
"Dokter Adit adalah sepupuku dan dia adalah salah satu korban kekejaman para rubah tua itu."
"Sepupumu?" Tanyaku spontan.
Maka semuanya sudah memiliki titik terang sekarang. Alasan kenapa dokter Adit mengetahui hubunganku dengan Davin dan alasan kenapa dokter Adit melarang ku ikut campur dalam masalah ini adalah karena dia merupakan sepupu Davin.
Selain menjadi sepupu, tapi dokter Adit juga menjadi korban dari kekejaman rubah tua itu- tunggu, Davin bilang jika dokter Adit adalah salah satu korban dari para rubah tua?
Aku masih belum mengerti poin pada titik ini.
"Ya, dia adalah sepupuku. Dokter Adit lahir dari pernikahan Paman kelima dengan Bibi Rani yang berprofesi sebagai dokter anak. Di dalam keluarga Demian, aku bisa menyimpulkan jika hanya aku dan dokter Adit lah yang berpotensi mewariskan kekuasaan Kakek. Karena di antara semua putra dan cucu Kakek, hanya kami berdua lah yang paling memenuhi kriteria Kakek. Keputusan Kakek ini membuat Paman dan Bibi ku yang lain tidak setuju karena bagi mereka ada banyak cucu Kakek yang lebih pantas berada di posisi itu. Pada dasarnya mereka menawarkan putra mereka kepada Kakek karena mereka tahu posisi itu tidak akan pernah menjadi milik mereka. Maka satu-satunya cara adalah mengirim putra mereka sebagai pion penggerak untuk menguasai kekayaan Kakek. Jujur Rein, kedua orang tuaku adalah orang yang berpikir bahwa uang dan kekuasaan bukanlah segalanya. Bisa hidup dengan nyaman dan damai adalah satu-satunya yang mereka inginkan. Begitupula dengan Paman kelima dan Bibi Rani. Mereka tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan warisan Kakek sehingga mereka dan kedua orang tuaku secara terang-terangan menyatakan mundur dari hak waris." Sepanjang Davin berbicara aku di dalam pelukannya berusaha mendengar dengan serius dan tidak mengeluarkan suara sanggahan sampai akhirnya Davin sendiri yang menjeda ucapannya.
"Apakah Kakek mu mengizinkan mereka mundur?" Tanyaku cukup penasaran.
Ini adalah masalah pribadi keluarga kekasihku yang sebenarnya sangat rahasia dan tidak bisa diumbar ataupun dibicarakan begitu saja. Tapi Davin malah menceritakannya kepadaku yang menjadi bukti bahwa aku adalah orang yang sangat penting untuknya. Dia terbuka kepadaku dan tidak takut membicarakan tentang konflik keluarganya. Aku sangat senang mendengarnya dan berusaha mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya dengan serius.
"Tidak, Rein. Kakek adalah orang yang ambisius dan sulit ditebak. Kakek tidak menginginkan Papa maupun Paman kelima karena Kakek tahu mereka tidak akan bisa menanggung semua perselisihan di masa depan nanti. Jadi daripada memilih mereka, Kakek malah mengumumkan kepada semua anggota keluarga bahwa aku dan dokter Adit yang akan mewarisi keluarga. Pilihan sudah diputuskan oleh Kakek, hanya ada antara aku atau dokter Adit, sisanya Kakek tidak membutuhkan kandidat tambahan. Apa kamu tahu Rein, karena pengumuman yang Kakek keluarkan perselisihan di dalam keluargaku semakin kacau. Anggota keluarga yang lain secara terang-benderang mengucilkan kedua orang tuaku dan kedua orang tua dokter Adit. Bahkan, sepupu sepupu ku yang lain pun mengikuti jejak orang tua masing-masing, mereka secara terang-terangan menjauhi ku dan dokter Adit sehingga kami secara alami mengembangkan rasa permusuhan. Mereka tidak puas dengan pilihan Kakek dan mereka tidak setuju jika semua warisan Kakek akan menjadi milikku atau menjadi milik dokter Adit. Berulangkali mereka meminta Kakek memikirkan masalah ini secara baik-baik tapi jawaban Kakek selalu sama, dia menolak mengubah kandidatnya." Davin menghela nafas panjang, hembusan nafas hangatnya menerpa kepala dan keningku, meninggalkan rasa gatal yang menggelikan.
Tapi bukan saatnya untuk bersenang-senang karena saat ini kami berdua sedang mengalami masalah serius ini.
"Tidak berhasil membujuk Kakek, para rubah tua itu lalu berkomplot secara bersama-sama untuk menciptakan sebuah rencana keji. Tepatnya, 7 tahun yang lalu Paman kelima dan Bibi Rani meninggalkan dalam kecelakaan mobil. Saat itu aku sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi dan berpikir bila mereka meninggal dunia murni karena sebuah kecelakaan tanpa ada campur tangan manusia. Baru kemudian dua tahun setelah kecelakaan itu aku mengetahui bila kecelakaan mereka adalah perbuatan para rubah tua licik itu. Mereka secara kasar menunjukkan dokter Adit sebuah pelajaran jika dia terus mempertahankan posisinya. Dokter Adit merasa mereka konyol dan menyedihkan, hanya karena harta mereka tega membunuh saudara sedarah sendiri. Bukankah ini menjijikkan?" Ada nada ironis di dalamnya.
"Dokter Adit sejujurnya tidak mau menyerahkan posisinya saat itu karena dia memiliki tekad untuk mempermalukan para rubah tua licik itu. Namun, pikirannya segera berubah setiap kali mengingat darah segar yang mengalir dari tubuh remuk kedua orang tuanya yang sudah tidak bernyawa. Dokter Adit merasa bahwa semuanya sia-sia dan keadaan psikologisnya mengalami tekanan. Dia tidak bisa menahan luka di hatinya dan memutuskan untuk mendatangi Kakek. Di hadapan Kakek ku dokter Adit memohon untuk mundur dari hak waris. Dia tidak ingin lagi melihat kekejaman yang sama dan dia tidak ingin lagi bertemu dengan para pembunuh kedua orang tuanya yang tiada lain adalah anak-anak Kakek sendiri. Kakek tidak menolak permintaannya dan membiarkan dokter Adit bebas memilih kehidupannya sendiri. Setelah itu dokter Adit memulai hidup baru di luar tanpa mendapatkan keadilan dari Kakek mengenai pelaku yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal. Rein, aku sangat yakin bila Kakek sudah tahu siapa pelakunya, hanya saja dia menolak mengatakannya bukan karena mereka adalah anak Kakek, tapi tepatnya karena semua yang terjadi saat itu adalah kilas balik dari pengalaman Kakek dulu."
Aku tahu apa yang Davin maksud tapi aku tidak menyangka jika praktik kejahatan di dalam keluarga orang-orang kaya rupanya kejahatan berantai yang selalu diulangi setiap pergantian generasi.
Ya Tuhan, jika kejahatan ini sama seperti yang aku pikirkan, lalu bagaimana dengan nasib anak-anak ku kelak?
Apakah mereka akan melupakan ikatan darah hanya karena sebuah keserakahan akan kekuasaan?
Menghidupkan garis kebencian, melupakan hubungan kekerabatan, dan saling membunuh-
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Rein. Keluarga kita akan hidup damai selama-lamanya. Anak-anak kita tidak akan tumbuh seperti para rubah tua itu. Anak-anak kita adalah anak-anak yang baik karena kamu adalah Ibu mereka, Ibu yang mendidik mereka dengan kelembutan hatimu." Tangan besar Davin mengusap puncak kepalaku, mengusir semua kecemasan dan kekhawatiran yang sempat memenuhi kepalaku beberapa detik yang lalu.
"Tidak, Davin. Mereka akan tumbuh menjadi anak-anak kuat dan baik karena Daddy mereka adalah kamu, Davin Demian." Kataku yang langsing disambut oleh sebuah tawa renyah.
Apa..apa kata-kataku terlalu lucu atau terdengar berlebihan?
"Jangan menggodaku, Rein. Saat ini aku tidak memiliki tenaga lebih untuk memuaskan-"
Sontak saja kedua tanganku menutup mulutnya. Aku tahu dan sangat yakin jika kata-kata yang keluar selajutnya dari mulut Davin adalah kata-kata vulgar yang sangat memalukan, ugh!
Dia masih bisa bercanda di saat situasi seperti ini?