My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
200



"Ya, Nyonya." Kali ini Anggi yang turun tangan langsung dibawah perintah Rein.


"Dasar wanita miskin! Beraninya kamu mengusirku dari sini! Ini adalah rumahku dan aku adalah Nyonya di rumah ini! Tidak diizinkan siapapun untuk menyentuhku- ah, lepas! lepas!" Nenek meronta-ronta saat diseret pergi.


Dengan bantuan beberapa pelayan, dia menyeret Nenek menjauh dari semua orang dan akan membawanya ke sebuah ruangan dan menguncinya dari luar. Wajahnya bahkan tidak mengalami perubahan saat Nenek berteriak-teriak mengancam dan mengecamnya.


Dia telah kebal setelah mengalami banyak pelatihan dari Adit.


"Awas kalian semua! Aku akan menghukum kalian begitu keluar dari sini! Aku akan menghukum kalian sampai menangis darah!" Teriak Nenek sambil meronta-ronta ingin melepaskan diri.


Namun, sekalipun dia berteriak keras tidak ada yang mau datang membantunya. Lupakan Revan yang tidak bisa berbuat apa-apa dalam situasi ini. Kakek Demian bahkan tidak membuka matanya saat Nenek diseret pergi oleh para pelayan. Sikapnya yang tidak mau tahu menunjukkan bahwa dia tidak perduli dengan apa yang menimpa Nenek dan apa yang akan terjadi pada Nenek selanjutnya.


"Tahan." Kata Davin pada Adit.


Adit segera menghentikan rekaman.


Davin lalu beralih memperhatikan Nenek yang akan segera digiring masuk ke dalam ruangan.


"Tahan di sana. Jangan biarkan dia berbicara ataupun membuat masalah. Karena selain putranya," Davin menatap wajah muram kekasihnya dengan tatapan lembut,"...dia juga memiliki beberapa bagian kejutan dariku." Kata Davin bernada datar dan terdengar dingin.


Tidak ada lagi ekspresi mengejek ataupun nada main-main seperti sebelumnya karena dia sekarang sudah beralih menjadi Davin Demian yang biasanya orang lihat dan kenal.


Sangat dingin.


"Baik, Tuan." Anggi dan para pelayan yang lain mengangguk mengerti.


Tanpa diberi penjelasan lebih lanjut pun, Anggi mengambil sesuatu dari sakunya. Dia mengambil sapu tangan yang dia dapatkan dari desainer pribadi Rein dan menggunakannya untuk menutup mulut Nenek agar tidak bersuara.


"Lanjutkan." Titah Davin kepada Adit.


Mengabaikan teriakan Nenek, suara rekaman pun mulai berlanjut kembali.


"Aku akan memberikan kamu sejumlah uang dan sekian tanah di kota B sebagai gantinya. Dan aku berjanji kepadamu untuk melindungi kedua orang tuamu dari Davin jika kamu bisa melakukannya." Seperti gayanya yang suka menghambur-hamburkan uang, Revan memberikan tawaran yang sangat murah hati dan menggiurkan kepada Dimas.


"Aku akan memikirkannya dulu karena resikonya terlalu besar. Aku tidak yakin bisa bersembunyi jika berhasil melakukannya." Suara Dimas mulai bimbang.


Rekaman masih berlanjut,"Jangan takut. Kamu pasti bisa bersembunyi dari masalah ini karena aku sendiri yang akan membantumu bersembunyi. Dengar, Mama dan beberapa orang di rumah ku sangat bisa diandalkan. Mereka adalah orang yang cakap dan mampu di rumah. Kau tahu, beberapa tahun yang lalu kedua orang tua Davin mengalami kecelakaan dan langsung mati ditempat. Coba tebak pekerjaan siapa itu?" Begitu suara ini jatuh, semua orang tanpa sadar membuka mulut mereka terlihat sangat terkejut.


Kasus ini telah lama menjadi misteri dan diduga hanya kecelakaan biasa saja jadi orang-orang di rumah juga tidak terlalu memikirkannya.


Namun, siapa yang mengira jika kecelakaan ini sebenarnya rencana dari Nenek dan beberapa Paman di rumah ini. Paman... mereka adalah saudara kandung almarhum Papa Davin, tapi untuk sebuah kekuasaan, hubungan darah faktanya tidak terlalu penting.


"Apakah ini pekerjaan mereka?" Dimas menebaknya dengan benar.


"Tepat sekali. Kamu adalah satu-satunya orang yang tahu ini setelah aku. Selain kamu tidak ada yang tahu lagi tentang rahasia ini. Bahkan laki-laki tua bangka itu tidak tahu menahu mengenai kecelakaan ini. Hahaha... walaupun dia tahu juga laki-laki tua bangka itu tidak akan pernah perduli karena Mamaku jauh lebih penting daripada kedua orang tua Davin. Karena itulah Mamaku sangat berani merencanakan kecelakaan mereka dan memanipulasi jika kecelakaan itu adalah kecelakaan biasa saja. Untuk melancarkan aksinya, Kakak-kakak ku yang lain menyuap polisi agar mereka bungkam terhadap kecelakaan aneh yang menimpa kedua orang tua Davin. Lihat, jika kedua orang tua Davin saja mampu kamu tangani maka Davin juga tidak ada bedanya. Kami pasti akan melindungi kamu dan menjaga rahasia ini sebaik mungkin. Kamu dapat yakin."


Sudut bibir Davin miring, dalam hal ini dia tidak tahu harus mengatakan apa mengenai sirkuit otak Revan yang tidak biasa. Entah harus memanggilnya bodoh atau ceroboh, kedua gelar ini memang sangat layak untuk laki-laki payah seperti Revan. Dengan bodohnya membocorkan rahasia besar tim kemenangannya, Davin harus memberikan apresiasi untuk kerjanya yang luar biasa.


"Ti..dak..." Dia bersusah payah mengatakan satu kata ini. Kedua mata Nenek yang biasanya suka menatap orang-orang dengan sorot merendahkan dan bangga sekarang mulai basah berlinangan air mata.


Dia menatap tidak percaya pada putranya yang sama shock nya dengan dirinya saat ini. Nenek sama sekali tidak menyangka bila putra yang telah dia perjuangkan posisinya di rumah ini nyatanya akan menikamnya suatu hari nanti. Meskipun Revan tidak bermaksud apa-apa saat membuka rahasianya tapi tetap saja, rahasia terbesar dalam hidupnya telah diketahui oleh semua orang di rumah ini, dan bahkan laki-laki tua bangka itu... Nenek sama sekali tidak berani membawa pandangannya menatap Kakek Demian.


Dia tidak tahu bagaimana reaksi Kakek Demian saat ini dan dia juga tidak memiliki keberanian yang besar untuk mengetahuinya.


Mendengar pengingat dingin Davin, semua orang secara kompak menutup mulut mereka tidak terkecuali para Paman yang memiliki andil dalam kecelakaan kedua orang tua Davin.


Dengan langkah ringan, mereka berjalan mundur dari kerumunan. Menyamarkan keberadaan mereka sebanyak mungkin sebelum berbalik 180 derajat untuk melarikan diri.


Namun naas, belum sampai langkah ketiga mereka lebih dulu dicegat oleh laki-laki kekar berjas hitam yang terlihat sangat ganas. Di belakang laki-laki berjas hitam itu ada beberapa anggota polisi berseragam dengan pistol ditangan masing-masing. Mereka tampil mencolok, tidak bergerak, tapi masih tidak disadari oleh anggota keluarga yang lain.


Mereka jelas ada di sini untuk menangkap seseorang tapi masih menunggu aba-aba dari atasan.


"Po... polisi..." Gumam mereka sangat terkejut.


"Maaf, Tuan. Tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini sebelum Tuan Davin memberikan perintah." Ucap laki-laki berjas hitam itu dengan sopan.


Tubuh mereka langsung berkeringat dingin saat melihat anggota polisi di belakang laki-laki berjas hitam itu. Tidak berdaya, mereka tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri jadi mereka dengan kaku kembali ke tempat mereka sebelumnya sembari berdoa Tuhan memberikan belas kasih-Nya kepada mereka hari ini.


Mereka tidak ingin tinggal di penjara.


Mengabaikan mereka yang masih terjebak dalam rasa bersalah dan panik, rekaman suara masih tetap berlanjut.


"Revan, ini adalah masalah yang sangat besar. Apakah kamu bersungguh-sungguh akan melindungi ku dan keluargaku?" Dimas mulai menerima tawaran.


Suara Revan sangat bersemangat,"Tentu saja. Kami akan melindungi kamu asalkan kamu dapat membuat Davin mundur dari ahli waris laki-laki tua bangka itu. Lakukan sesuatu yang bisa membuatmu tidak berdaya, tidak apa-apa untuk tidak membunuhnya tapi pastikan dia tidak memiliki wajah untuk kembali ke keluarga Demian apalagi sampai mewarisi semua kekayaan laki-laki tua bangka itu."


"Baiklah, jika kamu dapat menjamin ku maka masalah ini akan aku selesaikan sesuai keinginanmu. Aku... memiliki sebuah rencana. Bagaimana jika kita melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mama dan Kakak mu untuk kedua orang tua Davin? Kita juga bisa memanipulasi mobilnya dan membuatnya berakhir seperti kedua orang tuamu. Dengar, Revan. Jika kecelakaan ini fatal, maka dia mungkin akan kehilangan nyawanya tapi jika kecelakaan tidak buruk, maka dia masih akan mengalami kecacatan di tubuhnya. Ini hanya kecelakaan mobil saja dan kamu pasti bisa mengeluarkan sedikit uang untuk menyuap polisi di negara A." Dalam waktu sekejap mata Dimas berubah menjadi seseorang yang berpikiran kejam.


Orang yang awalnya menolak ide untuk membunuh Davin tiba-tiba merencanakan cara untuk menghilangkan nyawa Davin. Hati Rein sangat sakit mendengarnya. Dia tidak tahu kesalahan apa yang telah dia lakukan sehingga Dimas sangat berambisi menghilangkan nyawa kekasihnya. Rein sungguh tidak rela!


"Ide mu benar juga...aku sama sekali tidak kekurangan uang karena Mama pasti akan membantuku mengambil uang dari laki-laki tua bangka itu. Baiklah, lakukan rencana ini saja agar Davin tidak menghalangi langkah ku menguasai kekayaan laki-laki tua bangka itu." Revan dengan mudahnya terpancing dan menyetujui tawaran Dimas.


"Bagus, ini harusnya berhasil."


Dan selesai, tidak ada percakapan lagi selanjutnya. Ruang pertemuan menjadi hening dan sunyi pada saat yang bersamaan. Tidak ada yang berbicara atau memberikan komentar apa-apa karena otak mereka masih berusaha keras mencerna semua rekaman percakapan tadi.


Namun Davin bukanlah orang yang bermurah hati. Dia tidak akan tahan melihat mereka hanya diam saja dan mulai menyerang orang-orang yang telah mendalangi kematian kedua orang tuanya.


"Ini sangat mengejutkan, sama seperti kalian aku juga sangat terkejut. Tapi kalian berbeda, keterkejutan kalian adalah ekspresi yang dibuat-buat... ayolah, jangan berpura-pura tidak tahu mengenai masalah ini karena orang yang paling tahu tentang masalah ini justru kalian sendiri.." Ejek Davin mencemooh.


Dia menatap malas beberapa orang yang mendalangi kecelakaannya dan kecelakaan kedua orang tuanya.


"Bagaimana rasanya melihat kedua orang tuaku mati pada saat itu?" Pertanyaan ini diarahkan kepada Nenek yang mulutnya telah dilepaskan dari sumpalan sapu tangan.


Nenek tidak lagi berteriak-teriak seperti sebelumnya. Dia hanya menundukkan kepalanya sambil menangis terisak terlihat sangat menyedihkan.


"Mengapa menangis sekarang? Kau tahu bukanlah orang yang berhati lembut?" Ucap Davin dengan ancaman tersirat.


Nenek ketakutan, namun dia masih membantah pengakuan putranya sendiri yang jelas-jelas telah direkam alat perekam suara.


"Tidak, Davin.. Nenek sungguh tidak tahu apa-apa mengenai kecelakaan mobil kedua orang tuamu. Nenek bersumpah tidak melakukan kejahatan apapun kepada mereka. Bagaimana mungkin aku tega membunuh kedua orang tuamu yang telah aku anggap sebagai anak-anak ku sendiri? Bukankah itu tidak masuk akal?" Isak nya menangis.


Dia menjelaskan dengan suara yang paling lemah dan terlihat sangat sedih untuk menunjukkan betapa hancurnya dia saat ini.


Davin tidak percaya, tentunya. Akal-akalan rendah seperti ini, Davin pernah melihat yang jauh lebih lihai daripada Nenek jadi bagaimana mungkin Davin akan termakan?