
"Dan mengenai proyek di negara A, kamu tidak usah terlalu memikirkannya karena aku sudah punya rencana."
"Pak, selama bekerja dengan Anda, semua kepercayaan ku sudah menjadi milik Anda, bahkan sampai detik inipun aku masih mempercayai Anda." Adit berujar tulus dengan nada formal yang telah lama melekat di dalam lidahnya.
Davin tidak mengatakan apa-apa. Sama seperti Adit, dia juga tidak pernah meragukan sahabatnya ini. Masa-masa sulit telah ia habiskan bersama sahabatnya ini, menjadi penopang terkuat untuknya agar bisa berdiri lagi setiap kali langkahnya tersandung.
Adit, untuk Davin dia sudah seperti saudaranya sendiri.
Ting~
Pintu lift presiden terbuka. Orang pertama yang menyambut kedatangan mereka adalah Lisa, sekretaris pribadi Davin- hanya untuk keperluan perusahaan saja. Selebihnya Davin lebih mempercayai Adit untuk mengurus bagian-bagian penting entah itu mengenai privasi atau tidak.
"Selamat, siang....Pak?" Perhatian Lisa langsung tertuju pada Tio- anak laki-laki yang kini sedang memeluk erat leher Davin dengan cairan bening keluar dari dalam mulut mungilnya.
"Siang. Apa dia masih di dalam?" Tanya Davin tanpa melirik bagaimana ekspresi Lisa sekarang.
Lisa segera menarik perhatiannya dari Tio.
"Masih, Pak. Aku sudah mengawasinya sejak Anda pergi." Jawab Lisa cepat.
Davin mengangguk.
"Terimakasih, kamu bisa kembali bekerja sekarang." Dia lalu membawa langkah beratnya menuju pintu masuk tapi segera dihentikan oleh Lisa.
Sambil membawa tissue kering di tangannya, Lisa menggunakan kesempatan ini untuk mengintip Tio yang masih tertidur lelap di dalam pelukan Davin. Ia bertanya-tanya apa hubungan anak laki-laki ini dengan Davin?
"Pak, pundak Anda kotor."
Adit melirik pundak Davin. Entah sejak kapan, cairan bening itu keluar dari mulut Tio dan kini sedang menodai jas hitam Davin yang telah dibuat dengan hati-hati oleh seorang desainer ternama.
"Aku akan membersihkannya untuk Anda, Pak." Adit segera mengambil tissue kering yang ada di tangan Lisa tanpa perlu mempertimbangkan respon Lisa terlebih dahulu.
Lisa melirik Adit tidak puas. Padahal dia sedang mencari kesempatan agar bisa lebih dekat dengan bosnya.
"Tidak perlu." Davin menolak dan meneruskan langkahnya.
"Kau bisa kembali," Katanya kepada Adit sebelum masuk ke dalam kantornya.
"Baik, Pak."
Mereka berdua pergi meninggalkan Lisa di tempat yang masih belum menemukan jawaban siapa anak laki-laki yang tertidur di dalam pelukan Davin tadi.
"Kenapa aku merasa wajah anak itu agak mirip dengan Pak Davin?"
...🍃🍃🍃...
Rein resah. Dia telah selesai memasak namun Davin tidak kunjung kembali juga. Padahal ia harus segera menjemput putranya ke sekolah karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang. Dia sudah terlambat setengah jam.
"Kenapa Davin belum juga kembali?" Katanya sambil mondar-mandir di ruangan Davin.
"Sampai kapan aku harus-"
Cklack
Suara langkah berat Davin segera menarik perhatian Rein. Dia menoleh, buru-buru menghampiri Davin- tapi langkahnya tiba-tiba membeku di tempat ketika melihat Tio, putra yang telah membuatnya resah sedari tadi kini telah bersarang manis di dalam pelukan Davin.
Davin tersenyum miring,"Kejutan." Katanya dengan nada malas yang menyebalkan.
Rein sepenuhnya membeku. Mulutnya terbuka beberapa kali ingin mengatakan sesuatu tapi....tapi tidak ada satu katapun yang berhasil keluar dari mulutnya.
"Kamu..." Kata Rein dengan suara tertahan. Ada berbagai macam emosi yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.
Davin tersenyum miring. Mengusap puncak kepala Tio sayang, ia lalu berjalan ringan melewati Rein dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa.
"Bagaimana, bukankah kejutan ku menyenangkan?" Tanya Davin malas dengan obsidian dingin yang masih fokus memperhatikan reaksi kaku Rein.
"Apa yang kamu lakukan?" Kedua mata Rein mulai memerah.
Davin menjawab dengan nada membosankan,"Apa yang aku lakukan? Kamu jelas lebih tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini."
Rein memejamkan kedua matanya menahan marah. Kedua tangannya terkepal membentuk sebuah tinju.
"Davin-"
"Sstt..." Potong Davin cepat sebelum suara Rein meledak.
"Tio Demian sedang tidur, tolong kecilkan suaramu." Peringat Davin serius.
Rein segera merapatkan mulutnya tidak rela. Semua rasa marah, sakit hati, kesal, jengkel, dan sedih dengan sangat terpaksa ia telan kembali. Membendungnya di dalam hati yang sedang dalam masa pemulihan, kini kembali terluka.
"Kita harus bicara." Kata Rein pada akhirnya.
"Sure, aku ingin mengatakan itu." Kata Davin punya pikiran yang sama.
"Tanpa Tio," Kata Rein lagi.
Diam, Davin tidak langsung menerima permintaan Rein. Dia masih diam di tempat dengan sepasang mata almond nya yang tidak bisa lepas dari wajah cantik Rein. Wajahnya hari ini sangat merah dan bahkan kedua mata persik Rein mulai memerah dengan riak-riak tipis di dalamnya. Sudah jelas Rein saat ini sangat marah kepadanya.
"Aku akan membaringkan Tio di kamar." Ucap Davin mengalah.
"Tidak, tidak. Berikan Tio kepada Dimas saja-"
Mendengar kata Dimas keluar dari mulut Rein tiba-tiba membuat kemarahan Davin tersulut. Dia menatap Rein tajam tanpa ada kesan malas seperti biasanya.
"Aku tidak mengizinkan siapapun menyentuh anakku, kamu harus ingat ini mulai dari sekarang." Katanya dingin dengan nada tajam.