
Davin tidak percaya, tentunya. Akal-akalan rendah seperti ini, Davin pernah melihat yang jauh lebih lihai daripada Nenek jadi bagaimana mungkin Davin akan termakan?
Yang sulit saja bisa dia hadapi apalagi yang rendahan? Davin sama sekali tidak takut.
"Anak-anak?" Ejek Davin tanpa menyembunyikan tatapan merendahkannya kepada Nenek.
"Kamu benar, seorang Ibu tidak akan mungkin menyakiti anak-anaknya. Lalu bagaimana dengan ini," Davin mengangkat tangannya ke atas.
Adit mengerti dan langsung memberikannya sebuah map kuning yang sangat ringan.
"Apakah kamu bisa menjelaskannya?" Sambung Davin sambil mengeluarkan semua foto-foto yang ada di dalam map kuning dan menjatuhkannya di depan Nenek.
Ketika Nenek melihat foto-foto itu, kedua matanya sontak membola kaget dan tubuhnya gemetar kedinginan karena panik.
"Apakah kamu mengingat semua orang yang ada di foto-foto ini?" Tanya Davin masih bermain-main dengan Nenek.
Wanita gila ini harus merasakan bagaimana rasanya berdiri di ambang jurang kehancuran- seperti yang dia rasakan bertahun-tahun yang lalu hingga tidur saja rasanya sangat sulit.
"Ini...ini..." Nenek kesulitan berbicara.
"Kamu tidak bisa mengatakannya?" Davin sangat jelas tahu bahwa Nenek pasti tidak akan pernah mau menjawabnya.
Kalaupun iya, maka mungkin Nenek akan menciptakan kebohongan yang lain. Tapi tidak apa-apa, rasanya juga menyenangkan melihat orang yang paling kamu tidak sukai menderita dan tertekan. Ini adalah pemandangan yang sangat indah.
Dan akan sangat sulit untuk melupakannya, Hem, padahal dia sudah menunggunya sejak beberapa tahun yang lalu.
"Tidak, tidak. Dia... Dia adalah orang yang telah membantuku saat mobil mogok. Jadi, aku berjanji kepada dia bahwa aku akan memberikannya harga yang pantas untuk bantuan yang dia berikan saat itu." Nenek benar-benar menciptakan skenario lain, seperti yang Davin duga.
Davin tidak marah. Dia hanya merasa wanita sok glamor ini sangat pandai menggunakan mulutnya untuk memuntahkan kata-kata kosong.
"Nah, lalu bagaimana dengan yang ini?" Jari Davin menggeser salah satu foto yang tertimbun foto lain, di sana terdapat sekelompok pria memasuki parkiran bawah rumah utama.
Saat mata Nenek melihatnya, dia tercengang sekaligus terkejut karena seingatnya cctv parkiran bawah tanah pada saat itu sudah rusak sehingga tidak bisa mengambil gambar.
"Tidak mungkin..." Gumamnya kaget.
Davin tersenyum lebar,"Apa yang tidak mungkin, apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan di sini?" Tebak Davin tepat sasaran.
Nenek langsung membantah dan mencari alasan yang lain untuk menutupi kecurigaan Davin.
"Ini...aku tidak tahu siapa orang-orang ini. Aku tidak mengenal mereka dan aku juga tidak pernah melihat mereka." Nenek berkilah.
"Bukankah kedua orang ini terlihat sama, jadi bagaimana mungkin kamu secepat itu melupakan dia?" Heran Davin membuat Nenek langsung mati kutu.
Mendengar pertukaran kata antara Davin dan Nenek, para penonton yang menyimak mulai mengerti kemana arah pembicaraan Davin. Alur pembicaraannya agak tidak pasti dari pihak Nenek, tapi karena inilah mereka mencurigai Nenek telah melakukan sesuatu yang tidak termaafkan.
"Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kematian Bibi dan Paman?" Bisik salah satu sepupu Davin kepada yang lain.
"Ini sangat mungkin. Bukankah sebelumnya Paman kecil telah mengatakan semuanya jika Nenek adalah dalang dari kecelakaan mereka?"
"Kalian berdua, diam lah! Ayo simak baik-baik apa yang ingin Davin katakan." Seseorang diantara mereka menyela agar tidak mengganggu pembicaraan Davin dan Nenek.
Sementara itu Nenek yang masih diintrogasi oleh Davin terus menerus memberikan jawaban asal-asalan dan terkesan berkilah.
"Kamu hanya bertemu sekali jadi bagaimana mungkin aku bisa mengenalnya?"
Jawabannya cukup masuk akal tapi Davin tidak akan tertipu.
"Kamu sangat menjengkelkan. Setiap kali aku bertanya jawaban mu terkesan asal-asalan dan menghindar, apakah kamu pikir aku sebodoh itu dapat mempercayainya?" Ucap Davin dingin setelah selain lama bersabar.
Kali ini dia tidak bertanya lagi tapi langsung mengatakan kronologis kejadian yang coba Nenek tutupi.
"Jika kamu menolak untuk mengatakannya, maka aku tidak akan keberatan menjelaskannya kepada semua orang. Mereka juga anggota keluarga ini dan harus mengetahui bagaimana wajah kamu yang sebenarnya. Hah, sampah memang akan terus menjadi sampah sekalipun dipindahkan ke tempat yang indah." Hina Davin seraya menjauh dari Nenek.
Nenek kebingungan. Dia ingin meraih Davin untuk mencegahnya mengatakan sesuatu yang buruk tapi kedua tangannya segera ditahan oleh para pelayan dan bahkan mulutnya kembali disumpal oleh Anggi.
"1 minggu sebelum kedua orang tuaku mengalami kecelakaan, kamu bertemu dengan seorang pria asing di restoran H jalan X. Pertemuan kalian berjalan sangat singkat karena kamu di sana hanya memberikan pria itu cek senilai 500 juta dan langsung pergi. Dan 1 minggu kemudian setelah pertemuan kalian, pria itu kembali terlihat. Dia dan beberapa temannya masuk ke dalam parkiran bawah tanah rumah utama dengan sangat lancar. Bagaimana mungkin? Bukankah rumah ini hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang memiliki akses anggota keluarga saja? Ini sangat mencurigakan karena satu-satunya orang yang bertemu dengan mereka sebelumnya hanyalah kamu seorang, jadi tidak menutup kemungkinan jika mereka mendapatkan akses masuk ke tempat ini dari izin mu. Setelah masuk ke dalam parkiran bawah, mereka lalu melakukan sesuatu kepada mobil kedua orang tuaku dengan tergesa-gesa dan langsung pergi setelah menyelesaikan tugas darimu. Tidak berselang lama kemudian kedua orang tuaku keluar menggunakan mobil itu dan terjadilah kecelakaan- yang orang bilang hanya kecelakaan biasa karena rem blong. Sungguh drama yang sangat klise." Ulas Davin menjelaskan kepada semua orang.
Kata-katanya sangat datar tapi sorot mata jelas tidak biasa. Dia sangat marah, sangat kesal, dan sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa kepada orang tuanya. Jika dia tahu lebih awal maka semuanya tidak akan seperti ini. Dia tidak akan kehilangan kedua malaikat pentingnya di dunia ini.
"Tidak mungkin..."
"Dia membunuh anggota keluarga kita... padahal dia hanyalah pendatang..."
"Aku sudah lama menebaknya jika wanita ini memiliki niat buruk masuk ke dalam keluarga kita..."
"Astaga, Ibu dan anak-anak benar-benar memiliki hati yang sangat kejam. Untunglah masalah ini segera terungkap, jika tidak, entah berapa nyawa yang harus melayang."
Berbagai macam bisikan memenuhi ruang pertemuan dan semua kata-kata itu ditujukan kepada Nenek dan Revan.
"Mhm! Mhm!" Nenek berteriak dengan tangisan yang semakin deras tapi Davin maupun keluarga yang lainnya tidak perduli.