
"Benarkah? Lalu lihat ini!" Papa melemparkan Ipad-nya ke lantai.
Dengan bunyi,
Pa
Mama dan Sera langsung melihat ke bawah.
Reaksi Sera dan Mama agak berbeda sebab Sera tidak tahu siapa orang yang ada di layar iPad papanya. Mereka terlihat loyo dan pucat seperti orang yang sakit keras juga ketakutan. Sebagai seorang dokter dia menebak bila ketiga orang ini pasti sedang berada di bawah ancaman seseorang. Jika tidak, bagaimana mungkin mereka terlihat seperti ini. Namun, apa hubungan orang-orang ini dengan keluarganya?
Sera bingung dan meyakinkan diri sendiri bahwa dia belum pernah melihat orang-orang ini apalagi sampai mengenalinya.
"Ma-"
"Enggak mungkin!" Kaget Mama shock melihat orang-orang suruhannya yang telah menghilang dari kemarin kini terlihat berantakan.
Diantara semua skenario yang bisa saja terjadi, Mama tidak pernah sampai berpikir bila orang-orang ini akan sampai pada tahap ini. Dihancurkan dalam waktu satu hari, Mama merasa punggungnya langsung dingin.
"Sekarang kamu tahu kesalahan mu, hah? Sekarang kamu mengerti kenapa aku harus memberikan mu tamparan?! Tidak! Sebenarnya kamu tidak hanya pantas mendapatkan tamparan, tapi kamu juga pantas dihukum cambuk!" Teriak Papa meraung dalam kemarahan.
"Aku...aku enggak kenal mereka, Pa! Aku enggak tahu siapa orang-orang ini!" Bantah Mama tidak mau mengakui kejahatannya.
Dia mungkin keras kepala pada saat seperti ini, tapi jika dia tidak keras kepala maka suaminya akan membencinya. Bagaimana mungkin Mama membiarkan hal itu terjadi? Setelah bertahun-tahun pernikahan, kehidupan mereka dilalui dengan keharmonisan dan kemesraan, setiap masalah yang datang diselesaikan bersama-sama. Suaminya sangat mencintainya, tapi suaminya tidak akan menoleransi orang yang suka menggunakan cara licik atau melakukan sebuah kejahatan. Suaminya menganggap bila orang-orang itu tidak memiliki hati nurani.
"Masih mengelak?! Lalu bagaimana caramu menjelaskan semua ini? Rekaman telepon dan chat kamu bersama salah satu diantara mereka bertiga, bisakah kamu menjelaskan kedua hal ini kepadaku?!" Papa kian marah melihat Mama berbohong.
Bukti sudah ada di depan mata, jadi tidak perlu mengelak lagi. Jujur Papa mencintai Mama dan karena perasaannya ini, Papa memiliki harapan kecil dihatinya. Berharap bila istrinya mengakui semua perbuatannya dan mau meminta maaf kepada Adit.
Tapi lihatlah sekarang, dia tidak hanya tidak mengakui, tapi dia juga berdalih bila dia tidak mengenal mereka bertiga.
"Pa...aku..." Mama mulai menangis terisak, antara panik dan cemas, hatinya sangat kacau.
"Jangan berdalih lagi. Ketahuilah, Adit yang memberikan aku bukti-bukti ini tadi sore saat kami tidak sengaja bertemu di mal. Dan apakah kamu juga tahu bila masalah yang kamu perbuat ini telah membuat Davin tidak puas! Dia mengatakan bila keluarga kita akan di skors selama 3 tahun tanpa sumberdaya apapun! Tidak hanya menghentikan sumberdaya tapi perusahaan ku juga harus kena imbasnya! Beberapa investor tiba-tiba mengundurkan diri dari kerjasama. Karena masalah yang kamu buat ini perusahaan kita mengalami kerugian besar. Sekarang apakah kamu tahu betapa seriusnya masalah ini?!" Teriak Papa mengeluh.
Perusahaannya mengalami kerugian besar. Walaupun tidak sampai bangkrut tapi imbasnya sangat besar. Dia harus kehilangan sejumlah uang yang telah didapatkan dengan susah payah selama beberapa waktu ini.