My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
214



Apa yang Davin katakan memang sepenuhnya benar. Tapi Rein masih malu karena dia memang pada dasarnya orang yang pemalu bila berhubungan dengan Davin.


"Berhenti, Dav. Kakiku sungguh tidak apa-apa karena tadi aku hanya tersandung batu kecil saja." Dengan wajah panas yang Rein yakini telah memerah seperti kepiting rebus, dia dengan mudah mengalihkan topik pembicaraan.


Davin tertawa rendah. Dia meremas kencang kaki Rein hingga terdengar suara mengaduh, baru dia rela melepaskannya.


"Mau lanjut jalan-jalan lagi?" Tawar Davin seraya mengulurkan tangannya ke arah sang istri.


Rein menatap uluran tangan suaminya. Tersenyum lembut, tangan kanannya terangkat tanpa ragu meraih tangan telapak tangan besar suaminya yang langsung disambut oleh genggaman hangat dari suhu tangan suaminya.


Sang suami menggenggam tangannya, kemudian menarik Rein tanpa aba-aba yang langsung disambut oleh pelukan hangat nan nyaman Davin. Rein tidak melawan, menyerahkan sepenuhnya semua beban tubuhnya kepada sang suami untuk diberi kehangatan.


"Kamu sangat ringan, berat badan mu turun lagi." Kata Davin agaknya tidak senang kekasihnya kekurangan berat badan.


Padahal satu tahun yang lalu kekasihnya jauh lebih berdaging dari tahun ini dan tentunya lebih sehat.


"Berat badan ku akan segera naik beberapa bulan lagi jika aku tidak memiliki beban pikiran." Rein dengan mudahnya menjawab enteng, seolah menaikkan berat badan bukan masalah yang sangat serius untuknya.


"Kamu harus melakukannya. Ini adalah perintah langsung dari suamimu. Tapi itu urusan belakang karena aku agak khawatir sekarang." Kata Davin cemberut.


Pikiran Rein langsung berselancar memikirkan orang-orang yang berpotensi mengganggu suaminya. Apakah suaminya dianiaya lagi?


Bila benar begitu, maka menjadi orang kaya memang sangat sulit untuk dilalui.


"Apa yang sedang dikhawatirkan suamiku?" Rein melembutkan nada suaranya yang sangat enak di dalam pendengaran Davin.


"Aku khawatir dengan berat badanmu ini..." Davin mengucapkan kalimatnya setengah-setengah, membuat Rein penasaran sekaligus cemas yang sangat menyiksa.


"Davin, kamu kenapa- ah, ssht!" Desah Rein kesakitan ketika merasakan gigi tajam Davin menggigit kulit lehernya.


Namun, saat lidah Davin yang fleksibel dan basah mengusap tempat yang baru saja Davin gigit, leher Rein tiba-tiba merasakan sensasi kesemutan yang aneh namun cukup menggelitik. Sensasi itu sangat menarik, Rein tanpa sadar mengangkat tinggi kepalanya untuk menikmati sensasi kesemutan dan panas yang membanjir kulit lehernya.


"Khawatir...kamu tidak akan tahan menghadapi ku di atas ranjang malam ini." Bisik Davin seduktif.


"Dav...hah... Davin, berhenti..." Mohon Rein melenguh, merasakan sensasi kesemutan yang kian membanjiri kepalanya.


Rasanya aneh tapi juga sangat nyaman. Dia menyukainya dan mulai menumbuhkan keinginan yang lain tapi sangat malu mengungkapkannya kepada sang suami. Di samping itu kepalanya yang berusaha kuat mempertahankan kewarasannya berpikir bila tempat ini bukanlah tempat yang baik. Siapa pun bisa melihat mereka melakukan hal gila ini.


"Sayang, aku ingin kamu...aku ingin kamu..." Bisik Davin serak dan mulai kehilangan sabar.


Kedua tangan yang tadinya patuh melingkari pinggang ramping istrinya kini telah bergerak tidak patuh mulai menggerayangi tubuh ramping nan sensual istrinya.


Saat menjelajahi tubuh ramping istrinya, Davin sedikit terkejut karena tidak menyangka bila tubuh Rein ternyata sangat sintal dan nyaman di sentuh. Dia pikir karena mengalami turun berat badan, daging Rein akan tipis tapi siapa sangka jika daging Rein malah sangat berisi dan nyaman disentuh.


"Dav... jangan di sini." Mohon Rein sembari menahan tangan nakal suaminya.


Davin akhirnya berhenti dengan enggan,"Kembali ke kamar sekarang?" Tanya Davin dengan suara serak dan nafas memburu.


Telinga Rein merasakan sentuhan hawa panas saat nafas hangat suaminya menimpa daun telinganya.


"Hem.... terserah kamu." Jawab Rein malu-malu.


Davin sangat senang mendengarnya. Dia bahkan menggigit daun telinga istrinya sehingga mengundang ******* pasrah lainnya dari Rein. Tidak sabar membawa Rein pergi, Davin tanpa mengatakan aba-aba langsung mengangkat istrinya dengan gendongan ala pengantin dan segera kembali ke vila mereka dengan langkah tergesa-gesa.


"Dav, jangan lakukan ini. Kakimu masih sakit dan aku juga tidak bisa berjalan sendiri." Mohon Rein khawatir.


Dia tidak suka Davin membawanya seperti ini apalagi jarak mereka dengan vila cukup jauh.


"Apa yang kamu khawatirkan? Selain kamu sangat ringan, tubuhku juga sangat sehat dan baik-baik saja. Jarak ini sangat dekat, jika kamu mau, aku bisa membawamu ke atas bukit di pulau ini untuk menunjukkan bahwa kakiku sudah baik-baik saja!" Ucap Davin bangga dan penuh percaya diri.


Dia tidak membual, sungguh. Kakinya memang sudah baik-baik saja jadi Rein tidak perlu mencemaskan nya. Jangankan membawa Rein ke vila, membawa Rein naik ke atas bukit saja Davin sanggup dan mampu, jadi apa yang harus dikhawatirkan?


"Bila kamu tidak mempercayainya maka aku akan dengan senang hati menunjukkannya di atas ranjang. Aku harap kamu dapat bertahan melayaniku malam ini..."