
Rein tersenyum kecil.
"Pak, maaf sebelumnya. Anda mungkin salah memahami sesuatu karena aku sama sekali tidak bermaksud mengenang masa lalu diantara kita."
Davin tidak perduli.
"Bagus jika kamu berpikir seperti itu. Masa lalu adalah masa lalu, waktu itu tidak ada hubungannya dengan sekarang."
Semudah itu?
Rein tidak kuasa menahan retakan nyaring di dalam hatinya. Bagaimana mungkin kenangan selama 3 tahun kebersamaan mereka tidak ada hubungannya dengan saat ini?
Hah, ya..ini benar. Karena pengkhianatan masa lalu mereka sekarang tidak lebih dari dua orang asing yang terikat hubungan atasan dan bawahan.
"Pak, mengenai informasi yang sekretaris Anda katakan, apakah saya bisa mengundurkan diri dari tugas itu?"
Davin tidak mengerti-tidak, lebih tepatnya dia berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Rein.
"Tugas apa?"
Rein jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Tugas mengantarkan kopi ke ruangan Anda setiap hari. Bisakah tugas ini dialihkan kepada yang lain-"
"Tidak bisa. Keputusan ku ini sudah final." Potong Davin acuh tak acuh.
"Pak, ini demi kebaikan kita berdua. Aku tidak ingin terus terjebak dengan Anda, karena seperti yang Anda bilang masa lalu tidak ada hubungannya dengan sekarang."
Rein ingin menjauh, jika Tuhan mengizinkan dia ingin bersembunyi dari laki-laki tidak berperasaan ini.
"Masalah itu, jangan salah paham, Rein."
Melihat betapa arogannya laki-laki ini, Rein mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Aku memintamu mengantarkan kopi ke ruangan ku setiap hari bukan karena ingin mengenang masa lalu denganmu,"
Bertemu setelah sekian lama berpisah, mengucapkan kata-kata kejam yang menusuk, dan bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi di tahun-tahun menipu itu, apakah..
"Tapi itu karena aku tahu kamu membutuhkan uang untuk menghidupi dirimu sendiri di kota ini. Aku adalah penyedia uang untukmu, sedangkan kamu adalah pekerja kasar yang membutuhkan uangku untuk bertahan hidup."
Apakah dihatinya tidak pernah terbersit sebuah rasa bersalah sedikitpun?
Apakah tidak ada rasa bersalah sedikitpun di dalam hatinya?
"Bukankah hubungan ini menguntungkan untuk satu sama lain?"
Rein mengambil nafas panjang. Dia harusnya tahu bila hati laki-laki ini sangat kejam dan tidak berperasaan, itu seperti hari-hari ketika dia ditinggalkan sendirian di rumah dengan alasan klise 'sibuk' bekerja.
Dasar sampah!. Batin Rein kesal.
"Hubungan ini cukup menguntungkan." Ujar Rein tanpa senyum.
"Aku tahu kamu mengerti. Sekarang buatkan aku kopi sebelum aku mulai merasa bosan."
Rein mengambil nampan kopi yang tidak pernah disentuh sama sekali oleh Davin.
"Aku akan segera memberi tahu Bu Dinda-"
"Jangan membuang banyak waktu. Buat kopi di sini lebih cepat lebih baik." Davin sekali lagi memotong.
Rein menatap Davin datar. Mereka baru bertemu dua hari tapi Davin sudah banyak menyusahkan. Rein tahu Davin adalah atasannya tapi setiap perintah yang Davin keluarkan seringkali berlawanan dengan perintahnya yang lain. Contohnya seperti ini, kemarin Davin memintanya untuk tidak membuat kopi lagi tapi sekarang dia tiba-tiba memintanya membuat kopi. Mengapa Rein baru menyadarinya jika Davin sangat menyebalkan?
"Pak, bukankah Anda kemarin melarang ku membuat kopi?" Rein dengan murah hati mengingatkan.
Davin melepas kacamata kerja yang sudah berjam-jam membebani pangkal hidungnya. Aura dominasinya seketika berubah setelah tidak lagi menggunakan kacamata.
"Hari ini pengecualian karena keadaan darurat. Ini juga kesalahan kamu sendiri yang tidak becus mengantarkan kopi."
Rein tercengang mendengar alasannya. Memang ia akui ini adalah kesalahannya tapi dari semua kemungkinan yang ada dia tidak pernah berharap Davin akan memintanya membuat kopi!
Hey, siapa kemarin yang dengan sombongnya meminta Rein untuk menyingkirkan kopi yang sudah dibuat dengan sepenuh hati selayaknya barang menjijikkan?
"Aku... mengerti, Pak."
Rein secara alami ingin pergi tapi Davin menghentikan.
"Mau pergi kemana?" Tanya Davin dengan nada tidak sabar.
Rein menunjuk ke pintu masuk.
"Pergi untuk membuat kopi."
"Apa kamu tuli? Bukankah aku tadi bilang tidak usah membuang banyak waktu dan segeralah buat kopi di sini."
Rein sontak melihat sekelilingnya. Di sini tidak ada sama sekali penampakan dapur yang ia cari-cari. Hanya ada rak-rak dokumen penting, brankas, meja kerja Davin dengan setumpuk dokumen di atasnya, dan barisan sofa mahal yang sudah diatur rapi.
Dimana dapurnya!
"Tapi di sini tidak ada dapur?"