My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
29. Keanehan Dimas



"Jadi lo udah ketemu sama dia?"


"Hem," Gumam Rein di samping.


Rein pagi-pagi sudah menyiapkan sarapan untuk Dimas dan Tio, bukan bubur suwir ayam lagi karena daging ayamnya sudah Rein habiskan tadi malam untuk membuat makan malam. Jadi dia hanya membuat nasi goreng dengan extra telur mata sapi sebagai nilai plus.


"Apes banget kan hidup, gue." Rutuk Rein belum bisa menghilangkan kekesalannya.


Apalagi saat mengingat wajah datar Davin menolak untuk meminum buatan kopinya, Rein sangat marah tapi tidak bisa protes karena di sana Davin Demian adalah bos yang berkuasa sedangkan dia hanyalah pegawai kasar.


Dimas menatap Rein tidak berdaya.


"Lo gak nangis'kan kemarin waktu ketemu sama dia?"


Rein memutar bola matanya malas.


"Idih, ngapain gue mesti nangis ketemu sama dia. Bukannya nangis yang ada gue malah pengen nampol wajah sok gantengnya. Gue gak selebay itu, Dim." Bantah Rein amit-amit.


Dimas senang, lantas dia mengangkat tangannya untuk mengusap puncak kepala Rein yang ditumbuhi rambut hitam pendek yang sangat lembut. Wangi shampoo yang Rein gunakan bisa Dimas cium dari jarak sedekat ini.


"Dim?" Panggil Rein dengan ekspresi rumit.


"Ya, Rein?"


"Lo kesurupan? Kenapa tiba-tiba lo nyentuh puncak kepala gue?"


Ini bukan Dimas yang dia kenal karena Dimas yang dia kenal tidak akan melakukan gerakan sok intim seperti ini. Yah, meskipun tidak ada yang salah tapi Rein tidak terbiasa dengan sikap Dimas pagi ini.


"Oh," Gerakan tangan Dimas berhenti.


Dia baru menyadari jika tangannya sudah bergerak menyentuh kepala Rein. Dimas ingin menarik tangannya tapi tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan, apa yang salah?


Jika mereka terbiasa melakukan ini maka Rein juga akan terbiasa dan mungkin.. mungkin Dimas suatu hari akan punya kesempatan menyingkirkan Davin di dalam hati sahabatnya itu.


"Davin kemarin ada ngomong sesuatu gak sama lo waktu ketemu?"


"Jangan tanya lagi," Rein menurunkan tangan Dimas dari kepalanya sebelum sibuk kembali membuatkan Tio susu hangat.


"Dia jutek banget waktu ketemu sama gue dan bahkan dia nuduh gue di kota ini karena sengaja ngikutin dia. Cih, dia pikir hidup gue selalu berputar tentang dia doang!" Nadanya kesal, orang-orang akan berpikir jika dia benar-benar sedang kesal saat ini.


Tapi wajah tertunduk itu justru tidak menunjukkan ekspresi kesal. Ada tatapan sendu di kedua bola matanya.


"Jadi lo mau pindah kerja, Rein?"


Dimas berharap Rein mengatakan 'ya'.


"Untuk saat ini gue gak ada pikiran mau pindah kerja karena gue udah terlanjur nyaman di sana terlepas sekarang Davin adalah bos kita. Em, sebenarnya gue akan pindah kerja kalau Davin sendiri yang meminta secara langsung."


Rein tidak boleh egois karena dia punya Tio sekarang untuk dihidupi. Dia tidak bisa bergantung lagi kepada Dimas karena sahabatnya ini punya kehidupan sendiri. Dimas akan pergi pulang kampung sedangkan dia akan tinggal di sini bersama Tio mengarungi kerasnya kehidupan kota.


Dimas tersenyum kecil,"Rein, jangan ulangi kesalahan yang sama lagi. Laki-laki brengsek itu tidak pernah mencintai lo dengan tulus."


"Gue tahu dan gue sudah belajar dari pengalaman hari itu." Rein memaksakan senyum.


Dim, orang cacat kayak aku tidak lagi berani bermimpi mendapatkan cinta yang tulus dari orang-orang normal kayak kamu dan Davin. Aku sangat tahu kekurangan dan kualitas hidup ku di sini, untuk mendapatkan sebuah balasan cinta..aku tahu harga ku tidak semahal itu.


"Ini demi lo dan Tio, Rein." Dimas mengusap puncak kepala Rein sekali lagi sebelum masuk ke ruang tamu untuk menemani Tio bermain.


...🌼🌼🌼...


Rein langsung pergi ke kantor setelah mengantarkan Tio ke rumah penitipan anak. Dia masuk ke dalam ruangan office boy dan office girl, mengambil baju seragam di dalam loker sebelum pergi ke kamar mandi untuk berganti baju.


"Rein, bisa bantu bersihin lantai ruang auditorium, enggak? Soalnya di sana kita kekurangan staf pembersih sementara acara dua jam lagi akan dimulai."


Salah satu staf laki-laki yang tidak diketahui namanya datang menghampiri Rein begitu melihat seragam yang Rein gunakan.


"Oh iya, Pak. Saya bisa bantu di sana kebetulan di sini masih belum ada pekerjaan." Rein tidak mengenal laki-laki ini tapi dia tahu bahwa laki-laki ini adalah atasannya.


"Bagus, ikuti saya." Dia segera memimpin jalan.