
3 jam kemudian, Rein telah mendapatkan laporan hasil tes darah Aska. Seperti yang ia duga sebelumnya jika ada sesuatu yang salah dengan tubuh Aska dan harus melalui uji klinis dari pihak rumah sakit untuk mengetahui kondisi tubuh Aska secara menyeluruh. Dan sekarang, di sinilah Rein. Duduk dengan gugup berhadapan dengan dokter Adit, dokter umum yang bertugas menangani Aska semenjak dilarikan ke rumah sakit.
Dokter Adit adalah orang yang ramah dan tidak suka berbasa-basi. Di usianya yang masih muda, dokter Adit kabarnya telah mendapatkan banyak prestasi besar dalam hal medis dan telah menjadi rebutan beberapa rumah sakit ternama di kota. Rein hanya mendengarnya sekilas dari para perawat yang sempat menangani Aska di dalam bangsal rumah sakit dan sebenarnya ia merasa sangat bersyukur karena dokter Adit adalah dokter yang menangani putranya.
Kerutan halus seketika terbentuk di atas kening dokter Adit. Ketika Rein melihatnya sinyal di kepala langsung mengirimkan alarm darurat, tidak bagus pikirnya.
Rein bersikap patuh namun sebenarnya dia saat i ini sangat tidak tenang. Kedua tangannya yang tersembunyi di bawah meja tidak berhenti saling meremat karena gelisah. Sementara kedua mata persik nya tidak pernah lepas dari kertas putih yang ada di tangan dokter Adit.
"Bagaimana, dok?" Tanya Rein diliputi perasaan nervous.
Sambil meletakkan kertas putih laporan hasil kesehatan Aska, dokter Adit kemudian mengangkat kepalanya menatap wajah gugup Rein. Dia mengangkat jari telunjuk tangan kanannya untuk memperbaiki letak kecamatan di pangkal hidungnya.
"Nyonya, apa aku boleh bertanya sejak kapan putra Anda mengkonsumsi obat tidur?" Ekspresi dokter Adit agak rumit ketika menayangkan masalah ini.
Speechless, mulut Rein terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara sepatah katapun. Dia meragukan pendengarannya sendiri tapi dia jauh lebih meragukan kecerdasan otaknya yang sangat lambat memproses pertanyaan dari dokter Adit.
Obat tidur?
Hatinya bergemuruh dalam ketidakpercayaan. Semua kecurigaan-kecurigaan yang telah memupuk di dalam kepalanya satu demi satu merangsang kemarahan membara di dalam hati Rein.
Berawal dari sikap pengasuh Aska yang terkesan menutupi resep minuman energi Aska, lalu berlanjut sampai sikap patuh Aska saat sedang tertidur, berkali-kali mencoba Aska tidak kunjung bangun dari tidurnya.
Rein akhirnya mengerti alasan kenapa putranya tidak menyukai pengasuh itu dan ia bahkan sangat mengerti kenapa Aska tidak suka dengan minuman yang pengasuh itu berikan.
"Aska... apa dokter yakin jika putraku meminum obat tidur?" Rein bertanya dengan nada suara emosional.
Reaksinya adalah jawaban dari kebingungan yang berdengung di dalam benak dokter Adit.
Memangnya, Ibu mana yang akan tega membunuh anaknya sendiri?
"Benar, Nyonya. Jika dilihat dari situasinya saat ini sepertinya putra Anda telah mengkonsumsi obat tidur sejak 1 tahun yang lalu secara rutin, ini adalah kabar buruknya. Kabar baiknya, putra Anda masih belum memasuki tahap kelumpuhan. Dia masih bisa bergerak dan beraktivitas seperti anak-anak pada umumnya. Akan tetapi jika ini terus dibiarkan saya takut putra Anda tidak akan lama lagi kehilangan dunia anak-anaknya. 2 atau 3 tahun lagi dia pasti akan terbaring di ranjang rumah sakit mengalami kelumpuhan total. Hidupnya hanya bisa disokong oleh alat-alat medis dan tidak akan bertahan lama, pada akhirnya kita sudah tahu jawaban apa yang akan menimpa putra Anda selanjutnya." Ulas dokter Adit dengan nada serius dan tidak main-main.
"Putraku.." Rein mengepalkan tangannya marah bercampur sedih, dia bahkan kesulitan mengucapkan kata-katanya karena emosi yang bergemuruh di dalam dadanya.
Apa salah putranya?
Dia hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa urusan orang dewasa tapi kenapa mereka semua masih melibatkan putranya?
Kejamnya, betapa kejamnya mereka.
"Dia baik-baik saja. Setelah mendapatkan perawatan berkelanjutan dari rumah sakit, putra Anda bisa kembali bebas beraktivitas seperti anak-anak pada umumnya. Seperti yang saya jelaskan tadi, putra Anda beruntungnya baru mengkonsumsi obat keras ini selama 1 tahun dan masih bisa diselamatkan." Dokter Adit mengulangi penjelasan yang sama kepada Rein dengan sabar.
Dia mengerti kekalutan Rein dan dia juga tidak menghakimi Rein atas masalah ini karena biar bagaimanapun masalah ini pasti menyangkut privasi rumah tangga Rein.
"Sungguh, dok?" Rein terjebak antara merasa lega karena putranya baik-baik saja dan tidak lega karena gara-gara masalah ini ia menyadari jika putranya telah menjadi target kejahatan seseorang.
"Benar, Nyonya. Putra Anda baik-baik saja." Dokter Adit menegaskan lagi.
Rein menganggukkan kepalanya puas. Ia lalu mengusap air mata di wajahnya sambil memikirkan langkah apa yang selanjutnya ia lakukan untuk masalah putranya.
Polisi?
Benar, Rein harus membawa masalah ini ke kantor polisi untuk ditindaklanjuti. Ia tidak perduli dan tidak takut dengan siapa musuhnya karena hal yang paling penting menurutnya adalah keadilan untuk Aska. Dia ingin membebaskan Aska dari kejahatan orang-orang yang tidak memiliki hati nurani itu. Untuk Aska, untuk putranya, Rein bisa melakukan apapun.
"Dok," Rein memperbaiki posisi duduknya.
Berbisik,"Apakah saya boleh meminta bantuan, dokter?"
Dokter Adit tidak mengecewakannya dan dengan koperatif bertanya,"Bantuan apa yang Nyonya Rein butuhkan?"
Rein mengepalkan kedua tangannya menahan amarah ketika mengingat wajah pengasuh Aska,"Di rumah ku masih ada termos sisa minuman energi putraku yang masih ku simpan..."