My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
161



"Mommy terlihat sangat cantik!" Ucap Aska kagum dengan suara kekanak-kanakannya.


Rein tersenyum. Dia mengusap puncak kepala Aska sambil mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, sayang. Malam ini Aska juga sangat tampan!"


Tio juga tidak ingin ketinggalan.


"Mommy... Mommy... Tio juga tampan, kan, Mommy?" Desak Tio ingin dipuji seperti Kakaknya.


Rein tertawa kecil. Tangan rampingnya beralih mengusap puncak kepala Tio sayang.


"Tio dan Aska sangat tampan malam ini!"


Dengan celotehan dari anak-anaknya, suasana tegang dan gugup di dalam hatinya bisa sedikit diringankan. Bohong bila dia tidak merasa tegang. Tidak, sejujurnya dia sudah sangat gugup bertemu dengan keluarga Davin!


Selama duduk di dalam mobil tadi, otaknya sudah bekerja keras memikirkan bagaimana caranya bersikap nanti saat bertemu dengan keluarga Davin nanti. Apakah dia harus banyak bicara atau sebaliknya?


Rein sangat bingung sampai akhirnya dia melihat wajah tersenyum Davin yang tampan. Daripada bingung sendiri lebih baik dia mengikuti jejak Davin. Bersikap acuh tak acuh tapi pada saat yang bersamaan jangan angkuh!


Rein harus diam dan berbicara di waktu yang diperlukan!


"Aku tidak pernah melihat Davin dekat dengan wanita lain sebelumnya. Tapi lihat malam ini, dia datang dengan seorang wanita dan dua anak laki-laki. Jika yang satu adalah adiknya tapi bagaimana dengan anak yang ada di dalam gendongannya? Bukankah anak itu sangat mirip dengan Davin? Bila tebakan ku benar, anak yang ada di dalam gendongan Davin adalah putranya dan wanita itu... jangan-jangan istrinya?!"


Anya mengepalkan kedua tangannya menahan amarah dan sakit hati. Jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa telah dipermalukan oleh Davin! Dia datang ke sini untuk memperjuangkan posisinya sebagai calon istri tapi Davin malah membawa wanita itu datang ke rumah ini!


"Eh, apa benar? Soalnya aku enggak pernah dengar tentang pernikahan Davin selama ini kecuali berita tentang pertunangannya."


"Ini bisa saja benar. Mungkin Davin sudah menikah dengan wanita itu secara diam-diam karena sedari awal hubungan Davin dan Anya hanyalah sebatas perjodohan-"


"Hust! Hati-hati saat berbicara. Apa kamu tidak takut Anya mendengar mu?"


Tidak hanya Anya mendengarkan pembicaraan mereka, tapi dia juga mendengar pembicaraan tamu yang lain!


Dia marah tapi hanya bisa memendamnya karena tidak ingin memprovokasi kerabat jauh keluarga Demian.


Dia harus tetap slow profil jika ingin tetap bersama dengan Davin.


"Selain latar belakang dirinya, Kakek akui wanita itu cukup cantik dan menarik." Ucap Kakek semakin memperkeruh suasana hati Anya.


Anya memeluk lengan Kakek manja sambil mengeluh untuk menarik perhatiannya.


"Kakek, apakah Anya tidak pantas untuk Davin?"


Kakek menepuk ringan lengan cucunya sayang,"Semua orang tahu kamu adalah yang paling pantas untuk Davin."


Jawab Kakek segera memenangkan hati Anya. Anya tersenyum manis terlihat sangat manja di depan para tamu. Dia tidak tahu jika tindakannya ini telah membuat beberapa orang ingin tertawa karena Anya jelas-jelas sangat marah melihat Davin datang dengan wanita lain namun masih bersikeras menyamarkannya.


"Pergi, temui lah tunangan mu." Kata Kakek sambil membawa cucunya menyambut kedatangan Davin.


Di bawah pengawasan banyak mata, Kakek dan Anya menghampiri Davin yang datang bersama keluarga kecilnya.


"Davin." Panggil Kakek dengan senyuman lebar di wajahnya.


Davin dan Rein berhenti tapi tidak berniat mendekati mereka. Walaupun Kakek datang bersama Anya, wajah Davin sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Seolah-olah Anya dan Kakek adalah orang asing baginya. Sikap acuhnya ini tentu telah diperhatikan oleh banyak tamu. Tentu saja, dalam sekali lihat mereka bisa menyimpulkan jika Davin tidak pernah menaruh Anya di dalam matanya.


"Kakek, lama tidak bertemu." Sapa Davin dengan senyuman bisnis di wajahnya.


Terlihat sangat terasing.


Petunjuk ini, bagaimana mungkin Davin tidak bisa melihatnya?


Dia pasti sangat bodoh jika tidak bisa membacanya. Dan karena ini Davin menolak untuk mengikuti drama yang Kakek buat.


"Kakek sungguh tidak mengenalku dengan baik." Kata Davin tanpa merubah wajahnya.


Senyuman Kakek menegang. Orang-orang yang mendengarnya langsung mengerti apa yang Davin maksud. Sejak awal Davin dan keluarga Anya tidak pernah dekat sehingga mereka jarang bertukar sapa- mungkin lebih tepatnya tidak pernah mengingat sifat Davin yang keras kepala.


"Beberapa tahun ini waktuku memang banyak dihabiskan untuk perusahaan tapi di samping itu, aku juga memiliki keluarga kecil yang harus di bahagiakan. Aku harus mampu membagi waktuku untuk pekerjaan dan untuk keluarga kecil ku. Jadi, aku tidak punya cukup waktu untuk bertegur sapa dengan orang asing." Lanjut Davin membuat orang-orang tanpa sadar menahan nafas.


Davin sama sekali tidak memberikan wajah untuk Kakek Anya! Padahal Kakek Anya memiliki pertemanan yang dalam dengan Kakek Demian!


Ekspresi Kakek tidak bisa dianggap baik lagi. Dia telah dipermalukan dengan terang-terangan oleh Davin di depan banyak tamu undangan. Jadi, bagaimana mungkin Kakek masih bisa membentuk senyuman di wajahnya?!


"Davin, kamu-"


"Adit?" Panggil Davin tidak memberikan Kakek kesempatan untuk berbicara.


"Ya, tuan?" Adit langsung menjawab.


"Tolong bawa anak-anak untuk mencicipi beberapa makanan. Pastikan semuanya aman terlebih dahulu." Perintah Davin dengan nada malasnya yang arogan.


Adit segera menyanggupi. Bersama Anggi, dia membawa Aska dan Tio menjauh dari urusan orang dewasa. Lagipula anak-anak tidak tahu apa-apa dan masih polos, jadi tidak seharusnya mereka terpapar masalah orang dewasa.


Selepas Adit dan Anggi membawa anak-anak pergi, ekspresi Davin kini telah mengalami perubahan. Tidak ada lagi senyuman bisnis yang bisa dianggap 'ramah'. Melainkan hanya tatapan datar seolah-olah sedang berhadapan dengan orang asing yang memiliki sifat 'korosif' dan berbahaya.


"Davin, aku adalah Kakek mu-"


"Kenalkan, namanya Rein Xia, calon istriku." Potong Davin mengejutkan beberapa tamu yang kebetulan mendengarnya.


Calon istri?!


Mereka belum menikah tapi akan segera menikah!


Dan berita ini langsung dikonfirmasi oleh Davin langsung!


Jika Rein adalah calon istrinya maka siapa Anya bagi Davin?


Mereka semua terbakar keinginan untuk bergosip!


"Kakek, hallo, namaku Rein. Calon istri Davin." Salam lembut Rein segera menarik Kakek dari keterkejutannya.


"Siapa yang kamu anggap calon istri? Jelas-jelas calon istrimu adalah Anya, cucuku!" Kali Kakek tidak bisa menahan amarahnya.


Di hadapan banyak orang dia telah dipermalukan bersama cucunya, jadi bagaimana mungkin Kakek masih bersabar menghadapi Davin?


"Sayang, apakah Kakek ini salah paham? Jelas-jelas aku adalah calon istrimu tapi mengapa dia masih mengatakan cucunya adalah calon istrimu?" Bisik Rein namun masih bisa didengar oleh beberapa orang termasuk Kakek sendiri, jelas dia sedang berpura-pura.


Davin mengecup kening Rein sayang, membutakan matanya dari reaksi orang-orang dan menulikan telinganya dari keterkejutan orang-orang. Baginya, Rein adalah dunianya dimana pun dia berada.


"Dia tidak salah paham, sayang, tapi masih belum bangun dari mimpinya." Ejek Davin yang langsung disambut gelak tawa orang-orang.


Sementara Rein maupun Davin asik dengan dunia sendiri dan orang-orang masih tertawa, Anya yang sedari tadi diam tanpa membalas kata-kata ejekan Davin mengepalkan tangannya ingin membela diri. Namun, Kakek selalu meremas tangannya agar jangan lepas kendali di hadapan banyak orang untuk menjaga citranya sebagai tunangan dan calon istri Davin yang sah!


Tapi sungguh, rasanya sangat menyiksa. Dia tidak tahan melihat tawa menjijikkan Rein, melihatnya menempeli Davin selayaknya lintah darat yang memuakkan. Dia sungguh sangat marah dan cemburu!