
Sampai dengan sore ini Mbak Anggi masih enggan membuka mulutnya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Ketika ku tanya soal suami dan anak-anaknya, Mbak Anggi akan membalas ku dengan sebuah isakan menyedihkan. Yang mengkhawatirkan dia tidak hanya tidak menangis tapi juga memukul-mukul dadanya. Aku sangat marah melihatnya menyakiti diri sendiri, berulangkali aku memperingatkannya agar jangan memukul tapi dia tidak mau mendengar.
Untungnya pada saat itu terjadi Adit masuk ke dalam kamar dan menegur Mbak Anggi agar jangan membuat keributan. Mbak Anggi anehnya menurut dan berusaha untuk tidak menangis di depan kami.
Aku bertanya-tanya, mungkinkah ini adalah efek dari wajah datar Adit atau mungkin ada sesuatu yang telah terjadi tanpa mereka tanpa sepengetahuan ku?
Tidak, aku tidak akan memilih asumsi yang kedua karena Adit adalah tipe laki-laki yang dingin dan kaku, dia masih belum mengerti soal percintaan hehe..
Aku lebih yakin jika Mbak Anggi patuh karena tidak tahan melihat wajah beku Adit!
Ck.. Adit... Adit, mau sampai kapan kamu begini terus?
Usia kamu sudah 26 tahun tapi masih betah jomblo dan belum memikirkan rumah tangga, hah...tapi tidak apa-apa, jika kamu kesepian ada Tio dan Aska yang membutuhkan waktu luang mu. Mereka siap kamu layani kapan pun kamu bisa hehe..
"Rein, bos memanggil mu di luar." Adit sekarang mulai terbiasa memanggil ku dengan santai setelah ku ingatkan berkali-kali.
Aku lebih suka dia memanggil namaku tanpa embel-embel Nyonya, ugh...aku merasa sangat kuno.
"Kenapa dia memanggilku?" Aku masih ingin berbicara dengan Mbak Anggi.
Dasarnya aku yang terlalu penasaran dengan kehidupan Mbak Anggi apalagi setelah melihat kelakuan rubah tua itu kepada Mbak Anggi. Hem, aku sangat penasaran bagaimana Mbak Anggi bisa berakhir dengan rubah tua itu?
Tidakkah mereka dulu adalah rekan kerja sebelumnya?
"Bos bilang kamu harus bersiap-siap pergi ke pesta perjamuan keluarga Dirgantara." Jawab Adit dengan wajah datarnya yang menggelikan.
Aku bertanya-tanya bagaimana wajah Adit saat membuat lelucon, tidakkah itu sangat menarik?
"Harus sekarang? Perjamuannya kan nanti malam." Kataku sambil melirik jam weker di atas nakas.
Sebentar lagi pukul 6 tapi tetap saja ini terlalu pagi hanya sekedar untuk bersiap-siap. Padahal aku tidak membutuhkan banyak waktu untuk bersiap-siap, pakai baju dan bedak tipis sudah sangat cukup. Lagipula ini bukanlah pertemuan formal'kan?
"Bos bilang sekarang dan jika kamu keberatan maka langsung saja temui dia di ruang tamu karena percuma bicara denganku, di sini aku hanyalah pengirim pesan dan tidak memiliki hak bersuara untuk memerintahkan kamu."
Hem, apa aku salah dengar?
Kenapa Adit terdengar agak jengkel?
Apakah dia marah kepada ku?
"Kamu bilang tidak memiliki hak untuk memerintah ku tapi buktinya tadi kamu memerintah ku untuk keluar menemui Davin." Tanyaku ingin menjahilinya.
Mulut Adit bergerak tidak nyaman, dia terlihat sangat lucu. Hem, entah mengapa aku merasa jika Adit mirip seperti anak kecil yang terzolimi?
"Sayang, keluarlah. Jangan mempersulit Adit lagi." Entah sejak kapan Davin sudah berdiri sambil bersedekap dada di ambang pintu masuk kamar ini.
Dia menatapku dengan wajah tampannya yang sangat mempesona! Apalagi jika dia sedang tersenyum lebar seperti sekarang, jantungku pasti akan berpacu cepat dan menjadi gugup pada saat yang bersamaan.
"Kamu sangat mengganggu, Dav!" Kataku berpura-pura terganggu.
Dia mengangkat bahu lebarnya tidak perduli dengan seringai lebar di wajah tampannya.
"Hemph!" Aku memalingkan wajahku tidak tahan, lalu berbicara dengan Mbak Anggi yang sekarang sudah berhenti menangis dan sedang memperhatikan ku.
Aku sangat malu!
"Mbak Anggi teriak aja yah kalau di apa-apain sama Adit." Pesanku sebelum melarikan diri dari tatapan horor Adit.
Hehehe.. mereka berdua sangat lucu!
Jika saja Mbak Anggi belum menikah dan memiliki anak, maka aku pikir Adit akan sangat cocok untuknya.
"Ayo pergi." Kataku mengajak Davin pergi.
Davin menarik pinggangku sehingga kami berdua bisa berjalan beriringan tanpa jarak. Bersandar nyaman di dadanya, aku bisa menghirup wangi khas Davin yang sangat menenangkan.
"Jangan menjahilinya lagi. Dia semalam tidak pernah tidur semalaman hanya untuk mengurus sahabatmu." Davin mencubit puncak hidung ku tanpa menggunakan kekuatan yang berlebihan.
"Benarkah?" Aku menatap Davin tidak percaya.
Davin mengangguk serius,"Dia mengurus sahabatmu semalaman karena sahabatmu sangat sering terbangun di tengah malam hanya untuk menangis."
Reaksi Mbak Anggi sangat kuat, jika tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya maka dia tidak mungkin akan bereaksi seperti yang Davin katakan.
"Aku pikir dia membutuhkan perawatan dokter." Kuharap Davin tidak keberatan mengirim Mbak Anggi ke rumah sakit.
"Jangan khawatir sayang, Adit adalah orang yang multifungsi dan dia sudah lebih dari cukup untuk mengurus sahabatmu." Kekasihku sangat santai ketika mengatakan ini.
Ck, aku berduka untuk Adit. Selain menjadi pengasuh Tio dan Aska, tapi sekarang dia mulai merambat menjadi pengasuh Mbak Anggi yang sedang tidak stabil keadaannya.
"Lipat gandakan gaji dan bonusnya nanti." Kataku serius.
Ini karena Adit sangat berperan penting mengurus anak-anak dan menjaga Mbak Anggi.
Davin tidak pernah mengecewakan bila berbicara tentang uang.
"Percaya atau tidak, gajinya setiap bulan selalu aku lipat gandakan. Dengan gaji itu, dia bisa membeli vila di kawasan ini."
Oh wow, Adit ternyata memiliki banyak uang, ah!
"Jangan pikirkan tentang mereka lagi. Sekarang coba semua gaun ini dan pilih mana yang terbaik untukmu." Davin merubah topik dengan cepat.
Sekarang kami sudah ada di dalam ruang tamu tanpa kusadari. Begitu aku membawa pandangan ku arah yang ditunjuk oleh Davin, kedua mataku langsung membola kaget melihat deretan gaun mahal yang terpajang rapi di depanku.
Dari kain dan desainnya aku langsung tahu jika semua gaun-gaun ini sangat mahal. Davin pasti mengambilnya dari desainernya langsung mengingat siapa Davin sekarang dan betapa kayanya dia sekarang.
"Kamu gila?" Kataku berseru kaget.
Kedua tanganku bahkan gemetaran tidak berani menyentuh gaun-gaun cantik ini. Ya Tuhan, aku sangat suka melihat gaun-gaun seperti ini dan sudah lama memimpikannya. Tapi ..tapi aku tidak memiliki pengalaman menggunakan gaun mahal dan cantik seperti ini.
"Untuk kamu, apapun akan aku lakukan." Dia berbicara dengan nada arogansinya yang sudah lama tidak aku dengar.
Aku langsung menguji kesetiaannya,"Apapun yang ku mau?"
Dia mengangguk santai,"Apapun yang kamu mau."
Aku gatal ingin menjahilinya,"Membelikan ku rumah di pusat kota A?"
Dia tanpa ragu menjawab,"Tidak masalah."
"Mobil Ferarri?" Aku sama sekali tidak tertarik.
Lagi-lagi dia menjawab tanpa ragu,"Tidak masalah."
Tersenyum lebar,"Putus denganku?"
Dia dengan angkuhnya menjawab,"Tidak masala- jangan pernah bermimpi!" Teriaknya sambil menatapku tajam.
Aku tertawa kecil, melambaikan tanganku untuk meminta maaf.
"Baik, aku tidak akan pernah bermimpi!"