My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
244. 16



Dua bulan kemudian di sebuah rumah sakit swasta pusat kota, ditengah hiruk pikuk tenaga medis dan keluarga pasien yang lalu lalang di koridor terang berdiri seorang laki-laki tinggi bertubuh tegap dengan ekspresi tegang di wajahnya. Laki-laki itu berdiri kaku di depan pintu ruang bersalin, terisolasi dari dunia yang ramai seolah-olah dia adalah satu-satunya orang yang berada di tempat ini. Keberadaannya yang menonjol ditengah-tengah hiruk pikuk berbagai macam emosi orang-orang sungguh tidak layak di tempat ini.


Berdiri bak model majalah fashionable di depan ruang bersalin, wajah tampan maupun bentuk tubuhnya yang proporsional bagaikan sebuah lukisan yang tidak pada tempatnya. Sikapnya yang acuh tak acuh terhadap keramaian di sekelilingnya ditambah dengan penampilannya yang luar biasa, tak jarang mengundang mata-mata penuh ingin tahu dari beberapa pasang mata perempuan yang kebetulan melewatinya.


Mereka mau tidak mau menatap dua kali ke arahnya, bertanya-tanya siapa gerangan laki-laki tampan nan tinggi itu.


Bahkan beberapa petugas medis perempuan entah disengaja atau tidak membesar-besarkan suara langkah mereka ketika melewatinya, ada pula yang sengaja membesar-besarkan suaranya ketika melewati laki-laki itu untuk menarik perhatian tapi hasilnya nihil. Laki-laki tampan itu masih bersikap acuh tak acuh terhadap sekelilingnya, tampak terisolasi dari keramaian.


"Tuan, bagaimana keadaan Nyonya besar?"


Adit mendapatkan kabar hari ini Rein melahirkan dan langsung berlari ke rumah sakit tanpa menunggu perintah dari Davin terlebih dahulu. Wajahnya berkeringat karena banyak berlari, meskipun lelah, ada cahaya penantian yang bersinar di dalam bola matanya.


"Kamu di sini." Davin meliriknya sekilas.


"Istriku baik-baik saja. Dokter bilang dia dan bayi kami sehat jadi seharusnya persalinannya hari ini bisa berjalan dengan normal." Sambungnya tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.


Dokter telah menekankan nya berkali-kali bila istrinya pasti bisa melalui persalinan ini namun Davin masih saja khawatir karena ini adalah pertama kalinya Rein melahirkan lewat jalur normal.


Ada ketakutan tersendiri di dalam hatinya saat memikirkan yang tidak-tidak mengenai istrinya di dalam.


"Dimana anak-anak?"


Adit segera menjawab dengan sigap.


"Anak-anak ada di rumah, Tuan. Mereka sangat senang mendengar kabar bila hari ini adik mereka akan segera lahir." Cerita Adit dengan senyuman cemerlang di wajahnya.


Davin lega mendengarnya,"Ku harap mereka bisa patuh di rumah."


"Tuan, mereka tadinya ingin ikut ke sini tapi Anggi membujuk mereka agar tinggal di rumah. Anggi membawa anak-anak ke kamar bayi dan meminta mereka membantunya untuk menghias kamar."


Tentang bagaimana anak-anak itu sangat menantikan adik mereka, Davin tahu betul itu. Awal-awal kehamilan Rein, kedua anak itu tidak terlalu antusias dan malah terkesan ogah-ogahan tapi seiring bertambahnya usia kandungan Rein, mereka tiba-tiba menjadi bersemangat dan tidak sabar untuk bertemu dengan adik mereka.


Dan ada beberapa waktu dimana mereka sering bertingkah konyol. Saat itu mereka berbicara dengan perut besar Rein, 'membujuk' sang adik agar segera keluar dan bermain dengan mereka berdua.


Rein sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah menggemaskan kedua anaknya.


"Bagus, aku lega mendengarnya."