
"Mommy, Tio ingin tidul!"
Teriakan manja Tio dengan mudah menarik perhatian Rein yang baru saja menyelesaikan kegiatan bersih-bersihnya. Seharusnya tidak ada lagi yang perlu ia lakukan untuk saat ini karena semua tempat sudah bersih dan rapi.
"Nak, gak boleh teriak-teriak di sini, okay? Tio gak mau'kan liat Mommy dimarahin orang?"
Rein mengelap kedua tangannya di baju seragam office girl miliknya sebelum merendahkan tubuhnya untuk memeluk Tio. Dia sudah mengantuk karena belum sempat tidur siang. Biasanya di rumah penitipan anak, Tio dan anak-anak yang lain harus mendapatkan jatah tidur siang di sana 1 atau 2 jam agar tubuh mereka bisa lebih nyaman lagi.
"Siapa yang malahin, Mommy?" Meskipun sudah mengantuk berat Tio masih sempat bertanya.
Rein tersenyum kecil. Dia mengusap lembut kepala anaknya agar segera jatuh tertidur dan berhenti bertanya.
"Tio tidur dulu yah, biar nanti malam bisa Mommy ajak beli es krim?" Rein membujuk.
"Okay, Mommy~" Suaranya mulai menipis dan kedua matanya yang berat perlahan terpejam masuk ke alam mimpi.
Rein mengecup puncak kepalanya sayang. Dia baru saja ingin membawa Tio pergi tapi langkahnya segera ditahan oleh Dimas.
"Tio nya biar aku aja yang bawa." Dia mengambil alih Tio dari dalam pelukan Rein.
Rein tertangkap tidak siap. Dia tidak berharap Dimas langsung mengambil Tio dari pelukannya bahkan sebelum ia bisa mengatakan apa-apa!
"Lo gak pergi rapat sama yang lain?"
Beberapa menit yang lalu banyak karyawan yang datang ke auditorium dengan langkah tergesa-gesa. Ia dengar dari petugas administrasi di depan jika Davin akan mengadakan rapat untuk perencanaan bulanan perusahaan.
Rein memang tidak terkejut Davin langsung kembali bekerja setelah beristirahat sedikit karena dia adalah pecinta kerja. Tapi menurutnya kebiasaan ini terlalu buruk untuk kehidupan Davin di masa depan. Karena terlalu sibuk bekerja dia mulai banyak mengkonsumsi obat tidur dengan dosis tinggi, mengabaikan waktu istirahat dan melewatkan waktu makan.
Dia harus ditolong secepat mungkin sebelum tubuhnya drop.
"Yang rapat cuma manager dan ketua departemen. Gue di sini cuma pegawai biasa jadi gak bisa ikut rapat."
Rein mengangguk ringan.
"Kasian banget deh, lo." Ejek Rein
Dimas mengangkat bahunya tidak perduli. Memangnya siapa yang mau ikut rapat jika yang memimpin rapat adalah Davin, saingan cintanya yang sangat arogan.
"Gak perduli, gue. Tio mau lo bawa kemana?" Dimas mengalihkan topik pembicaraan.
"Tio mau gue bawa ke-" Rein terdiam, dia menoleh ke belakang tapi tidak melihat siapa pun.
"Lo kenapa?" Dimas juga ikut menoleh ke belakang.
Rein menggelengkan kepalanya.
"Leher gue cuma pegal, sengaja di puter-puter biar lebih nyaman." Dia berbohong.
Padahal dia tadi sempat merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Namun, ini hanya perasaannya saja karena ketika dia menoleh tidak ada siapapun di belakang.
"Apa ini karena gue terlalu banyak pikiran?" Gumam Rein asal menebak.
Hah, apalagi soal keputusan Davin memintanya untuk masuk shift pagi tadi, Rein tidak bisa menolak dan dia juga belum memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan untuk jadwal masuk Tio.
"Makanya lo jangan terlalu maksaain diri kerja, Rein. Ini tubuh bukan batu, lo bisa sakit juga bisa terluka."
"Eh,"
Dimas langsung memijat leher ramping nan putih Rein tanpa perlu diminta. Sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya tatkala melihat kedua mata persik Rein membola, tampak lucu dan menggemaskan. Bila Tio tidak ia sedang gendong, maka mungkin pipi Rein sudah ia cubit sedari tadi.
"Apaan sih, Dim. Geli tau!" Rein segera menyingkirkan tangan Dimas.
"Gue pijitin biar cepat sembuh."
Dimas mengangkat tangannya lagi ingin menyentuh tapi Rein buru-buru menjaga jarak darinya sambil melindungi batang lehernya.
Di samping merasa geli, Rein juga tidak nyaman bertindak seakrab ini dengan Dimas di perusahaan. Takutnya ada rumor buruk yang menyebar nantinya mengenai mereka berdua.
"Gak usah, ini udah baik-baik aja kok. Udah, mending lo bawa Tio aja ke ruangan office girl biar badannya gak pegal-pegal nanti."
Dimas mengangkat tangan tidak mengejar lagi. Dia dan Rein pergi bersama-sama menuju ruang office girl. Sepanjang jalan di lift ataupun diluar obrolan mereka berdua tidak ada putus-putusnya.
Hal-hal yang mereka bicarakan tidak ada bedanya dengan topik di rumah. Pada akhirnya Dimas harus berkali-kali menerima kata-kata pedas Rein yang bermulut tajam. Meskipun terdengar menjengkelkan tapi dia menikmati semua waktu-waktunya dengan Rein.
Berbeda dengan mereka berdua yang telah tenggelam dalam obrolan. Seseorang yang diam-diam bersembunyi dibalik tembok tadi akhirnya keluar dari persembunyiannya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun kecuali datar dengan aura malas yang menyegarkan mata.
"Pak, semua orang sudah menunggu Anda di dalam."