My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
143. Wanita Yang Menyedihkan



"Tuan Davin! Tuan Davin tolong lihat ke kamera!" Teriakan dari kameraman langsung menarik ku dari perasaan euforia yang telah membuatku terbuai.


Aku segera menegakkan tubuhku ingin menjaga jarak dari Davin, tapi kekasihku ini sangat keras kepala. Tidak hanya tidak mau melepaskan ku, tapi dia malah menarikku untuk semakin dekat dengannya dan tanpa mengatakan apa-apa dia memutar kepala ku 90 derajat menghadap ke arah ratusan kamera yang mengeluarkan suara nyaring dengan kilatan terang menyertainya.


Untuk sejenak wajahku menjadi kaku tidak bisa membentuk sedikit garis senyuman. Aku merasa jika kedua kakiku melayang karena perasaan gugup yang lagi-lagi melanda, sampai akhirnya aku mendengar suara husky kekasihku yang menenangkan.


"Aku mencintaimu, Rein." Bisiknya lembut tepat dihadapan telingaku. Setelah itu kurasakan sebuah sentuhan hangat di pipi kiri ku. Itu adalah sebuah ciuman singkat tapi aku bisa merasakan betapa tulus perasaan Davin.


Aku perlahan tenang kembali. Tersenyum tidak berdaya, aku balas berbisik,"Berperilaku lah, semua orang sekarang sedang memperhatikan kita." Peringat ku kepadanya yang direspon dengan kekehan kecil.


Karena aksi Davin tadi orang-orang menjadi semakin bersemangat untuk mengambil foto kami. Kilatan cahaya kamera bersinar tiada henti dan terlihat sangat panik seolah-olah mereka akan segera kehilangan kami bila tidak mengambil sekejap saja.


"Baiklah, ayo masuk." Davin lalu membawaku masuk ke dalam rumah utama Dirgantara yang sangat besar dan memiliki gaya Eropa yang elegan.


Membuatku bertanya-tanya apakah semua orang kaya akan memiliki rumah sebesar dan semewah ini?


Ini terlalu besar dan luas untuk ditempati oleh sebuah keluarga kecil, bukan?


"Dav, apa semua orang kaya memiliki rumah sebesar ini?" Bisik ku sambil mengabaikan tatapan ingin tahu para tamu undangan.


Semenjak masuk ke dalam, aku dan Davin langsung menjadi pusat perhatian. Beberapa kali akan ada orang yang akan menghampiri kami untuk berbasa-basi tapi sayang sekali, Davin bukanlah orang yang suka berbasa-basi dan dua juga adalah laki-laki yang sangat bangga terhadap dirinya sendiri. Dia merasa orang-orang ini tidak memiliki kepentingan untuknya sehingga dia menolak tawaran demi tawaran dengan hanya lambaian tangan yang cukup menjengkelkan untukku!


Ketika bersamaku dia akan menjadi laki-laki manis bermulut gula, tapi jika dia bertemu dengan orang lain apalagi orang asing dia akan menjadi laki-laki pahit berlidah tajam!


Betapa buruk prilakunya!


"Tidak semua, sayang. Mereka yang memiliki rumah sebesar ini adalah keluarga kaya yang terlahir kaya dari generasi ke generasi. Sama seperti keluargaku, kami juga memiliki rumah sebesar ini tapi itu adalah rumah dari generasi ke generasi sehingga tidak bisa dijual tapi tetap mendapatkan perubahan setiap pemimpin generasi berganti. Itulah gunanya hak waris, mereka tidak hanya menguasai kekayaan tapi mereka juga akan memimpin keluarga dan mendirikan sebuah aturan yang tidak boleh dilanggar!"


"Aku senang tidak berasal dari keluarga kaya seperti kalian." Karena uang dan kekuasaan membutakan mata hati mereka, bukankah itu sangat mengerikan?


Davin tertawa kecil mendengar kata-kata ku yang sebenarnya tidak lucu. Tapi begitulah Davin, dia sangat aneh bila menyangkut tentangku.


Acara belum dimulai tapi orang-orang sudah berkumpul membuat obrolan bisnis dan Davin adalah salah satu sasaran. Sekalipun Davin tidak mau, tapi dia tidak bisa mengelak para tetua veteran bisnis yang telah lama mengabdikan hidup mereka dalam hitam dan putih dunia bisnis.


Dia dengan enggan mengobrol beberapa patah kata sebelum dipanggil oleh kerabat bisnis yang lain. Sedangkan aku sibuk menemaninya dan dengan patuh berdiri di samping tanpa niat mendengarkan ataupun masuk ke dalam obrolan.


Membosankan rasanya. Tidak tertarik dengan pembicaraan mereka, aku iseng mengedarkan pandangan ku disekitar tempat pesta jamuan dan tidak sengaja melihat seorang wanita kurus berambut pendek berdiri di tempat yang tidak terlalu mencolok.


Wanita itu memiliki gaya rambut pendek yang agak sama sepertiku dengan dress putih selutut. Dia berdiri sendirian, terlihat cukup menyedihkan. Kedua matanya yang memiliki sinar sendu ku perhatikan beberapa kali mengintip ke arah sekumpulan orang.


Penasaran, aku lalu membawa tatapanku untuk melihatnya siapa orang yang telah menarik perhatian wanita menyedihkan itu.


Eh, bukankah itu adalah Tuan Deon dan tunangannya Almira?


Mereka dikelilingi oleh banyak tamu undangan yang tidak terus menerus berbicara. Selain karena latarbelakang keluarga, aku pikir pasangan ini sangat mencolok karena mereka tampan dan cantik, pasangan yang sangat serasi!


Tapi... mengapa wanita itu hanya mengintip dari jauh saja?


Dia terlihat sangat menyedihkan dan membuat hatiku tanpa sadar merasa sesak menahan sakit. Aku seolah-olah melihat bila situasi wanita itu sama dengan situasi ku 5 tahun yang lalu saat melihat Davin berselingkuh.


Tidak berdaya dan hanya bisa melihat dari jauh, siapa sebenarnya wanita menyedihkan itu?