
"Apa-apaan!" Ia ingin bangun tapi lengan kuat Davin tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan, merengkuhnya hangat seperti tahun-tahun indah itu.
"Rein, apa kamu membenciku?"
Diam, Rein langsung diam membisu ketika mendengar pertanyaan 'aneh' ini keluar dari mulut Davin, dari mulut laki-laki tidak berperasaan yang pernah menghancurkan hatinya.
"Apa kamu... membenciku, sayang?" Tanya Davin lagi dengan kedua obsidian dingin terpaku menatap puncak kepala Rein.
Ia mengelus puncak kepala Rein dengan pipinya, merasakan helaian lembut nan wangi yang telah bertahun-tahun ia rindukan namun hanya bisa ia rasakan lewat mimpi yang tidak berkesudahan.
"Sayang?" Davin mabuk dan Rein yakin jika Davin tidak menyadari apa yang sedang ia katakan saat ini.
Membawa Rein tidur di ranjang yang sama dan memeluknya seerat mungkin seperti tahun-tahun hangat mereka.
"Davin," Rein memejamkan matanya menahan sesak dan kerinduan.
"Aku sungguh sangat membenci kamu." Kata Rein meluapkan kekesalan hatinya.
"Kamu adalah orang pertama yang membuat ku sebenci dan semarah ini." Sambung Rein membuat Davin semakin mengeratkan pelukannya kepada Rein.
"Maafkan aku.. maafkan aku, sayang. Aku salah...aku salah tapi tolong jangan tinggalkan aku, hiks...tolong jangan biarkan aku kesepian di rumah itu lagi... rasanya sangat menakutkan tidur di sana tanpa melihat dirimu." Davin memohon dengan suara isakan kecil.
Ia seperti anak kecil yang teraniaya, tidak bisa tidur bila tidak bersama orangtuanya.
"Davin," Rein tidak bisa berkata-kata.
Jujur, ia sangat terkejut mendengar pengakuan Davin namun hatinya menolak untuk percaya meskipun ia sangat mengetahui dengan benar bila orang mabuk cenderung lebih jujur dan dapat dipercaya.
"Aku... tidak akan pernah memaafkan mu sekalipun kamu menangis seperti ini karena... rasa sakit yang kamu berikan terlalu sakit. Aku akan sangat tidak adil kepada Tio dan diriku sendiri bila aku memaafkan mu."
Meskipun ia masih mencintai Davin, meskipun rasa itu masih sama sekalipun telah melewati tahun-tahun yang menyakitkan, dan meskipun laki-laki yang masih menduduki tahta tertinggi di dalam hatinya adalah Davin, dia masih enggan melepaskan semua pengalaman pahitnya.
Dia membenci Davin, benar, namun perasaan lembut dihatinya tidak bisa dibohongi. Ia masih terjebak di dalam masa lalu sehingga hatinya sulit untuk memberikan maaf kepada Davin.
Rasanya sungguh tidak adil untuk Tio maupun untuk dirinya sendiri.
"Sayang... jangan pergi.." Mohon Davin dengan suara yang semakin mengecil dan sunyi.
"Dasar pemabuk!" Ucap Rein jengkel menahan sendu seraya melepaskan diri dari Davin yang telah memasuki alam mimpi.
Berdiri, ia menatap Davin murka sebelum berbalik keluar dari kamar Davin dengan langkah besar. Meninggalkan Davin di dalam kamar dengan kesunyian yang telah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi kali ini sedikit berbeda karena ada sinar hangat yang kembali pulang menerangi rumahnya, bersinar samar seperti tahun-tahun itu.
"Aku tahu ini tidak adil untukmu dan Tio, aku tahu sayang..." Ucap Davin tiba-tiba setelah membuka matanya.
Dia memang mabuk tapi tidak benar-benar mabuk. Dia masih bisa mempertahankan kesadarannya dan juga masih bisa mengingat dengan baik apa yang Rein katakan tadi.
Untuk tahun-tahun menyakitkan yang Rein lewati karena dirinya, ia akan membayar semua itu sekalipun harus mengemis permohonan maaf Rein.
Sejak tahun ia membuat keputusan ia sudah tahu jika hari ini akan terjadi, ia harus kembali berjuang untuk membangun kepercayaan Rein lagi kepadanya dan mau memaafkannya kembali untuk memulai hubungan mereka dari awal.
"Dan aku juga tahu bahwa kesan pertama mu bertemu denganku setelah tahun-tahun itu pasti sangat menyakitkan, aku sungguh minta maaf untuk itu..." Desahnya kembali mengenang hari tidak terduga ketika ia pertama kali bertemu dengan Rein setelah sekian lama berpisah.
Rasanya sangat membahagiakan, seolah-olah semua penantiannya berakhir. Tapi hal yang paling tidak terduga adalah dia tidak bisa mengontrol ucapan tajamnya ketika berbicara dengan Rein, dan ini semakin memburuk ketika dia tahu Rein telah tinggal bersama Dimas selama mereka berpisah.
Davin marah dan ia sangat cemburu. Kepalanya tidak pernah berhenti berpikir bahwa apakah mereka berdua pernah memadu kasih?
Atau menjalin sebuah hubungan?
Davin bertanya-tanya dan dia hampir gila setiap kaliĀ memikirkan.
"Tapi aku berjanji Rein," Katanya seraya mengambil sesuatu dari dalam laci.
Mengambil foto manis Rein yang sedang tertawa bahagia di dalam pelukannya- saat tahun itu.
"Aku akan memperlakukan mu dengan sangat baik mulai sekarang, menghidupkan kembali hari-hari penuh kehangatan kita bersama Tio, putra kita." Jari-jarinya mengusap wajah lembut Rein, ia rindu melihat Rein bisa tertawa selepas ini.
Melihat senyum sumringah di bibir merahnya, tatapan lembut dari kedua mata persik nya, dan perasaan tulus yang tidak akan pernah ia dapatkan dari wanita manapun,
Davin sangat merindukannya.
"Aku berjanji," Bisiknya bertekad.
"Karena itulah aku kembali menemui mu agar ketidakadilan yang kamu rasakan ini bisa aku hapuskan, Rein."