
Davin tidak berdaya,"Rein, kamu benar-benar membuatku ketakutan." Keluh Davin masih belum bisa menghilangkan perasaan paranoid nya.
Rein tersenyum malu. Dia meremat tangannya malu tak memiliki keberanian untuk menatap bola mata gelap suaminya yang menyihir. Diam-diam mengintip, semua keraguan Rein akhirnya menguap tatkala melihat tatapan panik suaminya yang diselubungi oleh kelelahan di wajahnya. Rein pikir suaminya pasti sangat kelelahan bekerja di kantor.
Padahal dia tidak bermaksud menyiksa suaminya dan meminta Adit untuk menahannya di kantor saja selama beberapa jam. Tapi siapa yang mengira bila Davin akan merasakan kesulitan di kantor sampai-sampai dia tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.
"Mas, bulan ini gaji Adit diturunin, yah?" Dendam Rein menyalahkan semuanya kepada Adit.
Davin tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya, bagaimana tiba-tiba Adit diturunkan gajinya? Padahal setiap bulan istrinya pasti mengingatkan untuk memberikan Adit beberapa bonus untuk setiap kerja kerasnya.
"Nah, kok diturunkan sayang? Enggak biasanya lho kamu nurunin gaji orang-orang kita." Davin mau tidak mau menanyakan kebingungannya.
Rein kehilangan garis senyuman di bibir ranumnya yang merah,"Kamu enggak mau, yah?" Nadanya lembut tapi sarat akan ancaman di dalamnya.
Davin memiliki mata yang tajam dan segera menganggukkan kepalanya untuk menyenangkan hati sang istri. Jika tidak, kesejahteraan hidup rumah tangganya akan terancam.
"Okay, aku akan menurunkan gajinya bulan ini, kamu tidak perlu khawatir lagi." Kata Davin merubah sikap.
Rein senang dan puas dengan keputusan suaminya. Dia mengambil beberapa langkah ke depan, merentangkan tangannya untuk menjangkau leher Davin dan memeluknya erat. Rasanya sangat hangat apalagi saat Davin membalas pelukannya dengan erat pula. Di dalam pelukan suaminya, Rein tersenyum lebar, hidungnya yang baru-baru ini sangat sensitif terhadap bau-bau kini bergerak mengendus-endus dada bidang sang suami, semakin naik ke atas hingga hidung Rein akhirnya menyentuh batang leher suaminya. Davin berkeringat banyak saat datang ke sini, masih segar dan memiliki wangi yang khas, tidak berbau tidak sedap dan tidak lengket. Intinya wangi keringat suaminya membuat Rein merasa sangat nyaman dan mulai mengantuk. Namun, untungnya dia bisa menahan diri untuk melaksanakan tugasnya malam ini.
"Dav, malam ini jam 11, tanggal 11 dan bulan 11, happy anniversary hubungan kita yang ke-11 tahun dan selamat ulang tahun untuk pernikahan kita yang telah memasuki tahun ke-2. Aku sangat bahagia selama ini selalu berada di sisimu." Bisik Rein dengan suara yang sangat lembut dan terdengar manis di dalam pendengaran Davin.
Davin tertegun, memori kepalanya mulai dibanjiri setiap keanehan istrimu hari ini yang tidak biasa, sedetik kemudian sudut mulutnya membentuk sebuah senyuman lebar kelegaan. Ya Tuhan, dia akhirnya memahami apa yang sebenarnya terjadi dan dia juga tidak bisa menampik betapa hangat perasaan yang dia rasakan saat ini. Hatinya dipenuhi oleh hujan bunga yang langka.
Mendekap erat tubuh ramping istrinya, "Terima kasih, Rein. Aku juga akan mengucapkan kepadamu, happy anniversary hubungan kita yang ke-11 tahun dan selamat ulang tahun untuk pernikahan kita yang telah memasuki usia 2 tahun. Tidak hanya kamu saja yang bahagia, tapi aku juga sangat bahagia. Rasanya setiap detik yang ku lewati bersama kamu sangat penting untuk ku dan hidupku. Rein, maaf aku melupakan hari penting kita tahun ini." Bisik Davin dengan perasaan haru yang bergejolak di dalam hatinya.
Davin tersentuh di dalam lubuk hatinya, tapi jujur, dia juga tidak bisa menampik bahwa dia juga merasa menyesal karena telah melupakan hari ini. Padahal tanggal 11 di bulan 11 adalah waktu dimana dia menembak Rein beberapa tahun yang lalu dan waktu dimana dia menjadikan Rein sebagai istri sahnya di pulau pribadi. Hari ini sangat penting dan tidak seharusnya Davin melupakannya.
"Dav, inilah yang aku harapkan hari ini. Jika kamu juga mengingatnya, maka kejutan ku tidak akan berhasil." Kata Rein memposisikan kepalanya senyaman mungkin di atas dada bidang suaminya.
"Yah, tapi aku pikir harusnya hari seindah ini akan tertanam di dalam kepalaku agar aku bisa menyiapkan kejutan untukmu." Kata Davin lelah, menyandarkan kepalanya untuk bertumpu di atas puncak kepala istrinya.
"Tidak tahun ini Davin karena aku sudah lebih dulu menandainya. Adapun di masa depan, aku selalu siap menerima kejutan apapun darimu." Kata Rein tidak terlalu mempermasalahkannya.
Davin tersenyum,"Yah, kamu harus bersiap untuk hari itu."
"Ngomong-ngomong soal kejutan, aku punya hadiah untuk kamu. Tapi sebelum mendapatkannya, aku ingin kita makan malam bersama dahulu." Kata Rein seraya melepaskan pelukan mereka.
Dia menarik tangan suaminya ke meja makan yang telah dihiasi berbagai macam bunga dan lilin merah yang indah. Tapi langkah suaminya tertahan di tempat.
"Aku harus mandi dulu karena tubuhku bau keringat." Kata Davin sadar diri.
Tapi Rein menyukai bau keringatnya jadi bagaimana mungkin dia membiarkan Davin pergi mandi dan menghilangkan bau keringatnya?
Tidak mungkin. Rein tidak akan rela itu terjadi.
"Tidak, boleh. Kamu tidak boleh kemana-mana." Kata Rein kukuh sambil menarik Davin kembali.
Kali ini Davin menurut, dia mengikutinya tapi tidak duduk di kursi yang telah istrinya siapkan karena dia masih ingin pergi mandi.
"Sayang, aku mandi dulu, yah. Badan aku keringetan banget."
Rein menatap tajam suaminya tidak setuju,"Mas duduk dan makan dulu. Setelah itu aku akan memberikan keputusan ku selanjutnya." Kata Rein masih belum merubah sikap.
Mulut Davin berkedut ingin mengatakan sesuatu, dan dia baru saja membuka mulut tanpa suara sudah lebih dulu diingatkan oleh Rein.
"Kalau Mas Davin mandi malam ini tidur di luar." Peringat Rein serius.
Davin segera menutup mulutnya dan dengan patuh duduk di kursi yang telah istrinya siapkan. Setelah itu makan malam berjalan dengan harmonis dan manis. Davin selalu menjadi orang pertama yang mengambil inisiatif bertindak intim dengan istrinya. Dia meraih tangan Rein, menggenggamnya lembut sambil sesekali saling menyuapi dengan beberapa obrolan ringan.
"Sudah 11 tahun berlalu. Aku tidak menyangka bila hubungan kita sudah sampai sejauh ini." Ucap Davin dengan nada nostalgia.