My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
145. Provokasi



"Tentu saja kamu, memangnya siapa yang kamu harapkan aku panggil istri?"


Aku memutar bola mataku malas. Menatapnya dengan mata mengancam agar ia segera mengenyahkan pikiran jahat itu dari kepalanya.


"Dav, kamu jangan macam-macam." Peringat ku serius.


Dia lagi-lagi tertawa. Tangan kirinya dengan lancang mencubit pipi kananku. Bila dia melakukannya di rumah, aku pikir dia bisa saja melakukannya dan aku pun tidak akan marah. Tapi saat ini kami sedang ada di pesta perjamuan dan ditatap oleh banyak orang. Aku perlu menjaga penampilan agar tidak mempermalukan Davin. Aku tidak mau Davin di-bully gara-gara penampilanku yang berantakan.


"Davin ih, riasan aku nanti rusak." Kataku jengkel seraya menyingkirkan tangannya dari pipi ku.


Setelah tangannya berhasil ku singkirkan, dia pun menarikku masuk ke dalam pelukannya. Nyaman sekali rasanya tapi aku tahu ini bukanlah tempat yang tepat untuk berbagi kasih karena lagi-lagi kami pasti menjadi bahan perhatian para tamu undangan.


"Bagaimana mungkin?" Bisiknya tidak mendengarkan ku dan mungkin saja berpura-pura tidak melihat tatapan protes ku.


"Sudah 8 tahun berlalu tapi hatiku masih memiliki kamu sebagai pemiliknya. Jadi, tidak salah bukan aku memanggilmu istri?" Sambungnya cukup masuk akal.


Apa yang dia katakan tidak salah namun pada saat yang bersamaan memiliki makna yang salah. Haah, dia masihlah Davin Demian kekasihku yang bermulut manis dan memiliki banyak omong kosong. Dan khusus untuk semua kata-kata manis dan omong kosongnya malam ini, aku dengan senang hati akan memasukkan semuanya ke dalam hati.


"Kamu hanya berhak memanggilku istri setelah menikahi ku." Namun aku masih mengingatkannya dengan tegas dan serius bahwa aku ingin menjadi pendamping yang sah untuknya.


"Rein, kamu menyulitkan ku lagi." Dia berkata dengan nada ketidakberdayaan.


Aku tidak mengatakan apa-apa lagi dan jujur, aku merasa cukup puas malam ini. Tersenyum puas, aku lalu melepaskan pelukan kami dan menariknya untuk mengambil beberapa kue. Karena kami sudah ada di sini maka tidak ada salahnya mencoba beberapa kue cantik'kan?


"Kamu terlihat sangat menyukainya, jika kamu tidak keberatan aku akan menyiapkan makanan manis yang jauh lebih baik di vila kita-"


"Aku keberatan!" Potongku sebelum dia menyelesaikan ucapannya.


"Hem?"


Aku tidak langsung menjelaskan karena kedua tanganku sedang sibuk mengambil beberapa kue cantik. Setelah beberapa menit berlalu, barulah aku membalas kebingungannya.


"Makanan manis tidak baik dikonsumsi berkali-kali dan aku pribadi lebih suka makan makanan manis dari perjamuan seperti ini daripada di rumah. Aku tidak bisa membayangkan semua makanan ini di rumah dan akan terbuang sia-sia!"


Dia tersenyum simpul,"Baiklah, semuanya terserah kamu."


Setelah itu dia membawaku duduk di sebuah meja makan yang cukup jauh dari keramaian. Kami berada beberapa langkah dari balkon. Pemandangannya sangat indah dan nuansanya pun romantis. Davin tidak memiliki ketertarikan pada semua kue-kue itu. Dia hanya menemaniku makan dan lebih banyak memperhatikan ku.


"Tuan dan Nyonya, maaf mengganggu waktu kalian." Seorang laki-laki berjas hitam datang menghampiri kami berdua.


"Ya, ada apa?"


"Tuan kami ingin bertemu dengan Anda di kamar pribadi. Dia berharap Anda bisa meluangkan waktu untuk menemuinya di kamar pribadi."


Davin lalu melihat ke arahku."Apa kamu ingin ikut?"


Ikut mendengarkan pembicaraan bisnis lagi? Sangat membosankan. Gagasan ini langsung ku tolak tanpa berpikir panjang.


"Tidak, aku tidak ingin mengganggu kalian. Lagipula aku masih punya kue yang harus ku habiskan. Akan sayang jika aku tidak menyia-nyiakan nya."


Dia tersenyum simpul, tangan besarnya mengusap kepala ku singkat sebelum berdiri dari kursinya.


"Baiklah, tunggu aku di sini dan jangan kemana-mana." Pesannya sebelum pergi mengikuti kemana laki-laki berjas itu membawanya pergi.


Selepas Davin pergi, aku menyibukkan diriku kembali dengan semua makanan yang ada di atas meja. Awalnya, aku masih bisa merasa santai dan nyaman dengan kesendirian ku. Tapi semua itu segera menguap ketika aku kedatangan seseorang yang tidak dikenal dan agak menjengkelkan.


"Yo, jadi kamu kekasih Davin yang disebut-sebut oleh orang-orang itu?" Dia adalah seorang laki-laki bertubuh mungil, berdiri dengan setelan rapi nan berkelas dan kini sedang menatapku angkuh.


Aku sama sekali tidak terintimidasi dengan tatapan angkuhnya karena menurutku dia seperti anak kecil yang kekurangan perhatian.


"Ya, apa kamu memiliki masalah?" Tanyaku masih dengan nada yang sopan.


Sekalipun dia bersikap seperti ini tapi aku harus cukup berhati-hati karena mungkin saja laki-laki ini adalah anggota keluarga Davin. Meskipun tidak memiliki kemiripan tapi aku harus cukup berhati-hati.


"Masalah? Sejujurnya aku tidak memiliki masalah kepadamu, malah seharusnya kamulah yang akan memiliki masalah malam ini?" Dia bahkan tidak repot-repot duduk berbicara denganku.


Sikapnya benar-benar menggelikan, aku mulai ragu dia adalah anggota keluarga Davin. Eh, tapi Revan saja bisa bertindak kejam apalagi laki-laki ini jadi aku tidak boleh mengendorkan penjagaan ku.


"Apa kamu yakin?" Tanyaku tidak langsung terpancing dengan provokasinya."Bukankah kamu seharusnya tahu bila selama ada Davin masalah tidak akan memiliki keberanian mendekati kami." Ini murni hanya omong kosong belaka ku saja untuk menggertak laki-laki ini.


"Humph," Dia mendengus tidak senang,"Aku tahu tapi sayang sekali masalah ini hanya bisa menjadi milikmu malam ini. Kau tahu, tunangan Davin juga akan menghadiri pesta perjamuan malam ini. Aku dengar dari orang-orang jika kedatangannya ke pesta ini untuk bertemu langsung dengan Davin. Tidakkah kamu seharusnya takut karena akan bertemu langsung dengan calon istri Davin?"