My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
137. Anak Haram



"Revan?" Bisiknya menyebut nama orang yang paling ia tidak sukai.


Laki-laki ini memiliki kesan yang sangat buruk di mata Davin. Menurut Davin, dia adalah laki-laki yang tidak tahu malu karena tidak mau bekerja keras tapi menginginkan hasil yang besar. Kehidupan sehari-harinya dihabiskan hanya untuk bersenang-senang, menghambur-hamburkan uang, dan mencicipi setiap wanita yang menurutnya menarik.


Entah itu dari kalangan model ataupun artis, perempuan atau parahnya laki-laki, dia sama sekali tidak ragu menyentuhmu selama orang tersebut menarik untuknya.


Davin sangat jijik dengan tingkah Revan sehingga ia tidak pernah mau terlibat apapun dengan kehidupannya. Tidak disangka meskipun ia menolak terlibat Revan malah mengulurkan pisau tajam ke arahnya, dia mencoba masuk ke dalam kehidupan Davin dengan mencoba membunuh satu-satunya harta yang Davin coba lindungi selama ini.


"Anak haram itu berani memainkan teriknya di belakang ku?" Kata Davin dengan pandangan menghina.


Kedua tangannya mengepal menahan amarah. Garis-garis wajah tampannya mengeras dalam kemarahan dengan kebencian yang mulai mengakar di dalam hatinya.


"Bos, ada berita buruk." Adit menundukkan kepalanya di samping Davin.


Davin mengernyit terganggu,"Ada apa?"


Dengan suara rendah Adit melaporkan berita yang bawahannya kirim beberapa detik yang lalu.


"Tuan Revan ternyata tinggal di kawasan yang sama dengan Anda, bos. Dia juga sempat bertemu dengan Nyonya Rein dan beberapa kali menyulitkannya. Bos, aku pikir Tuan Revan cukup tertarik dengan Nyonya Rein karena tadi ia sempat ingin membawa Nyonya-"


"Brengs*k! Berani-beraninya anak haram itu menyentuh milikku!" Davin sontak berdiri, menendang dengan keras kursi di dekatnya untuk melampiaskan kemarahannya.


Kemarahan Davin semakin membuat pengasuh wanita itu gentar. Dia secara naluri menyeret tubuhnya menjauh dari jangkauan Davin, menyusut ke tempat yang agak gelap sambil berdoa ia menghilang dari pandangan Davin.


"Kamu masih bertanya?" Tanya Davin tidak puas,"Pulang sekarang." Perintahnya seraya melemparkan pistol perak yang ada di tangannya ke belakang.


Adit dengan sigap langsung menangkap pistol itu dan menempatkannya kembali ke dalam saku.


"Dia sudah berani bergerak, awasi semua aktivitasnya selama beberapa tahun ini dan cari tahu apakah kekacauan proyek di negara A kemarin ada hubungannya dengan rubah menjijikkan itu." Davin memberikan perintah kepada Adit sambil mengganti mantelnya dengan mantel yang baru dan dengan warna yang sama.


Ia tidak ingin Rein mencium bau darah di mantelnya.


"Siap, bos." Ucap Adit cepat seraya mengeluarkan catatan dari sakunya yang lain.


"Kamu harus bertindak cepat dan lakukan secara hati-hati. Amankan setiap bukti yang kamu dapat karena aku tidak mau melihatnya membuat kekacauan di dalam hidupku lagi." Davin mengingatkannya dengan serius yang lagi-lagi langsung disanggupi oleh Adit.


Melihat kasus obat tidur Aska dan kecurigaan terhadap proyek di negara A, Davin menebak jika semua Revan tidak melakukannya sendirian mengingat kedudukannya di dalam keluarga Demian tidak ada bedanya dengan sampah yang tidak berguna.


Pasti ada bantuan dan Davin pikir satu-satunya orang yang bisa membantu Revan adalah wanita pelacu* itu. Wanita yang berhasil merangkak masuk ke dalam keluarga Demian dengan menjadi simpanan Kakek. Sekarang setelah Revan diakui oleh Kakek sebagai putranya, wanita itu memiliki posisi yang baik di dalam keluarga Demian. Dia telah menikah dengan Kakek, menjadi penjilat menjijikkan yang selalu merusak pemandangan setiap kali Davin pulang mengunjungi Kakek.


"Lalu bagaimana dengan mantan pengasuh tuan muda pertama, bos?"


Mengingat wajah wanita itu Davin tersenyum dingin,"Buat dia melakukan sesuatu sebagai bentuk hadiah terakhir kepada tuan yang dia layani dan setelah itu, besok pagi aku ingin dia sudah ada di dalam surat kabar."