
Setengah jam kemudian Adit telah sampai di rumah Anggi. Dia meminta Niko untuk menunggunya di dalam mobil sementara dia masuk ke dalam rumah untuk menjemput calon istrinya dan anak-anak.
"Assalamualaikum, Bu? Dimana Anggi dan anak-anak?" Salam Adit sembari mencium tangan calon ibu mertuanya.
Ibu sangat senang karena Adit sangat perhatian kepada putri dan cucu-cucunya. Dia menepuk lengan Adit dan menariknya masuk ke dalam rumah.
"Anggi sedang mendandani anak-anak di kamar mereka. Nak, tunggu di sini bersama Ayah dan paman." Kata ibu seraya mempersilakan Adit duduk di sofa.
Adit langsung bergabung dengan ayah dan paman. Mereka membicarakan banyak hal sembari menunggu Anggi dan anak-anak bersiap-siap. Hingga satu jam kemudian Anggi masuk ke ruang tamu dengan gaun malam selutut nya bersama anak-anak. Anak-anak memakai jas kembar dengan dasi kupu-kupu yang sangat lucu sedangkan Anggi menggunakan gaun malam selutut berwarna hijau muda.
Sore ini Anggi menggunakan riasan yang ringan dengan lipstik merah merona mewarnai bibirnya. Sekilas, dia memiliki kesan wanita yang cantik sekaligus anggun karena penampilannya yang tidak glamor.
"Sangat cantik." Kagum Adit tidak bisa berpaling dari pesona anggun wanita tercintanya.
Mendengar pujian Adit, semua orang yang ada di dalam ruangan itu sontak tertawa. Mereka diam-diam ikut senang karena Adit jatuh terpesona kepada putri kebanggaan mereka.
Anggi sangat malu. Dia memegang erat tangan kedua anaknya gugup.
"Terima kasih, mas." Kata Anggi tersipu malu.
Aldo dan Aldi mendongak menatap Mama mereka yang sedang terjebak asmara. Dengan wajah polos mereka mengeluh kepada Anggi,"Ma, tangan ku jangan diremas-remas. Rasanya sakit." Keluh Aldi, anak yang paling kecil.
Anggi sangat terkejut. Dia langsung mengurangi tenaganya agar tidak menyakiti anak-anaknya lagi. Oh salahkan dirinya yang masih gugup dan cemas di depan Adit. Padahal dia hanya dipuji sedikit saja tapi reaksinya sungguh sangat memalukan.
"Aldo dan Aldi, kemari. Papa sudah lama ingin memeluk kalian." Kata Adit seraya merendahkan tubuhnya dan merentangkan tangannya ke arah anak-anak.
Dia memahami bila calon istrinya sedang malu, oleh karena itu dia mengambil inisiatif untuk memeluk anak-anak agar istrinya terbebas dari rasa malu.
Benar saja, anak-anak sangat menyukai Adit. Mereka langsung melemparkan diri ke dalam pelukan hangat Adit seraya berteriak 'Papa' yang nyaring.
Adit tersenyum puas, memeluk anak-anak dan menggendong mereka berdua dengan mudah.
"Dimana barang-barang mu?" Tanya Adit dengan senyuman simpul.
Anggi buru-buru mengambil paper bag besar di sampingnya.
"Sudah siap, mas." Kata Anggi malu.
Adit mengangguk,"Baiklah, kita bisa berangkat sekarang. Bu, Ayah, Paman dan Bibi, malam ini Anggi serta anak-anak ku pinjam dulu. Aku janji akan membawa mereka pulang dengan selamat." Kata Adit kepada mereka semua.
Ayah mengangguk pelan,"Hati-hati di jalan, nak. Ku percayakan putri dan kedua cucuku kepadamu."
Setelah itu Adit mencium tangan mereka semua dan langsung membawa anak-anak ke dalam mobilnya.
Di luar Niko buru-buru mengambil barang bawaan Anggi dan menaruhnya di kursi co-pilot sedangkan Anggi dan anak-anak duduk bersama Adit di belakang.
Sepanjang jalan Anggi sangat gugup dan salah tingkah. Dia tidak tahu harus melakukan apa atau berbicara apa karena sejak masuk ke dalam mobil Adit terus saja melihatnya. Anggi malu tapi juga senang sejujurnya. Dia senang diperhatikan seintens ini oleh laki-laki yang dia sukai. Tapi...tapi dia jadi salah tinggi dan tidak bisa melakukan apa-apa karena hal ini.
"Bagaimana hari ini? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" Tanya Adit kepada sang calon istri.
Ditanya tentang hari ini sejujurnya semuanya berjalan dengan lancar walaupun tidak mudah karena dia sangat sibuk dengan ibu dan bibinya untuk menyiapkan kue buatan yang akan dia bawa ke rumah keluarga calon suaminya.
"Semuanya berjalan lancar, mas. Ibu dan Bibi juga membantuku. Oh ya, mas. Aku...aku menyiapkan beberapa kue untuk kedua orang mas Adit, apakah ini tidak apa-apa?" Tanya Anggi hati-hati.
"Kue?" Tanya Adit penuh kejutan.
Seperti yang diharapkan, calon istrinya memang bijaksana. Orang tua angkatnya pasti senang menerima hadiah ini karena biar bagaimanapun keluarganya tidak kekurangan apa-apa di rumah.
"Iya...iya, mas. Apakah ini tidak apa-apa?" Tanya Anggi gugup.
Adit tersenyum tidak berdaya. Dia mengusap puncak kepala calon istrinya penuh kasih untuk menenangkan perasaan gugupnya,"Tidak apa-apa, sayang. Lagipula kue buatan kamu sangat lezat dan tidak terlalu manis. Seharusnya Papa angkat akan menyukainya."
Adit tidak menyukai makanan bergula. Setiap kali menghadiri jamuan atau pesta, dia alam menghindari 3 hal. Pertama wanita, kedua minuman beralkohol, dan ketiga makanan bergula. Baginya ketiga hal ini adalah parasit yang harus segera dihindari sejauh mungkin. Namun rasanya sangat berbeda ketika membicarakan kue buatan Anggi dan Rein. Soalnya kue buatan mereka tidak terlalu manis dan ringan di lidah maka tidak masalah untuk makan beberapa potong kue sebab cita rasanya tidak membuat perut muak.
"Sungguh, mas?" Mendengar jaminan dari Adit saja membuat hatinya yang gugup sedikit tenang.
"Tentu saja. Mereka akan menyukainya." Tegas Adit tidak membual.
Faktanya kue buatan Anggi dan Rein memang mudah diterima oleh lidah para pembenci makanan yang manis-manis.
"Syukurlah." Bisik Anggi jauh lebih lega daripada sebelumnya.
Dia tersenyum lega, diam-diam menantikan bagaimana reaksi calon mertuanya ketika mencicipi kue yang telah dia buat bersama dengan Ibu dan Bibi. Apakah mereka akan menyukainya atau justru-
Grab
Pikiran Anggi langsung buyar. Bulu matanya bergetar ringan, bergerak ringan ke bawah dan menangkap tangannya yang kini telah diselimuti oleh tangan besar. Berdebar kencang, wajah Anggi menyebarkan rona merah. Bibirnya dalam tunduk mulai mengulum senyuman. Dia menyembunyikan pandangannya dari Adit, merasa malu, tangannya agak ragu-ragu bergerak dan membalas genggaman tangan Adit.
Tangan mereka saling terkait, saling menguatkan dan mengusir kegugupan yang melingkupi hati masing-masing. Tidak bisa dipungkiri bila tindakan intim ini membuat hati menghangat, menyebarkan suasana musim semi yang menyenangkan hati.
15 menit kemudian mobil Adit memasuki pekarangan rumah mewah dan besar. Ini adalah kediaman keluarga Adit- lebih tepatnya kediaman resmi keluarga Paman Adit.
Keluarganya memang bukan kelurga besar seperti Demian tapi setidaknya keluarganya masih diklasifikasikan sebagai keluarga kelas atas atau elit.
"Waw, rumahnya sangat besar!" Kagum anak-anak ketika melihat bangunan tinggi di depan mereka.
Adit tersenyum lembut, tangannya yang bebas secara alami mengusap puncak kepala anak-anak.
"Jika kalian suka, Papa akan membangun rumah yang besar untuk kita tinggali nanti, bagaimana?"
Aldo dan Aldi jelas sangat senang mendengarnya. Mereka berlomba-lomba untuk menjawab Adit bila mereka sangat suka dengan pengaturannya.
Adit tahu jawaban anak-anak tapi masih meminta pendapat calon istrinya,"Bagiamana dengan mu?"
Anggi tercengang,"Apakah ini serius, mas?" Anggi pikir Adit hanya membual saja untuk menyenangkan anak-anak.
Adit mengangguk serius sebagai jawaban. Dia ingin mendengar pendapat keluarga kecilnya karena sebentar lagi mereka akan bersatu. Jika mereka menyukai rumah besar seperti ini, maka dia akan membangun rumah yang besar untuk keluarganya. Tapi jika dia menginginkan vila terpadu seperti milik Davin dulu, maka Adit akan langsung membeli vila di lokasi yang sama dengan milik Davin.
Semuanya tergantung kepada jawaban keluarga kecilnya. Sedangkan pendapat dirinya sendiri tidak penting sebab kemanapun mereka pergi, tempat itu akan selalu menjadi rumah yang hangat untuknya.
"Aku serius. Jika kamu menginginkan rumah besar seperti ini, aku akan meminta sebuah perusahaan konstruksi untuk membuatnya. Aku juga akan menyerahkan bagaimana desainnya sesuai dengan kesukaan kamu dan anak-anak." Kata Adit serius.
Mendengar jawaban calon suaminya. Anggi langsung menggelengkan kepalanya secara tegas menolak.
"Mas rumah besar itu bagus tapi aku tidak menyukainya. Aku lebih suka rumah yang kecil dan sederhana karena dengan begitu kita akan merasa lebih dekat satu sama lain. Tapi jika rumahnya besar, entah mengapa aku merasa jika itu akan menciptakan jarak untuk kita semua." Kata Anggi malu-malu.
Baru semalam Adit memintanya untuk menikah secara resmi dihadapan keluarganya dan sore ini Adit sudah membicarakan rumah yang akan mereka tinggali kelak. Jujur, rasanya agak menakjubkan karena dia masih mengira ini mimpi bila dan Adit akhirnya bisa bersatu.
Adit kian kagum dengan kebijaksanaan calon istrinya. Seperti yang Anggi bilang tadi, ada baiknya rumah mereka kecil agar tidak menciptakan jarak diantara mereka semua. Ini adalah ide yang sangat bagus untuk Adit yang tidak menyukai kesepian.
"Baiklah, aku akan mendengarkan kamu." Kata Adit dalam suasana hati yang baik, berkali-kali lipat lebih baik daripada semalam.
Anggi tersenyum malu, dia merasa sangat tersanjung dengan kebaikan hati suaminya.
"Terima kasih, mas." Adit selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan untuk urusan masa depan mereka, Adit langsung meminta pendapatnya dengan serius. Padahal jika Adit mau membuat keputusan sendiri, Anggi tidak akan memberikan komentar apa-apa karena dia menghormati keputusan apapun yang calon suaminya buat.
"Ayo, turun. Kita sudah sampai di rumah Oma dan Opa." Kata Adit sembari membuka pintu untuk anak-anak.
Setelah anak-anak keluar, dia membantu calon istrinya turun dari mobil dan segera mengambil alih paper bag besar itu untuk dibawa masuk.
Bersama dengan hadiah yang telah disiapkan untuk orang tua angkatnya, Adit memegangnya di tangan kiri dan memegang tangan Aldo di tangan kanan. Sedangkan Anggi memegang Aldi di tangan kirinya. Tidak seperti di dalam mobil, anak-anak langsung menjadi penurut dan patuh ketika turun dari mobil. Mereka terlihat sangat pendiam dan tidak pernah membuat keributan seperti yang dilakukan oleh anak-anak seusia mereka.
Anggi sangat puas dengan kemajuan anak-anaknya.
"Jangan gugup, orang tua angkat ku sangat baik dan mudah bergaul." Hibur Adit melihat kegugupan calon istrinya.
Anggi tersenyum ringan sebagai tanggapan.
"Perasaan gugup itu normal, mas. Apalagi yang aku kunjungi sekarang adalah orang yang sangat penting di dalam kehidupan mas Adit." Kata Anggi dengan senyuman tipis di bibirnya.
Akan sangat aneh bila ada seseorang yang tidak gugup saat pertama kali bertemu dengan keluarga calon suaminya. Anggi kira semua wanita pasti pernah berada di posisinya.
Adit menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Sebenarnya dia juga pernah segugup ini ketika pertama kali bertemu dengan kedua orang tua Anggi. Pada saat itu, Adit agak takut bila kedua orang tua Anggi memandanginya dengan sebelah mata.
Baik Anggi maupun Adit sudah tahu siapa pemilik suara ini. Adit sudah mengetahui kedatangannya dari Niko tapi tidak dengan Anggi. Dia jelas terkejut juga bertanya-tanya apa yang sedang Sera lakukan di sini?
"Kak Adit akhirnya datang juga, aku sudah lama menunggu kedatangan kak Adit!" Kata Sera manja.
Dia mendengar kabar dari orang bayarannya di rumah ini bila Adit akan pulang ke rumah malam ini jadi dia sangat senang. Dengan semangat tinggi dia menyiapkan pakaian terbaiknya dan berusaha memiliki penampilan yang mempesona untuk menarik perhatian Adit nantinya. Namun setelah lama menunggu dia tidak menyangka jika Adit akan pulang ke rumah dengan wanita murahan itu. Apalagi sampai membawa dua parasit milik benih laki-laki lain. Melihat mereka langsung membuat wajah Sera cemberut.
Apa yang sedang wanita murahan ini lakukan di sini? Bukankah seharusnya dia tidak bisa mendekati Kak Adit lagi? Batin Sera heran.
Dia melirik Anggi dan anak-anak dengan pandangan menghina, samar, namun bisa dilihat oleh Adit, sayang sekali.
"Oh, ada perlu apa kamu datang ke sini? Apakah kamu punya urusan dengan orang tua angkat ku?" Tanya Adit acuh tak acuh.
Sera langsung menjadi canggung. Dia tidak bisa melepaskan kesempatan ini begitu saja.
"Ini...aku ingin bertemu dengan kak Adit. Aku kangen sama kak Adit jadi aku nekat datang ke sini." Kata Sera hati-hati melihat perubahan wajah Adit.
Adit tersenyum datar,"Jangan katakan itu di depan calon istriku. Takutnya dia salah paham dan mengabaikan ku." Balas Adit dengan nada bercanda.
Anggi langsung menjadi malu. Dia tidak berani menatap Adit yang telah berkali-kali membuatnya tersipu dalam waktu yang sangat singkat.
Sera membeku di tempat. Hubungan mereka sudah sejauh ini? Dia terperangah kaget!
"Calon istri?"
Adit tersenyum lembut,"Ya, sebentar lagi kami akan menikah. Ada apa?" Tanya Adit pura-pura tidak mengerti.
Sera menggelengkan kepalanya panik.
"Tidak apa-apa. Aku hanyalah terkejut karena kak Adit akhirnya memiliki pasangan." Katanya dengan mata memerah.
Jika diperhatikan dengan baik, ada riak-riak tipis yang muncul di dalam mata Sera namun Adit tidak mau perduli sebab itu bukanlah urusannya.
"Ya, aku akhirnya menemukan wanita yang kucintai. Baiklah, kami akan masuk ke dalam dulu." Kata Adit seraya menarik calon istri dan anak-anaknya masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan Sera yang masih memproses percakapan singkat mereka tadi.
"Bagaimana mungkin?" Hatinya menolak untuk percaya.
"Man mungkin Kak Adit mau menikah dengan wanita murahan itu?!" Hatinya terluka dan dia sangat cemburu. Dia sulit menerima semua kebenaran ini sebab dia sangat mencintai Adit.
"Enggak, enggak boleh. Mama pasti punya cara untuk memisahkan mereka. Lagipula Mama kak Adit mana mungkin mengizinkan kak Adit menikah dengan wanita kotor itu. Dia tidak akan setuju." Kata Sera percaya diri.
Dia mengepalkan tangannya erat untuk menenangkan perasaan panik dihatinya. Mengambil nafas panjang beberapa kali, dia lalu masuk ke dalam rumah untuk menyusul keluarga kecil itu di dalam.
***
"Mas, apa Sera tidak menyukai ku?" Tanyaku bingung kepada mas Adit.
Mas Adit mengangkat bahunya tampak tidak perduli.
"Cukup aku yang menyukaimu, bagaimana?"
Ah lagi-lagi mas Adit membuatku malu. Dia sangat pandai menggunakan mulutnya untuk membicarakan banyak hal manis yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
"Maka itu sudah cukup." Bisik ku menjawab.
Aku tidak berani menatapnya tapi suara tawa renyahnya begitu hidup di dalam pendengaran ku. Suara tawa mas Adit sangat menyenangkan dan terdengar renyah. Dia jelas terlihat lebih baik dengan sikap santainya itu tapi mengapa mas Adit suka sekali memasang ekspresi datar seperti tuan Davin?
"Adit, kamu pulang, nak." Tiba-tiba seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun menyambut kami di ruang tengah.
Dia memeluk mas Adit dengan kuat dan bahkan menangis! Tidak perlu ditanyakan lagi, wanita ini pasti Mama angkat mas Adit. Atau panggil saja dia Bibi mas Adit.
Aku sudah tahu seluk beluk keluarga mas Adit lewat nyoya Rein jadi aku tidak terlalu terkejut!
"Ma, berhenti menangis. Lihat, aku akhirnya pulang bersama calon istri dan anak-anakku." Kata mas Adit seraya melingkari pinggang ku dengan tangan besarnya, kemudian menarik ku ke sampingnya.
"Anggi, anak-anak. Ayo ucapkan salam kepada Oma." Mas Adit membantuku dan anak-anak berbicara dengan Mamanya.
Aku sangat gugup. Meraih tangan tuanya, aku langsung menciumnya dengan sopan.
"Halo, bibi. Namaku Anggi. Aku adalah calon istri mas Adit." Kataku takut-takut.
Tidak seperti yang ku takutkan, Mama angkat mas Adit langsung menyambut ku dengan hangat dan tidak sungkan ketika berbicara dengan anak-anak.
"Aneh, kenapa Aldi dan Aldo mirip seperti Adit ketika masih kecil?" Bingung Mama angkat mas Adit ketika melihat anak-anak.
Tentu saja mereka mirip karena mas Adit lah yang mendidik mereka dengan tekun.
"Ma, tentu saja dia mirip denganku. Tidakkah aku adalah Papanya?" Kata mas Adit bercanda.
"Ya, kamu benar-benar papanya. Kamu ini...hah, kamu mengingatkan Mama pada papa mu saat masih muda. Kalian memang dibuat dari cetakan yang sama."
Mas Adit menanggapinya dengan tawa renyah.
Setelah berbicara sebentar di ruang tengah, aku memberikan Mama dan Papa angkat mas Adit kue yang ku bawa.
Mereka sangat antusias ketika menerimanya dan segera mencicipinya di depan ku dan mas Adit. Aku sangat bersyukur ketika melihat reaksi mereka. Tampaknya apa yang mas Adit katakan di dalam mobil tadi benar bila mereka pasti akan menyukai kue ku.
***
"Wah, semua orang sedang berkumpul. Adik, apakah aku boleh bergabung?" Mama Sera tiba-tiba muncul dari dalam.
Dia sebenarnya sudah lama duduk di dalam dan sempat berbicara dengan kedua orang tua angkat Adit. Untuk masa depan putrinya, dia berusaha melobi mereka agar menolak hubungan Adit dan Anggi.
Mulutnya sudah lelah berbicara dan barulah Adit sampai di rumah. Dia sangat senang karena mulutnya bisa beristirahat. Di sini dia hanya perlu menunggu hasil dari air ludahnya yang telah dihamburkan demi kebahagiaan putrinya.
"Oh Kakak, maaf aku melupakanmu di dalam. Ketika aku melihat Adit dan anak-anak, aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak banyak bicara dengan mereka." Kata Mama Adit menyesal namun ekspresi di wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali.
Adit tersenyum simpul,"Nyonya, apa yang sedang Anda lakukan di sini? Aku pikir tuan sedang bersama Anda di rumah." Kata Adit basa-basi.
Mama Sera melambaikan tangannya santai,"Suamiku sangat sibuk di luar hari ini. Dia tidak punya waktu untuk menemani ku di rumah, karena itulah aku datang ke sini."
Adit mengangguk mengerti,
Tentu saja dia masih sangat sibuk di luar sana, jika tidak, kamu mungkin tidak akan di sini untuk membuat pertunjukan sirkus. Batin Adit mencibir.
"Nah, lalu anak siapa ini? Kenapa dia datang bersama Adit hari ini, dik?" Mama Sera bertanya pura-pura tidak tahu tentang identitas anak-anak Anggi.
Anggi tersenyum malu. Saat pertama kali bertemu dulu, dia bisa merasakan bila Mama Sera tidak menyukainya. Sekarang bertemu untuk yang kedua kakinya, perasaan tidak disukai ini semakin kuat. Anggi kian bingung sekaligus heran mengapa mama Sera semakin tidak menyukainya?
"Kakak, kenalkan. Anak-anak ini adalah cucuku. Lihat, bukankah mereka sangat mirip dengan Adit?" Kata Mama Adit bangga seolah-olah Aldi dan Aldo adalah darah daging Adit.
Untuk mendukung perkataan istrinya, Papa Adit bahkan mengangkat Aldi dan Aldo ke dalam pelukannya dengan mudah. Wajahnya yang selalu menampilkan ekspresi datar tiba-tiba mencair ketika berhadapan dengan anak-anak yang patuh dan bijaksana.
Istrinya benar, kedua anak ini sama seperti Adit kecil. Pendiam dan patuh, tampak seperti dewasa kecil yang menggemaskan.
"Opa terlihat seperti Papa ketika mengajari kami berhitung." Dengan polosnya Aldi memandangi wajah tua Papa Adit.
Ketika mendengar suara polos Aldi, ekspresi Papa Adit langsung kosong sedangkan istrinya mulai tertawa di samping.
"Anak-anak sangat polos." Mama Adit langsung jatuh cinta dengan kedua anak ini.
Dia suka melihat betapa polosnya mereka. Hah, anak-anak pada dasarnya masih belum mengenal dunia jadi tidak heran.
"Adik, jika aku tidak salah ingat Adit belum pernah menikah lalu kenapa dia tiba-tiba sudah memiliki dua putra. Ditambah lagi anak-anak ini tidak memiliki kemiripan dengan Adit." Kata Mama Sera dengan senyuman yang dibuat-buat.
Mama Sera dengan murah hati mengingatkan, menyentuh titik sensitif semua orang. Anggi langsung menjadi canggung, dia merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Mama Sera. Faktanya dia tidak akan bisa menghapus fakta bahwa dia adalah seorang janda. Namun dia tidak menyesal karena memiliki Aldo dan Aldi adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan kepadanya. Karena anak-anaknya ini dia memiliki motivasi untuk bertahan hidup.
"Nyonya bercanda. Aku akan menikahi Anggi maka tentu saja Aldo dan Aldi akan menjadi putra sah ku. Tidak perduli kami mirip atau tidak, itu tidak akan mengubah fakta bahwa mereka adalah anak-anak ku." Kata Adit acuh tak acuh mengabaikan ekspresi kaku Mama Sera.