
"Anggi memang pulang ke rumah, tapi apa urusannya dengan kamu?" Tanya Ibu tidak ramah.
Ibu melirik Adit hati-hati, takutnya Adit merasa tersinggung dengan kedatangan Doni. Sebagai mantan suami, tentunya keberadaan Doni pasti membuat Adit terganggu namun apa yang harus dia lakukan? Ibu juga tidak berdaya. Dia dan Ayah sudah lama mengusir Doni, mengabaikannya, dan seringkali melemparkan bahu dingin. Tapi Doni tidak mau pergi sekeras apapun mereka mencoba. Doni tetap bertahan di tempat dan membawa anak-anak sebagai alasan.
Anak-anak adalah anak Doni juga. Memisahkan mereka berarti menyakiti para cucunya. Ibu tidak mau dirinya dibenci oleh cucu-cucunya karena masalah ini. Sehingga dengan amat sangat terpaksa dia membawa Doni pulang ke rumah dan bertemu dengan anak-anak!
"Bu, jangan seperti ini. Biar bagaimanapun juga aku adalah suami Anggi. Jadi bagaimana mungkin dia tidak berurusan denganku?" Tanya Doni tidak berdaya.
Di depan Ibu mertuanya, dia harus bersikap lemah lembut juga sopan seperti sebelumnya. Dia harus bisa mengambil hati Ibu mertuanya agar masa depannya dengan Anggi dapat terjamin. Namun, sayangnya dia terlalu meremehkan IQ semua orang yang ada di sini. Terutama untuk Adit sendiri yang kini tengah tersenyum miring di bibirnya.
"Oh, masih suami? Sidang perceraian kalian, bukankah orang yang mengurusnya langsung adalah aku? Kemanapun Anggi pergi saat itu aku selalu mendampinginya, jadi bagaimana mungkin kamu masih mengaku-ngaku sebagai suaminya?" Tanya Adit lucu.
Laki-laki ini terlalu bodoh sampai-sampai berpikir membodohi semua orang sama mudahnya dengan membodohi diri sendiri. Malang, sungguh malang. Adit tidak berharap bila estetika Anggi dulu ketika memilih suami seburuk ini.
Padahal menurut Adit dia memiliki banyak kekurangan. Pertama, dia tidak tampan karena Adit merasa jauh lebih tampan. Kedua, dia tidak kaya dan Adit tidak perlu bersaing dalam hal kekayaan karena dia jauh lebih kaya daripada Doni. Dan ketiga, Doni adalah laki-laki brengsek.
Mengemis di saat tidak punya apa-apa kepada istri yang memiliki uang, berpura-pura tidak bersalah untuk semua kesalahan kejam yang pernah dilakukan, dan bertindak bodoh untuk semua kebodohan yang telah dia lakukan. Semua ini hanya bisa digambarkan dengan satu kata, yaitu 'hewan'.
Dia jelas manusia tapi memiliki perilaku hewan di alam liar, kejam dan tidak berbelas kasih. Lucunya lagi dia masih bersikap bodoh untuk semua kejahatan yang pernah dia lakukan. Adit tidak ragu untuk menghancurkannya.
Huh, karena dia sudah mengirim dirinya di sini, maka hancurkan saja dia dengan caranya sendiri. Tidak perlu menunggu bantuan polisi karena polisi tidak yang dikatakan perkasa, nyatanya tidak mampu mengendalikan satu orang. Sungguh kebodohan yang haqiqi.
"Benar Doni, kamu sudah bercerai dengan anakku. Tapi kenapa kamu masih datang dan mengaku-ngaku sebagai suami anakku?" Ibu bertanya kesal sekaligus heran dengan mantan menantunya ini.
Dulu dia tidak puas kepadanya karena anaknya hidup kian melarat bersamanya. Bukan bermaksud menjadi orang yang mata duitan tapi sebagai seorang Ibu dia tentu anaknya hidup jauh lebih baik daripada dirinya. Maka dari itu dia berharap anaknya dapat menikah dengan orang yang berkecukupan, jangan dengan orang tak mampu seperti mereka lagi. Namun Anggi tetap menikah dengan Doni, hidupnya yang melarat semakin melarat. Tidak cukup sampai di sana, Doni juga berselingkuh dengan wanita lain yang membuat Onu semakin tidak puas kepadanya. Dan sekarang melihat Adit berdiri di sini berhadapan langsung dengan Doni, Ibu tiba-tiba merasa bahwa dulu mereka terlalu bodoh dan akan lebih bodoh lagi jika mereka membiarkan Anggi kembali kepada laki-laki tidak becus ini.
"Tapi Bu, aku belum menerimanya. Aku adalah suami Anggi jadi meskipun dia meminta cerai selama aku tidak menyetujuinya, maka kami tidak akan pernah bercerai." Kata Doni keras kepala.
Adit tiba-tiba tertawa mendengar betapa keras kepalanya dia. Dia tertawa sampai-sampai memegang perutnya. Anggi dan Ibu heran mengapa Adit tiba-tiba tertawa. Mereka ingin tahu tapi tidak menyela tawa Adit karena melihatnya tertawa memiliki daya tarik tersendiri.
"Tidak ingin bercerai?" Tanya Adit setelah tawanya agak mereda.
Tawa rendahnya perlahan menjadi tawa yang sedikit aneh di dalam pendengaran semua orang. Bukan karena cara tawanya tapi karena perubahan suhu yang tiba-tiba. Entah mengapa tengkuk Anggi terasa agak dingin dan menakutkan.
"Bahkan jika kamu tidak ingin bercerai, pengadilan tetap akan mengabulkan permintaan Anggi karena perbuatan kamu sendiri. Apa...di sini aku perlu mengingatkan kamu kejahatan apa yang pernah kamu lakukan kepada calon istriku?" Tanya Adit dengan senyuman yang bukan lagi disebut senyuman.
Bibirnya jelas membentuk senyuman tapi Doni merasa bila senyuman ini tidak tulus dan mengandung makna tertentu.
Dia melihat sekelilingnya dan tidak ada siapapun. Doni menyimpulkan bila ini hanya perasaannya saja dan berusaha mengabaikan kegelisahan yang muncul di dalam hatinya.
"Oh, aku khilaf jadi sebut saja semua itu kecelakaan. Lagipula, apakah kamu yakin ingin mengingatkan aku di sini? Apakah kamu tidak takut Ibu akan sedih mendengarnya?" Kata Doni dengan nada mengancam.
Anggi meremat tangannya gugup. Dia mengangkat kepalanya malu, menatap wajah tampan Adit dengan tatapan penuh pengharapan. Apapun keputusan Adit, dia akan mengikutinya karena Adit telah berjanji kepadanya akan tetap bersamanya.
Adit akan selalu bersamanya apapun yang terjadi. Mantra ini terus menerus bergulir di dalam kepalanya, mengingatkan dia agar tetap berani dan percaya diri. Jangan terjebak dalam ketakutan masa lalu lagi.
"Takut? Kenapa aku harus takut? Aku akan menikahi Anggi jadi mengapa aku harus takut?" Kata Adit enteng.
Dia tidak tahu bila kata-katanya ini langsung melegakan hati gelisah Anggi. Sekarang dia sudah mendapatkan jaminan Adit. Di masa depan nanti, entah esok ataupun di beberapa tahu lagi, dia akan menikah dengan Adit. Laki-laki kuat ini akan menjadi tempat terbaik untuknya kembali setelah sekian lama merindu.
"Oh... apakah kamu yakin?!" Doni menggertakkan giginya marah sekaligus cemburu.
Ancamannya ini sempat berpengaruh kepada penjaga yang mengawal keluarga Anggi. Mereka langsung tidak bisa berkutik dan melepaskannya. Jika bukan karena ancaman ini, dia mungkin tidak akan bisa bergabung dengan Ibu dan Ayah saat jalan-jalan tadi siang. Sekarang dia menggunakan ancaman ini lagi kepada Adit. Harusnya Adit takut dengan ancaman ini namun reaksinya justru sebaliknya. Adit tidak hanya tidak takut tapi juga menantangnya agar membuka rahasia itu. Hal ini membuat Doni kelabakan. Dia bimbang apakah harus membukanya atau tidak. Pasalnya Adit terlihat tidak terpengaruh sama sekali dengan ancamannya.
"Lakukan jika kamu punya nyali." Kata Adit masih dengan senyumannya- yang tidak bisa lagi disebut sebagai senyuman.
Ibu bingung dengan mereka berdua. Dia pikir ini pertama kalinya mereka bertemu tapi melihat interaksi dari mereka berdua sepertinya mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Namun, mengapa Anggi tidak pernah mengatakan apa-apa tentang pertemuan mereka sebelumnya?
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Nak Adit, apakah ini ada hubungannya dengan Anggi?" Tanya Ibu kepada Adit.
Ibu terlihat agak khawatir.
Sebelum Adit bisa menjawab pertanyaannya, Ibu sudah beralih berbicara dengan Adit dengan nada perlawanan.
"Ada apa, Doni? Apakah kamu ingin mengungkit masalah perselingkuhan kamu dengan wanita lain? Jangan berharap Ibu akan memaafkan kamu, Doni! Ibu sudah tahu semuanya dan Ibu tidak akan pernah mengizinkan kamu kembali bersama Anggi! Kamu sudah sangat mengecewakan kami! Kamu sudah tidak pantas lagi bersama putriku!" Kata Ibu marah.
Doni sangat terkejut dengan teriakan penuh amarah Ibu. Awalnya dia masih menimbang apakah akan mengatakannya atau tidak, tapi sekarang tidak lagi. Dia merasa terhina dengan perkataan Ibu. Hanya karena dia berselingkuh dengan wanita lain bukan berarti dia tidak pantas bersama dengan Anggi lagi. Toh, Anggi sudah tidak suci lagi. Dia telah dinodai oleh laki-laki lain. Lihat, bukankah mereka seimbang?
Bukankah memang sudah seharusnya mereka tetap bersama?
Haha, jika Ibu tahu apa yang terjadi kepada Anggi, mungkinkah rasa bangga itu masih ada untuknya?
Mungkinkah Ibu akan berbalik jijik kepada putrinya sendiri atau sangat membenci putrinya sendiri?
Doni sudah tidak sabar ingin melihat reaksi mantan Ibu mertuanya itu.
"Ibu, kenapa marah-marah selarut ini?" Kebetulan Ayah dan yang lainnya datang menghampiri mereka.
Dengan begini pertunjukan akan lebih meriah lagi daripada sebelumnya.
"Jadi aku tidak pantas untuk putrimu, hah?" Tanya Doni dengan nada congkak, nada sopan santunnya telah menguap entah kemana digantikan oleh nada sok kuat dan sok berkuasa.
Anggi sangat gugup. Hatinya sakit dan sesak tapi tepukan ringan Adit di punggungnya segera menenangkan kegundahan hatinya. Adit berusaha menghiburnya ketakutan. Walaupun tidak menggunakan kata-kata lembut dan penuh akan rasa manis, namun Anggi sudah sangat nyaman karena perlakuan hangat Adit kepadanya. Ini hanyalah tindakan kecil tapi efeknya seluar biasa itu untuk hatinya.
"Kamu mau ngomong apa?" Tanya ayah tidak senang.
Dia menarik ibu ke belakang dan berdiri dengan tangguh dihadapan Doni dengan gesture melindungi.
"Ayah ingin tahu?! Aku mau ngomong kalau putri kalian tidak sesuci yang kalian pikirkan. Dia sudah kotor karena tubuhnya telah dinikmati oleh laki-laki lain! Dia menjual tubuhnya untuk-"
Bugh
Doni langsung jatuh tersungging ke tanah. Dia memegang pipinya yang bengkak dan berdenyut sakit.
"Puah..." Darah keluar dari dalam mulutnya.
Doni menatap horor sang pelaku pemukulan yang telah menyebabkan pipinya bengkak hingga mulutnya berdarah. Bertanya-tanya di dalam hatinya, kapan laki-laki ini mi bergerak dan mengapa dia tidak tahu jika laki-laki ini akan memukulnya?
"Kamu-"
"Apa?" Potong Adit dengan nada dingin.
Tanpa senyum atau pun aura malasnya yang khas. Dia kini berdiri dengan ekspresi datar di wajahnya, tubuhnya berdiri tegak menatap rendah orang yang masih belum bangun dari tanah.
"Beraninya kamu!" Doni langsung bangun dari tanah.
Menggertakkan giginya menahan sakit di tulang pipinya, Doni mengepalkan kedua tangannya membentuk kepalan tinju. Sudah lama sekali dia ingin melampiaskan amarahnya melalui kekerasan tapi dia tidak menemukan satu orang pun yang kuat dan layak menahan kemarahannya. Sekarang Adit sudah menawarkan diri sendiri tanpa diminta dan kebetulan Adit adalah laki-laki yang telah membuat dirinya tidak puas juga cemburu, jadi Doni tidak akan menahan diri untuk memikul Adit.
Hei, jangan meremehkan kekuatannya. Sekalipun dia dulu bekerja sebagai kuli bangunan tapi bukan berarti dia adalah laki-laki yang cupu. Dia dibesarkan dengan sebuah kekerasan dan terbiasa menggunakan tinju saat besar. Barulah setelah menikah dengan Anggi dia berusaha menahan diri untuk kembali ke pergaulannya dulu. Tapi siapa yang mengira jika rasa hausnya akan segera direalisasikan oleh orang yang ingin sekali dia patahkan!
"Aku sudah lama ingin melakukan ini kepadamu. Sekarang akhirnya aku memiliki kesempatan ini!" Doni berlari menghampiri Adit sambil mengayunkan tinjunya ke depan.
Adit tidak bergerak dan tetap berada di tempat. Disaat semua orang berteriak ketakutan dengan ngeri melihat tinju Doni yang akan menghantam wajah Adit, tangan besar Adit justru bergerak sangat cepat. Dia langsung meraih kepalan tangan Doni, memegangnya kuat dan dalam satu hentakkan, tangan itu telah berputar ke samping dengan bunyi nyaring disertai sebuah teriakan kesakitan. Doni sekali lagi jatuh tersungging ke tanah. Kali ini dia tidak memegang pipinya namun memeluk tangan kanannya yang diputar oleh Adit sebelumnya. Dia berguling-guling kesakitan di atas tanah sambil berteriak-teriak. Suara teriakan kesakitan nya seperti suara kambing yang sedang disembelih. Sakitnya sungguh membuat orang-orang yang ada di sekeliling langsung menatap Adit ngeri.
"Bawa dia pergi." Perintah Adit kepada seseorang yang bersembunyi di balik bayang-bayang.
Begitu kata ini jatuh, 3 orang berbaju hitam muncul dari kegelapan. Mereka bertiga lalu menyeret Doni masuk ke dalam mobil Van hitam sambil mengabaikan suara teriakan Doni.
Tindakan mereka tampak sangat kejam dan tidak berbelas kasih, namun meskipun begitu Anggi sama sekali tidak merasakan simpati untuknya. Dia malah menertawakan kemalangan Doni karena berani-beraninya ingin memukul Adit.
"Maaf, apa aku telah membuat kalian tidak nyaman?" Suara lembut nan sopan Adit kembali masuk ke dalam pendengaran semua orang.
Wajah Ibu dan yang lainnya sudah pucat pasi. Mereka sangat ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi.
"Nak, apa kamu baik-baik saja?" Ayah menghampiri Adit dengan langkah tuanya yang goyah.
Orang yang paling berdampak besar dari kejadian tadi selain Anggi adalah Ayah. Sebab ayah adalah orang yang paling dekat dengan Adit dan melihat secara langsung bagaimana tinju Doni akan menghantam wajah Adit.
Adit tersenyum lembut,"Aku baik-baik saja, ayah. Untungnya aku telah mengalami pelatihan sebelumnya jadi dia tidak bisa menyentuhku apalagi menyakiti kalian semua." Kata Adit dengan senyuman hangat di wajahnya.
Melihat senyuman Adit yang memiliki sentuhan kehangatan dan sopan, berbanding terbalik dengan penampilan tanpa emosinya beberapa saat yang lalu, mereka berpikir bila tadi itu hanya ilusi mereka semua. Jika Adit tidak menjelaskannya maka mungkin mereka pasti akan bertanya-tanya mengapa Adit terlihat seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda.
"Nak, apakah putra kami Rangga juga akan mendapatkan pelatihan yang kamu dapatkan?" Tanya Paman khawatir.
Aditya tidak ingin membohongi dia jadi dia langsung menjawab dengan positif.
"Benar, Paman. Siapapun yang bekerja untuk tuan Davin wajib mendapatkan pelatihan ini. Meskipun dilalui dengan sulit dan lelah, namun yakinlah Paman, Rangga akan tumbuh menjadi sosok yang kuat dan dapat membanggakan kalian semua. Dengan keberhasilannya, Rangga juga bisa melindungi kalian semua bila ada keadaan darurat seperti yang kita hadapi tadi." Jelas Adit menerangkan.
Paman dan Bibi saling memandang. Mereka jelas sangat ketakutan dan cemas dengan keadaan Rangga yang belum pernah pulang ke rumah sejak pergi menjalankan pelatihan. Namun mereka melihat dengan kepala mata sendiri, sebesar apa manfaat yang akan dimiliki putra mereka. Dapat dibayangkan betapa luar biasanya putra mereka ketika berhasil nanti. Orang-orang yang sebelumnya mencibir putranya karena sering bekerja sebagai baby sitter pasti akan terkejut melihat perubahan putra mereka.
"Dengan jaminan kamu, kami tidak akan khawatir lagi." Kata Paman berat hati.
Di antara semua orang yang berbicara, Ibu yang selama ini memiliki penampilan cerewet tiba-tiba diam membisu. Dia tidak pernah berbicara semenjak Doni mengamuk. Dan perubahannya yang tiba-tiba ini jelas dirasakan oleh Anggi. Sang putri yang selama ini diam saja tidak memberikan komentar apapun.
"Bu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian." Kata Adit tiba-tiba.
Ibu melihat Adit beberapa detik sebelum memalingkan wajahnya ke samping.
"Masuklah." Kata Ibu sambil memimpin jalan masuk ke dalam rumah.
Ayah melihat Adit dan Anggi, menghela nafas panjang, dia lalu menepuk pundak Adit ringan sebelum berjalan masuk ke dalam menyusul yang lainnya.
"Mas, mereka sepertinya salam paham kepada kita." Kata Anggi kepada Adit lemah.
Adit tersenyum lembut, dia mengusap puncak kepala Anggi dengan usapan yang begitu lembut dan penuh akan kasih sayang.
"Aku tidak masalah disalahpahami karena pada akhirnya kamu akan tetap bersama denganku. Bukankah begitu?" Kata Adit diwarnai candaan.
Anggi tertegun, dia terpesona dengan senyuman lebar Adit. Tangan kanannya tanpa sadar terangkat menyentuh sudut bibir Adit, mengusapnya lembut seolah sedang berusaha mengukir senyuman Adit ke dalam kepalanya.
"Hei," Anggi langsung tersadar saat tangan besar Adit menggenggam tangannya.
"Jangan khawatir. Aku akan selalu bersamamu apa pun yang terjadi, mengerti?" Hibur Adit kepada sang kekasih yang lagi-lagi tenggelam dalam pikirannya.
Anggi tersenyum, mengangguk ringan sebagai keyakinan, mereka kemudian masuk ke dalam rumah sambil berpegangan tangan. Masuk ke dalam ruang tengah dan duduk di sofa sambil diawasi oleh banyak pasang mata. Anggi merasa bersalah. Hatinya sakit. Oleh karena itu sejak awal masuk ke dalam rumah, dia tidak pernah berani menatap ibu ataupun ayahnya. Dia takut melihat tatapan penuh kekecewaan kedua orang tuanya.
Dia tidak sanggup melihat itu.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di sini dan jelaskan apa yang dimaksud oleh Doni tadi?" Bukan ibu yang berbicara tapi Ayah.
Sedangkan ibu duduk di samping Ayah dengan pandangan kuyu nya. Hanya dalam beberapa menit saja, ibu terlihat jauh lebih tua daripada sebelumnya.
"Anggi adalah korban, Ayah." Kata Adit mengambil inisiatif untuk menjawab pertanyaan Ayah.
Ayah dan yang lainnya tidak menyela ucapan Adit. Mereka menunggu dengan sikap mendengarkan yang siap mendengarkan penjelasan menyeluruh Adit.
"Dua tahun yang lalu Anggi ditipu oleh Doni. Dia tidak tahu bila dirinya dijual oleh Doni kepada Revan, Paman kecil dari tuan Davin." Saat informasi ini jatuh, semua orang langsung menghirup udara dingin.
Kata ibu dan Ayah membola kaget karena tidak bisa mempercayai apa yang baru saja Adit katakan. Informasi ini terlalu tiba-tiba dan agak sulit diterima. Ini jauh dari imajinasi semua orang.
"Sebenarnya alasan mengapa Anggi dan Doni bercerai bukan karena kasus perselingkuhan tapi karena kasus jual beli manusia. Karena kasus ini Doni menjadi orang buronan polisi karena sampai dengan saat ini polisi belum bisa menangkap Doni." Sambung Adit sekali lagi menjatuhkan bom besar kepada mereka semua.
Baru saja...baru daja seorang buronan polisi mendatangi rumah mereka dan bahkan bermain bebas dengan anak-anak. Tidak hanya itu saja... buronan polisi ini sebenarnya memiliki kaitan terhadap putri satu-satu mereka yang selama ini telah berjuang keras membahagiakan mereka.
"Jual beli... ditipu oleh Doni, apa maksud dari semua ini Anggi? Dan mengapa ayah dan serta ibu tidak tahu tentang masalah ini?" Ibu akhirnya mengeluarkan suaranya.
Dia bertanya cemas kepada Anggi namun sang putri tidak pernah mengangkat kepalanya untuk bertatapan dengan matanya. Anggi tertunduk dalam diam. Dia menangis tanpa suara untuk semua kesakitan yang tak mampu dia ceritakan kepada kedua orang tuanya terkasih. Untuk semua penderitaan yang dia rasakan atas kejadian itu, dia hanya menggigit bibirnya dalam kesakitan dan berusaha menahan semuanya sendirian tanpa mengeluarkan suara keluhan.
"Bu, Anggi tidak sanggup menjawabnya jadi biarkan aku menjawabnya untuk ibu dan semua orang." Adit mengambil alih pertanyaan tersebut karena dia tahu Anggi tidak akan pernah mampu mengatakan semuanya sendirian.
"Dua tahun lalu saat Anggi baru saja dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja di kota C dia tiba-tiba mendapatkan kabar dari Doni bahwa mereka memiliki hutang sebanyak 200 juta kepada Revan. Anggi tidak tahu mengapa mereka memiliki hutang sebanyak ini dan apa yang telah dilakukan Doni untuk yang sebanyak itu, Anggi sejak awal tidak tahu apa-apa. Padahal itu semua adalah tipuan Doni untuk Anggi. Dia sengaja menipu Anggi agar rencananya dapat berhasil. Revan dan Doni bekerja sama mendesak Anggi agar segera melunasi hutang-hutang itu. Tidak punya cara lain untuk melunasi hutang sebanyak itu, Revan akhirnya meminta Anggi untuk menjadi pelayan pribadinya. Anggi pikir itu hanya pelayan biasa jadi dia bersedia menjadi pelayan pribadi Revan selama setengah bulan. Apa yang Anggi tidak tahu adalah Doni menjual Anggi kepada Revan seharga 200 juta untuk digunakan selama setengah bulan. Begitu Anggi masuk ke dalam perangkap, Doni lalu berselingkuh dengan seorang model kecil dan secara tidak sengaja diketahui oleh Anggi. Anggi rasanya sangat hancur, Bu. Dia dinodai oleh laki-laki lain dan disaat itu juga mengetahui bila suaminya sedang berselingkuh dengan wanita lain. Dan Anggi semakin putus asa ketika mengetahui bila dia sebenarnya dijual oleh suaminya sendiri. Dia merasa hancur dan tidak berdaya. Dia hampir saja mengakhiri hidupnya bila nyonya Rein tidak datang membantu. Nyonya Rein lah membawa Anggi pulang merawatnya dengan baik. Melihat Anggi perlahan sembuh dan hidup kembali, nyonya Rein dan tuan Davin memutuskan untuk mempekerjakan Anggi di rumah mereka menjadi asisten pribadi nyonya Rein. Dan dari semenjak itu lah Anggi memiliki identitas baru di dalam hidupnya. Bu, Anggi sangat terpukul dengan kejadian saat itu dan tidak memiliki keberanian untuk membicarakannya dengan kalian. Dia takut kalian akan menjadi sedih dan jatuh sakit ketika mengetahui putri yang kalian cintai ternyata pernah mengalami masa kehancuran. Dan Anggi juga tidak mampu mengatakannya kepada kalian karena takut dengan reaksi kalian berdua. Dia takut kalian membencinya dan menjauhinya. Dia takut dan diam-diam memendam semuanya dalam diam. Dia pikir masalah ini akan terkubur untuk selamanya tapi semua harapannya segera hancur karena kedatangan Doni kembali. Jika Doni tidak datang menemui kalian malam ini maka mungkin rahasia ini akan Anggi pendam sendiri di dalam hatinya. Bu... Anggi selama ini telah banyak menderita karena masa lalu ini jadi tolong jangan mendorongnya pergi. Dia pasti akan sangat terpukul bila kalian menghindarinya." Kata Adit tanpa sadar berbicara lemah.
Dia memohon kepada mereka berdua agar jangan mendorong orang yang dia cintai pergi apalagi sampai menjauhinya karena yakinlah, hatinya pun akan hancur melihat hati wanita yang dia cintai dengan sepenuh hati dihancurkan.
Ruang tengah langsung menjadi sunyi. Tidak ada yang memberikan komentar apapun tapi mata mereka semua telah lama basah. Terutama untuk Ayah dan ibu. Mereka menangis sesenggukan dengan lemah, hati mereka rasanya sangat hancur begitu mengetahui putri yang mereka banggakan ternyata pernah disakiti oleh laki-laki yang pernah mereka percayakan untuk menjaga putri mereka.
Sebagai orang tua yang mencintai anak-anaknya, Ibu dan Ayah tentu saja tidak akan rela mengetahui bila putri mereka menderita. Mereka sejujurnya sangat marah, bahkan bisa dikatakan sangat marah besar. Namun mereka berdua sudah renta. Informasi semenyakitkan ini langsung membuat mereka berdua down dan lemah. Tubuh mereka berdua bergetar karena marah tapi sayangnya tak bisa mengembalikan mereka ke masa muda. Mereka sama sekali tidak memiliki tenaga untuk sekedar berdiri saja karena ini.... terlalu menyakitkan untuk hati mereka berdua.
"Nak... Anggi, sayang..." Bisik ibu lembut dan lemah.
Wajah tuanya sudah kehilangan warna. Tampak sakit-sakitan dan sangat rentan. Keadaan ibu sekarang ini memiliki ilusi bila dia bisa jatuh atau pingsan jika bergerak sedikit saja.
"Anggi...nak, kenapa menahannya sendirian selama ini?" Ibu berdiri dari duduknya, berjalan perlahan mendekati Anggi.
Adit mengerti dan langsung berdiri dari duduknya. Dia membantu Ibu dan Ayah untuk duduk di sofa yang sebelumnya di tempati. Mereka duduk diantara Anggi, memeluk tubuh kurus bergetar itu untuk berbagi kehangatan juga rasa sakit bersama.
"Nak, jika sakit katakan saja semuanya kepada kami. Karena kami adalah kedua orang tuamu, nak. Kami tidak suka kamu hanya berbagi cita saja dengan kami namun kami juga ingin berbagi duka bersama kamu, nak. Kami adalah orang tuamu, kami tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian dan berjuang melalui semua ini sendirian. Melihat kamu bahagia maka hati kami akan bahagia, namun melihat kamu tersiksa oleh rasa sakit sendirian, nak...betapa hancurnya hati yang kami rasakan. Betapa hancurnya hati kami, nak. Kamu telah melalui semuanya sendirian, tersiksa dalam diam tanpa memberitahu kami. Bukankah rasanya sakit, nak? Bukankah rasanya tidak nyaman menahan semua ini sendirian? Lantas berbalik lah. Lihat, ada ibu dan ayah yang selalu ada belakang kamu. Kami siap menjadi sandaran terkuat untuk kamu, menjadi tameng yang paling perkasa untuk kamu jadi kami mohon, nak...jangan menahan semuanya sendirian. Berbalik lah dan ceritakan semua kesakitan yang kamu rasakan kepada kami. Ceritakan semua yang kamu rasakan dan jangan menahan semuanya sendirian... lihat ayah, karena kamu memilih menahannya sendirian hati ayah jadi sakit. Ayah merasa menjadi sosok ayah yang tidak berguna karena membiarkan putrinya berdiri sendiri menahan hujan dan badai. Padahal ayah masih kuat nak, ayah tidak terkalahkan saat menghadapi hujan dan badai jadi andalkan ayah saja... andalkan ayah saja daripada menahannya sendirian..."
Untuk pertama kalinya ayah berbicara sepanjang dan sedalam ini di dalam hidup Anggi. Bagi Anggi sendiri, Ayah adalah sosok yang sangat kuat, sosok yang sangat irit bicara dan bijaksana. Anggi juga belum pernah melihatnya menangis sesusah apapun hidup mereka. Dia pikir ayah tidak akan pernah menangis dalam hidup ini tapi nyatanya dia salah.
Ayah tidak sekuat yang dibayangkan dan ayah juga tidak seperkasa yang dia impikan karena malam ini ayah sedang menangis di depannya. Menangis untuk segala rasa sakit yang selama ini dia pendam sendirian. Ayah selalu...ayah selalu memikirkannya. Berharap dia tidak akan kesusahan, berharap dia tidak akan menangis, dan berharap dia akan selalu bahagia. Setiap kali dia jatuh tersandung dan menangis, ayah akan berkata 'kemari lah, ayah akan pukul lantai nakal yang telah membuat putri ayah menangis'. Ini adalah kata-kata yang tidak akan pernah Anggi lupakan seumur hidupnya.
Dia tidak akan melupakannya dan sangat menyesali tangisan Ayah hari ini. Dia menyesal karena telah membuat Ayah menangis sedih.
"Ayah... Bu, aku minta maaf..." Bisik Anggi sambil menahan suara tangisnya sekuat mungkin.
Dia tidak ingin membuat ayah dan Ibu semakin sedih karena terlalu memikirkannya.
"Nak...kamu tidak bersalah, nak. Kamu... adalah wanita yang kuat hanya saja jangan memendam semuanya sendirian. Ibu dan Ayah masih ada di dunia ini jadi katakan saja semuanya kepada kami. Meskipun kami sudah tua tapi bukan berarti kami tidak mampu membantumu, nak. Tidak, nak, kami pasti akan berjuang keras untuk memperjuangkan keadilan untukmu. Kami akan memukul Doni dan mengirimnya ke penjara, menjewer telinga Revan dan menendangnya ke penjara. Kami pasti bisa melakukan itu semua untuk keadilan mu, nak. Untuk keadilan hidupmu. Jadi kami mohon...jangan menahan semuanya sendirian dan menyembunyikan apapun dari kami lagi. Karena ketahuilah, nak..hati kami sakit. Rasanya sangat menyakitkan di dada. Sakit rasanya mengetahui bila putri kami disalahgunakan dan disakiti di luar sana. Apa kamu mengerti?" Kini giliran Ibu yang berbicara.
Dia menasehati putrinya agar jangan menyembunyikan apapun dari mereka seburuk apapun itu. Sebab mereka akan jauh lebih sakit hati bila mengetahuinya dari orang lain atau terlambat mengetahuinya. Hei, hati orang tua setulus ini. Segalak atau sepemarah apapun mereka, jika berhubungan dengan darah daging, segumpal darah yang berdegup itu pasti alam melunak. Sebab tempat itu akan paling lembut bila berkaitan dengan buah cinta mereka.
"Anggi minta maaf... Anggi tidak bermaksud membohongi kalian. Anggi hanya..." Dia mengangkat kepalanya sehingga kedua orang tuanya bisa melihat wajah basah Anggi karena terlalu banyak menangis.
"Anggi hanya tidak mampu, Bu, Yah... Anggi tidak sekuat itu..." Sambungnya terdengar menyedihkan.