada Tio semuanya tidak memiliki kepala yang digunakan untuk berpikir. Mereka hanya mengandalkan dengkul untuk berpikir, bertindak arogan hanya karena mereka memliki sedikit uang.
Dan Davin tahu pasti bahwa ini pasti sangat sulit untuk Rein lewati.
"Sampai kapan, Rein?" Tanya Davin sekarang mengambil alih pembicaraan.
"Tio di buli oleh teman-teman sekolahnya dan kamu hanya diam saja, jadi dimana kenyamanan yang kamu katakan tadi?"
Benar, Rein tidak pernah bertanya apakah Tio selama ini nyaman bersamanya atau tidak. Ia tidak pernah bertanya apakah Tio nyaman hidup dengan kemiskinan yang semakin berlarut-larut, dia tidak pernah menanyakan ini semua.
"Dan sampai kapan kamu harus membiarkan Tio seperti ini? Tidakkah kamu ingin melihatnya bahagia? Hidup nyaman, dipandang baik dan dihargai oleh semua orang, tidakkah kamu ingin melihatnya hidup seperti ini?" Davin kian memojokkan Rein.
Dia membuat Rein mempertanyakan dirinya sendiri, mengarahkan topik pembicaraan seolah-olah semua masalah Tio berawal dari ketidakmampuan Rein selama ini.
"Maka biarkan Tio tinggal bersamaku, dia akan mendapatkan semuanya bila tinggal bersamaku." Katanya membujuk.
Rein menggelengkan kepalanya tidak bisa,"Aku tidak bisa berpisah dengan Tio..."
Dia ingin Tio bahagia tapi dia tidak bisa berpisah dengan Tio. Baginya Tio adalah sumber kebahagiaannya, satu-satunya alasan kenapa ia masih bertahan di dunia ini.
"Jika kamu tidak ingin berpisah dengan Tio, maka tinggallah bersamaku juga. Kamu adalah Ibunya dan dia tidak akan tahan bila berpisah denganmu." Davin dengan sabar membujuk Rein.
Tinggal bersama Davin?