
Dengan menggenggam lembut tangan istrinya, Davin membawa langkahnya menapaki pasir putih yang sejuk dan lembut di telapak kakinya. Sepanjang jalan berjalan, tidak satupun di antara mereka berdua yang berbicara karena mereka sangat menikmati momen penting dan langka di dalam hidup mereka.
Ada waktu dimana mereka akhirnya bisa menikmati waktu berduaan tanpa kehadiran anak-anak ataupun orang luar. Waktu dimana mereka lebih suka melewatinya dengan diam membisu tanpa suara namun hati terasa manis, manis sampai sangat sulit digambarkan dengan kata-kata.
"Aow," Rein tidak melihat jalan dengan benar sehingga langkahnya tersandung batu karang.
Kaki kanannya memang tidak berdarah tapi sakitnya cukup menggigit.
"Apa kamu tidak apa-apa?" Davin langsung berbalik begitu mendengar ringisan istrinya.
Rein menyentuh kaki kanannya yang sakit bermaksud memeriksa apakah jari kakinya terluka atau tidak. Tapi tangan besar Davin lebih dulu mengambil kakinya. Davin duduk berjongkok di atas pasir sembari melihat jari-jari kaki istrinya yang ramping. Untungnya jari-jari kaki Rein tidak terluka dan hanya memerah saja karena cidera kecil.
"Duduklah di sini." Kata Davin tidak mau berjalan-jalan lagi.
Davin menarik tangan Rein mendekati sebuah batu besar di pinggir pantai dan mendudukkannya di sana. Sementara Rein duduk di atas batu, Davin malah duduk bersila di atas pasir dengan kaki kanan Rein di atas pahanya. Kemudian tangan besar Davin mulai memijat jari-jari dan telapak kaki Rein yang mengalami cidera kecil.
Gerakan tangannya sangat lembut dan berhati-hati.
"Dav, hentikan. Kakiku baik-baik saja dan sakitnya juga sudah hilang." Larang Rein sambil menarik kakinya menyingkir.
Namun Davin tidak mau melepaskannya dan masih kukuh memijat kakinya.
Cidera Rein memang kecil dan tidak akan bertahan lama. Paling-paling 20 atau 30 menit kemudian perihnya akan hilang. Maka dari itu Rein tidak mau mempermasalahkannya.
Bagaimana mungkin Rein tidak tahu apa yang suaminya pikirkan?
Mereka sudah menikah dan bukan hal yang aneh membicarakan masalah ranjang bersama. Apalagi disaat mereka hanya tinggal berdua saja. Tapi... Rein masih canggung dan malu membicarakannya secara gamblang. Itu bukan karena Rein sok polos tapi mungkin karena dia...sudah lama tidak melakukannya bersama Davin.
Sudah bertahun-tahun sejak mereka berpisah dan baru kembali bersama dua tahun yang lalu. Tinggal satu rumah bukan berarti Rein bermurah hati mengizinkan Davin menyentuhnya. Ditambah saat Davin mengalami kecelakaan tahun lalu, mereka berdua sungguh tidak pernah melakukan hubungan intim.
"Jangan berbicara yang aneh-aneh. Kita sekarang ada di luar rumah." Peringat Rein tersipu.
Wajah cantiknya merona terang dibawah tatapan mata telanjang Davin, terlihat sangat menawan namun pada saat yang sama juga manis.
"Tidak ada siapa-siapa di sini jadi kenapa kamu harus malu? Seolah-olah kita tidak pernah melakukannya saja-"
"Davin!" Potong Rein panik sambil melihat ke kiri dan ke kanan takut ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.
Karena pernikahan diadakan di pulau pribadi Davin, maka para tamu akan menginap selama 1 atau 2 malam agar mereka tidak capek bolak-balik dalam waktu sehari.
"Kalau ada tamu yang gak sengaja dengar, gimana?"
Davin cemberut,"Aku sudah meminta anak buah ku untuk mengosongkan tempat ini terlebih dahulu agar para tamu tidak berjalan ke sini. Selain itu, ini adalah pulau kita jadi tidak masalah mereka mendengarkan percakapan kita atau tidak karena faktanya kita berdua sudah resmi menjadi suami istri." Ujar Davin dengan nada malasnya yang khas.