My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
64. Aku Tidak Lemah



Kedatangan Davin bersama seorang anak kecil bertubuh gembil telah menarik perhatian banyak karyawan. Mereka tidak bisa tidak bertanya-tanya anak siapakah laki-laki yang ada di dalam pelukan nyaman Davin tersebut, sekilas wajah kekanak-kanakan anak laki-laki itu tampak sangat mirip dengan wajah Davin, seolah-olah mereka berasal dari cetakan yang sama namun terjebak di usia yang berbeda.


Apakah anak laki-laki itu adalah anak Davin? Bila dilihat dari segi kemiripan, Davin dan anak laki-laki seperti berasal dari cetakan yang sama. Namun, jika benar bukankah itu sangat tidak mungkin karena Davin belum menikah, usianya terlalu muda untuk menjadi seorang Ayah. Terlebih lagi kekasihnya masih ada di luar negeri, tak pernah tersiar kabar sebelumnya jika tubuh model cantik nan seksi itu membesar karena sedang hamil atau melahirkan. Hal penting lainnya adalah bahwa model itu tidak pernah absen dari pekerjaannya. Dia selalu tampil cantik di depan kamera dan terlihat sempurna dengan bentuk tubuhnya yang tetap terjaga ramping.


Lalu, jika anak laki-laki itu bukan milik Davin, maka milik siapa anak laki-laki- oh, tidak! Bisakah mereka membuat kesimpulan jika anak ini Davin dapatkan dari wanita lain?


Bukankah tebakan ini bisa saja terjadi?


Tidak perduli apapun yang mereka pikirkan jawabannya tidak akan pernah mereka dapatkan sebelum Davin yang berbicara sendiri apa hubungannya dengan anak laki-laki menggemaskan tersebut.


"Siang, Pak." Para karyawan sejenak menghentikan langkah dan aktifitas mereka yang kebetulan sedang berpapasan dengan Davin.


Mereka menunduk sopan sebagai sapaan ramah bawahan kepada atasannya.


"Siang." Jawab Davin dalam suasana hati yang baik.


Hari ini hatinya berkali-kali jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.


Setelah menjawab sapaan singkat para karyawan, Davin lalu membawa Tio masuk ke dalam lift presiden. Tidak lupa juga ada Adit yang selalu mengikuti kemanapun arah Davin berjalan dengan ekspresi datar dan mulut diam membisu.


Barulah di dalam lift Adit menyuarakan kebingungannya.


Pasalnya semalam Davin mengatakan jika keberadaan Tio dan Rein harus disembunyikan dari para rubah-rubah tua itu. Jika begini, maka tidak hanya orang luar saja yang tahu mengenai mereka berdua namun para rubah-rubah tua itupun juga akan mengetahuinya.


Diingatkan tentang mereka, senyuman santai Davin dalam waktu singkat menghilang digantikan dengan senyuman sinis. Dia memeluk sayang Tio yang kini sedang tertidur lelap di dalam pelukannya karena terlalu banyak makan. Wajah gembil Tio yang menggemaskan selalu mengingatkan Davin pada wajah cantik Rein. Bulu matanya persis seperti milik Rein, dan matanya... Davin selalu suka melihat mata Tio karena setiap kali melihatnya, selalu ada bayangan Rein di dalamnya.


"Adit, sekarang aku adalah pewaris tunggal Demian, aku tidak selemah yang mereka lihat beberapa tahun lalu. Aku sudah cukup kuat, aku sudah bisa berdiri sendiri untuk melindungi orang-orang ku."


Dia sekarang punya segalanya. Dia adalah satu-satunya pewaris Demian yang diakui. Tidak lama lagi, ini tidak akan lama lagi sampai hari itu datang. Hari dimana ia bisa duduk angkuh di kursi kebesarannya sebagai penguasa keluarga Demian. Tidak akan lama lagi, dia akan menjadi pemegang otoritas tertinggi keluarga Demian.


"Anda sudah tidak lemah lagi, Pak. Anda jauh lebih kuat dari 5 tahun yang lalu dan Anda memang telah resmi menjadi pewaris satu-satunya keluarga Demian. Akan tetapi, Tuan besar mengatakan jika ini masih belum pasti sebelum Anda memenangkan proyek besar di negara A. Aku pikir posisi Anda saat ini masih belum aman-"


"Adit," Potong Davin dengan suara ******* panjang.


"Ya, Pak?" Adit menundukkan kepalanya patuh.


"Aku... tidak akan pernah aman selama Kakek terus mempersulit jalan ku, tapi bukan berarti aku lemah, Adit. Kamu adalah sahabatku satu-satunya di sini dan kamu sudah mengetahui pasti bahwa aku bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja. Meskipun posisi ku masih belum stabil di dalam keluarga Demian tapi ini tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa aku adalah satu-satunya orang yang paling mendominasi sekarang. Mereka memang bisa menggangguku tapi aku tidak akan diam saja diganggu, aku sekarang lebih kuat dan punya kekuasaan. Aku bisa membalas mereka semua, membayar rasa sakit yang ku rasakan tahun-tahun itu kepada mereka secara perlahan-lahan."


Terlahir dari keluarga kaya nyatanya tidak seindah yang orang-orang pikirkan. Dari luar, mungkin rumah para konglomerat bagaikan lautan tenang yang menyimpan banyak harta karun. Membuat banyak orang mengeluarkan kata-kata iri dan kecemburuan, akan tetapi permukaan laut yang tenang sejatinya memiliki arus yang kuat di dalamnya. Perebutan kekuasaan sudah tidak bisa dihindarkan lagi di dalamnya. Segala tipu daya dan muslihat mereka gunakan untuk saling menguasai. Bahkan, betapa kental dan eratnya hubungan darah tidak ada harganya di mata kekuasaan.


Dan Davin adalah salah satu korbannya.