My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
15. (15)



Aku bangun pukul 4 subuh tanpa hambatan. Masuk ke dapur membuat sarapan untuk anak-anak dan mas Adit sementara para pelayan belum bangun.


"Apa lagi yang harus aku lakukan?" Gumam ku geli.


Aku tahu betapa konyol tingkahku sekarang. Bangun jam 4 pagi dan langsung membuat sarapan, em, setelah ini aku tidak tahu harus melakukan apapun lagi. Oh, aku terlalu antusias hari ini!


Konyolnya lagi bibirku tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali mengingat momen tadi malam ketika mas Adit datang bertamu ke rumah. Argh, aku sangat bahagia ya Tuhan!


Hati ini rasanya tidak sabar untuk segera bertemu dengan mas Adit.


Karena sarapan sudah selesai ku buat, aku memutuskan untuk membangunkan anak-anak untuk sholat subuh, mandi, dan membantu mereka untuk memakai seragam sekolah.


Pukul 7 pagi kemudian, mas Adit datang ke mansion. Dia langsung naik ke lantai dua untuk bertemu dengan tuan Davin. Mungkin mereka sedang membicarakan apa yang harus mas Adit dan aku lakukan selama tinggal di kota D. Hem, kami akan pergi selama 3 hari dan membutuhkan aturan jadwal yang terarah. Entahlah, aku belum pernah ikut campur dalam urusan bisnis karena itu bukanlah bidang ku.


Aku hanya bertugas menemani mas Adit selama di sana dan memastikan segala macam kebutuhannya di penuhi dengan baik.


Ah, kalau begini aku tidak ada bedanya dengan istrinya saja.


"Astaga, apa yang baru saja aku pikirkan?!" Aku buru-buru menepuk kepalaku malu.


...🌪️🌪️🌪️...


Ketika masuk ke ruang makan, orang pertama yang dia lihat adalah Anggi dengan sikap konyolnya yang udik. Dia mengernyit tidak senang tapi masih bersikap ramah kepadanya. Dia bukanlah orang yang jahat dan tidak ada masalah untuk berbicara sepatah dua kata sebagai sapaan ramah kepada Anggi. Toh, mereka tidak harus bersentuhan jadi seharusnya itu bukan masalah.


"Pagi Mbak Anggi?" Sapa nya ramah.


Anggi terkejut, dia sontak menoleh ke belakang. Ternyata Sera lah yang memanggilnya barusan. Sera sekarang sudah berjalan menghampirinya dengan gaun biru laut selutut yang indah dan menawan. Rambut lurus panjangnya dibiarkan terurai di belakang mengikuti garis pinggangnya yang ramping.


"Pagi. Kok tumben Sera datang ke sini pagi-pagi?" Anggi sangat antusias melihat Sera.


Oh, biasanya Sera datang ke mansion Demian saat sore atau pulang kerja karena dia sangat sibuk mengurus klinik hewannya. Tapi hari ini dia datang begitu tiba-tiba, Anggi pikir dia pasti memiliki urusan.


"Eh iya, Mbak. Hari ini aku harus pergi ke kota D sama kak Adit jadi harus buru-buru ke sini karena kak Adit bilang kita harus berangkat pagi-pagi." Jawab Sera dengan nada bangga di dalam suaranya.


Rona merah lembut mulai mengembang di wajah cantiknya yang menawan. Khusus untuk hari ini Sera melepaskan kacamatanya sehingga penampilan cantik nan lembutnya berkali-kali lipat lebih menarik daripada saat menggunakan kacamata.


Anggi jelas sangat terkejut. Untuk sesaat senyuman lebar di bibirnya praktis menjadi kaku. Kebahagiaan yang sempat bergelora di hatinya segera menguap entah kemana. Kecewa mungkin, itulah yang dia rasakan. Dia pikir perjalanan ini akan dilalui hanya berdua saja tanpa adanya kehadiran orang lain. Tapi ternyata dia terlalu berharap tinggi karena kenyataannya Sera juga ikut dalam perjalanan ini.


"Wah.." Anggi berusaha menggerakkan lidahnya yang kelu.


"Kamu sangat cantik pagi ini." Pada akhirnya dia hanya bisa mengatakan ini.


Sera tersenyum aneh melihat reaksi suram di wajah Anggi. Sebagai saingan cinta tentu saja dia senang melihat Anggi cemburu dan kecewa karena dia akhirnya bisa memiliki waktu bersama dengan Adit.


Lagian dibandingkan Anggi, dia jauh lebih baik jadi tidak seharusnya dia memiliki kekhawatiran yang sia-sia di dalam hatinya.


Hanya seorang janda dua anak, lihat saja pakaiannya yang membosankan, Kak Adit enggak mungkin suka sama cewek bekas apalagi kotor seperti dia. Batin Sera menenangkan hatinya.


"Terima kasih, hari ini aku sengaja berdandan seperti ini karena ini adalah pengalaman pertama ku pergi berjalan-jalan dengan kak Adit."


Anggi tersenyum kaku, dia hanya menanggapi apapun yang Sera katakan secara sopan. Mundur beberapa langkah ke belakang, dia menghela nafas panjang untuk menahan sesak di dadanya.


Melihat betapa cantiknya Sera, dia kembali lagi diingatkan dengan sebuah kenyataan pahit bila dirinya sendiri tidak pantas bersanding dengan Adit. Adit belum menikah dan memiliki karir yang gemilang. Sedangkan dirinya adalah seorang janda beranak dua, selain itu dia juga memiliki masa lalu yang kelam jadi kesimpulannya dia tidak cocok untuk Adit.


Untuk sekelas Adit, mungkin semua orang akan setuju jika dia bisa bersama dengan Sera. Sebab Sera adalah gadis yang belum menikah, cantik, dan memiliki karir yang sama gemilangnya dengan Adit. Jelas saja dari sudut pandang manapun mereka sangat cocok bersama.


"Jika kamu belum sarapan kenapa tidak bergabung saja di sini bersama yang lain?" Anggi mengalihkan perhatiannya agar suasana hatinya tidak semakin anjlok.


Sera melihat nasi goreng dan bubur putih yang masih hangat di atas meja. Baunya sangat menggoda tapi dia tidak tertarik bila orang yang membuatnya adalah Anggi.


"Apakah mbak Anggi yang membuatnya?"


Anggi secara alami mengakuinya.


"Benar, sarapan di sini selalu menjadi tugasku."


Sera tersenyum simpul, menarik kursi yang lebih jauh dari tempat makanan tersaji dan duduk dengan nyaman.


"Oh, aku tidak lapar. Aku bisa sarapan di dalam mobil nanti bersama kak Adit." Katanya menahan jijik.


Anggi merasa sikapnya aneh lagi. Entahlah, setiap kali mereka bertemu Sera selalu memberikan kesan ini kepadanya. Menjaga jarak dan terkesan jauh, Anggi tidak tahu apakah dia pernah menyinggungnya selama ini.


"Ah, kalau begitu kamu bisa duduk di sana sembari menunggu mas Adit turun dari ruangan tuan Davin." Kata Anggi canggung.


Dia lalu pergi ke dapur untuk menenangkan dirinya. Mengambil segelas air putih dan langsung meminumnya dalam satu tarikan nafas. Ah, hatinya benar-benar tidak nyaman!


"Aku tidak mau pergi...aku rasanya tidak sanggup bila harus melihat mereka bersama." Gumam Anggi sedih.


Dia cemburu, tentu saja. Tapi apa haknya cemburu di sini? Bukankah dia dan Adit tidak memiliki hubungan apa-apa, selain hubungan atasan dan bawahan?


Anggi sedih tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Salahkan dirinya yang jatuh cinta pada laki-laki yang tidak seharusnya dia harapkan.


"Mbak Anggi kenapa?" Seorang pelayan menyapa.


Dia cukup dekat dengan Anggi jadi dia sama sekali tidak canggung saat berbicara dengan Anggi.


Anggi menggelengkan kepalanya, memaksakan senyum santai seolah semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang pernah terjadi.


"Aku enggak apa-apa. Okay, aku ke kamar dulu yah beresin barang-barang ku." Kata Anggi tidak mau banyak bicara.


Pelayan itu ingin mengatakan sesuatu tapi Anggi keburu pergi. Pelayan itu menghela nafas panjang, jelas menyadari ada sesuatu yang salah dengan atasannya itu. Tapi mungkin itu menyangkut privasi Anggi sendiri sehingga tidak baik untuk terus bertanya.


Sementara itu pada saat yang sama Adit telah menyelesaikan pembicaraannya dengan Davin di lantai dua. Dia segera turun ke bawah dan masuk ke ruang makan tanpa diminta.


"Kak Adit!" Sera memanggil dengan senyuman ceria di wajahnya.


Penampilannya sangat menawan tapi bukan itu fokus Adit untuk saat ini. Dia melihat ke sekeliling ruang makan tapi tidak menemukan sosok yang dia cari.


Lalu bertanya-tanya kepada Sera,"Dimana Anggi?"


Senyuman Sera langsung membeku. Wajahnya cemberut membentuk senyuman tipis terlihat agak kesal.


"Aku tidak tahu. Kenapa kak Adit mencari dia?" Tanyanya menyelidik.


Adit mengabaikan wajah cemberutnya karena dia tidak punya waktu untuk bermanja-manja dengan Sera.


"Anggi akan ikut bersamaku di ke kota D." Jawab Adit singkat sembari membawa langkah kakinya menuju kamar Anggi.


Dia pikir Anggi pasti sedang menyiapkan barang-barangnya di dalam kamar.


Sementara itu Sera yang ditinggalkan sangat shock dengan jawaban Adit. Dia tidak tahu bila Anggi akan ikut bersama mereka karena Adit tidak pernah menyebut nama Anggi apalagi sampai mengungkit-ungkitnya. Nyatanya Sera sudah merasa di atas angin karena berpikir dia adalah gadis yang beruntung bisa pergi bersama Adit ke kota D. Tapi siapa yang menyangka bila Anggi juga ikut serta dalam perjalanan ini!


"Kenapa wanita itu bisa ikut, sih?! Aku kan mau berduaan sama kak Adit tapi kenapa mbak Anggi harus ikut! Ah, setiap kali wanita ini selalu menggangguku dengan kak Adit!" Dumel Sera kesal.


Menghentakkan kakinya marah, dia lalu menyusul Adit ke kamar Anggi. Berlari kecil menyusul pemilik punggung dingin nan kaku itu.


Tok


Tok


Tok


"Anggi, ini aku." Begitu Adit bersuara, pintu kamar Anggi segera dibuka.


Dari luar Adit dan Sera melihat seorang wanita cantik kini tengah berdiri dengan balutan gaun hijau selutut nya yang polos.


Gaun ini tidak memiliki tambahan warna dan memiliki bentuk yang ramping di pinggang hingga membentuk lekuk pinggang Anggi yang jarang terekspos.


"Maaf, apa aku telah membuat mas Adit menunggu lama?" Tanya Anggi malu agak menghindari bola mata gelap Adit.


Adit terdiam, kedua mata almond nya yang bersinar gelap seketika terpaku melihat penampilan sederhana Anggi tapi memiliki pesona yang agak tinggi.


"Tidak, ayo keluar. Dimana koper mu?"


Anggi langsung masuk ke dalam untuk mengambil koper mini yang telah dia siapkan.


"Ayo, mas." Kata Anggi.


Adit secara alami mengambil koper itu dari tangannya dan memimpin langkah tanpa sepatah katapun. Anggi sangat gugup sejujurnya. Tapi karena ada Sera di antara mereka, dia tiba-tiba menumbuhkan perasaan egois untuk dirinya sendiri. Dia ingin membuktikan bila Adit juga juga tidak mengabaikan keberadaannya.


"Ayo, Ser?"


Wajah Sera cemberut. Dan bahkan sudut bibirnya pun tak semulus nya membentuk senyuman.


"Hem." Pergi mengikuti langkah Adit dan mengabaikan keberadaan Anggi.


Anggi meremat tangannya gugup. Dia mengikuti langkah mereka berdua dari belakang tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sesampai di mobil, Adit adalah orang yang akan membawa mobil secara pribadi jadi dia duduk di depan. Sementara itu Sera yang sebal dengan Anggi tanpa canggung duduk di depan menemani Adit.


Anggi menghela nafas panjang, naik ke mobil dan menyandarkan punggungnya untuk beristirahat sembari menatap keluar jendela. Kali ini dia harus bisa menangani ketidaknyamanan di dalam hatinya agar Adit maupun Sera tidak melihat ada sesuatu yang salah darinya.


Perjalanan ke kota D terasa lebih membosankan dari yang Anggi duga. Sepanjang jalan dia mendengarkan suara celotehan Sera yang cerewet dan tidak berhenti bersuara sejak memasuki mobil. Sedangkan Adit yang diajak bicara dari waktu ke waktu bersenandung rendah untuk merespon setiap pertanyaan Sera.


Sungguh sangat membosankan.


3 jam kemudian mereka telah memasuki kota D. Tanpa tanggung-tanggung Adit menghentikan mobilnya di depan klinik hewan ternama di kota ini.


"Kita sudah sampai." Kata Adit kepada Sera.


"Sampai..." Sera yang mengantuk mendongak ke luar dan langsung terkejut ketika melihat gedung berlantai tiga di seberang jalan.


"Kenapa kita ke sini?" Tanya Sera kaku.


Adit tersenyum tipis,"Tujuanmu mengikuti aku ke kota D karena ingin ke tempat ini. Jadi aku sekarang mengantar mu ke sini.."


Apa yang Adit katakan memang benar. Semalam dia mendengar Adit akan pergi ke kota D jadi segera menghubungi Adit dan memintanya untuk ikut. Awalnya Adit menolak, tapi saat Sera beralasan ingin nebeng saja untuk pergi ke klinik hewan di kota D, Adit akhirnya tidak lagi menolak.


"Aku..tapi aku.." Rasa kantuk Sera sepenuhnya hilang.


Dia menggigit bibirnya gugup menolak turun dari mobil.


Tapi Adit tidak tertarik untuk bermain tarik ulur dengannya. Sejujurnya Adit bingung dengan sikap Sera baru-baru ini. Dulu dia dianggap sangat dewasa karena pembawaannya yang lemah lembut dan pengertian. Tapi baru-baru ini dia menjadi orang yang berbeda, menekan dan tidak sabaran. Adit malah berpikir jika Sera adalah dua orang yang berbeda.


"Aku tidak punya waktu lagi. Kau tahu bila urusanku di sini tidak main-main karena dibawah perintah tuan Davin langsung."


Sera juga mengerti ini. Tapi dia menolak untuk pergi. Jadi dia berkelit.


"Aku...apa aku boleh ikut bersama kalian? Aku janji tidak akan mengganggu urusan kalian selama di sini." Kata Anggi berjanji.


Tapi Adit dengan tegas menolak. Dia benar-benar tidak mampu menanggung kecerewetan Sera lebih lama lagi. Itu sangat bising dan sulit berhenti bicara. Selama perjalanan mulut itu selalu saja mengeluarkan banyak topik untuk dibicarakan yang membuat Adit sakit kepala.


"Aku benar-benar tidak bisa membawa orang lain dalam masalah ini. Keluar lah, aku sangat sibuk di kota ini."


Sera sedih, dia melihat ke Anggi yang masih tidur dengan damai di belakang dan memiliki kecemburuan yang tidak bisa ditutupi oleh matanya. Bertanya-tanya mengapa keberuntungan Anggi sangat baik sedangkan dirinya tidak?


"Jika tidak aku akan memberitahu tuan Davin-"


"Jangan, kak! Aku akan keluar...aku akan keluar." Sejauh menyangkut Davin, dia tidak memiliki keberanian karena Davin sangat tegas terhadap keputusannya dan tidak mudah goyah selama keputusan itu dibuat.


Akhirnya dengan marah dia keluar dari mobil Adit. Menyeret kopernya ke klinik hewan sembari berjanji kepada dirinya sendiri, dia akan mencari mereka berdua beberapa hari ke depan.


Hah, mana mungkin dia membiarkan mereka pergi begitu saja berduaan?


Tidak, Sera tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi.


Setelah Sera turun dari mobil, Adit langsung membawa mobilnya ke sebuah hotel yang telah dia atur semalam.


"Anggi?" Adit menoleh ke belakang untuk melihat Anggi yang sedang tertidur.


Ketika Adit melihat pemandangan ini, dia tiba-tiba enggan untuk membangunkan Anggi. Pasalnya tidurnya sangat lelap dan damai seolah-olah dia tidur di atas kasur bukan di dalam mobil.


Tidak enak, akhirnya Adit memutuskan untuk tidak membangunkannya sampai dia bisa bangun sendiri. Tapi keputusannya sia-sia karena suara klakson keras mobil di luar langsung mengagetkan Anggi dari tidurnya.


"Oh..." Anggi dengan bingung melihat keluar jendela.


"Kita sudah sampai?" Tubuhnya langsung menegang.


Buru-buru dia menyentuh wajahnya untuk memastikan bahwa tidurnya tidak kacau.


Adit terkekeh,"Yah, ayo turun."


🌪️🌪️🌪️


Sudah dua hari Anggi di kota D dan sudah dua hari pula dia menghabiskan waktu bersama dengan Adit. Tidak ada yang luar biasa karena selama bersama Anggi hanya menemaninya mengurus beberapa urusan yang sangat padat. Mereka bahkan tidak bisa beristirahat dengan baik karena padatnya jadwal pertemuan dari beberapa perusahaan besar.


Untuk Anggi sendiri ini sangat tidak biasa tapi berbeda untuk Adit. Dia sudah biasa dengan kesibukan dan jadwal yang padat jadi dia tidak merasa terlalu kelelahan. Tapi Anggi tidak, tulang-tulangnya serasa mau patah dan badannya pun pegal-pegal. Setiap pulang ke hotel dia langsung jatuh tertidur dan mengabaikan makan. Tidak perduli bagaimana Adit membujuk, baginya tidur jauh lebih baik dan nyaman.


Tok


Tok


Tok


Subuh keesokan harinya, pintu kamar hotel Anggi diketuk. Anggi segera membuka pintu dan membiarkan Adit masuk ke dalam.


"Sudah siap?"


"Sebentar, aku perlu menaruh beberapa barang lagi ke dalam tasku." Kata Anggi.


Dia mengambil tasnya dan mengambil beberapa alat make up yang paling dibutuhkan saat berada di luar rumah. Alat make up ini mungkin dimiliki oleh semua wanita saat mereka berpergian.


"Sudah. Pergi sekarang?"


"Hem." Adit memimpin jalan.


Semalam setelah pulang dari pertemuan terakhir Adit memintanya untuk bersiap-siap setelah sholat subuh karena mereka akan berkunjung ke suatu tempat. Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan karena Adit bilang semua pertemuan sudah diselesaikan selama dua hari ini. Karena itulah Anggi sangat bersemangat hari ini karena dia akhirnya memiliki waktu bersantai dengan Adit di kota ini.


Mereka menempuh perjalanan dengan mobil. Selama di jalan Anggi tidak pernah bertanya mereka akan kemana karena Adit tidak suka dengan orang yang terlalu banyak bicara.


Sampai setengah jam kemudian langit berangsur-angsur menjadi terang. Dari jauh Anggi bisa melihat langit pantai yang indah diterangi oleh cahaya keemasan matahari yang akan segera terbit.


Mobil berhenti di pinggir jalan. Di sini sudah banyak kendaraan yang telah parkir sementara orang-orang berkumpul di pinggir pantai. Duduk bersama pasangan atau sahabat untuk menikmati matahari terbit yang indah.


"Turun?"


Anggi sangat malu tapi dia ingin sekali bercampur dengan malu. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


"Iya, mas."


Turun dari mobil tangan Anggi segera digenggam oleh Adit. Untuk sejenak Anggi menjadi kaku karena tidak siap. Tapi beberapa waktu kemudian dia merilekskan tubuhnya dan membiarkan Adit membawanya ke garis pantai.


Mereka duduk di sebuah tempat di antara kerumunan orang-orang. Duduk di atas pasir menatap sinar keemasan yang mulai muncul perlahan tanpa melepaskan genggaman tangan mereka berdua, untuk sesaat Anggi memiliki ilusi bila mereka berdua sedang berkencan sekarang.